Akhir pekan biasanya identik dengan waktu bersantai, namun bagi para pejuang Al-Qur’an menjadi momen yang sangat berbeda. Santri Pesantren Hidayatullah Yogyakarta memilih untuk meninggalkan hiruk-pikuk akhir pekan demi sebuah agenda spiritual yang intensif. Bertajuk “Tasmi’ Al-Qur’an Sekali Duduk,” kegiatan ini diselenggarakan di Masjid Firdaus, Perumahan The Paradise, pada Sabtu hingga Ahad, 21–22 Februari 2026. Agenda ini dirancang khusus untuk menguji ketahanan hafalan, memperkuat kedisiplinan, serta memperdalam ikatan batin para peserta dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an melalui rangkaian halaqah yang ketat namun khidmat.
Memulai Langkah di Kesunyian Malam
Rangkaian kegiatan dimulai pada Sabtu malam pukul 20.00 WIB, ditandai dengan keberangkatan para peserta dari lingkungan pondok menuju lokasi kegiatan di bawah koordinasi Ust. Muhammad Ridlo Zaki Harits. Setibanya di Masjid Firdaus, suasana tenang langsung menyambut para santri saat memasuki sesi pembukaan dan penandatanganan “Kontrak Dauroh Tasmi’” yang dipimpin sekaligus dibina oleh Ust. Ahmad Mujahid Fatahillah, S.H..
Sesi kontrak ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah bentuk janji hati bagi setiap peserta untuk menjaga fokus sepenuhnya dan mendedikasikan waktu mereka hanya bersama Al-Qur’an selama kegiatan berlangsung. Setelah pembekalan singkat tersebut, para peserta diberikan waktu untuk istirahat malam mulai pukul 21.30 WIB guna mempersiapkan fisik menghadapi jadwal yang padat di hari berikutnya.
Intensitas Ibadah dan Halaqah Estafet
Spirit dauroh benar-benar diuji saat fajar belum menyingsing. Tepat pukul 03.00 WIB pada hari Ahad, seluruh peserta sudah terbangun untuk melaksanakan Sholat Tahajjud, sahur, dan Sholat Shubuh berjamaah di Masjid Firdaus. Aktivitas dini hari ini menjadi fondasi spiritual penting sebelum memasuki inti acara, yakni lima sesi halaqah tasmi’ yang dilakukan secara maraton.
Sesi pertama dimulai pada pukul 05.00 hingga 07.30 WIB di bawah bimbingan Ust. Muhammad Ridlo Zaki Harits. Dalam sesi ini, fokus utama adalah menjaga ritme bacaan di awal hari. Setelah jeda satu jam untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, kegiatan dilanjutkan dengan Halaqah (2) bersama Ust. Abdullah Ulil Abshor, S.H. pada pukul 08.30 hingga 10.30 WIB.
Manajemen waktu menjadi kunci utama dalam dauroh ini. Di antara sesi-sesi panjang, panitia tetap memberikan ruang istirahat singkat sebelum melanjutkan ke Halaqah (3) pada pukul 11.00 WIB yang dipandu oleh Ust. Wahyu Rihaldi, S.H.. Pasca-istirahat Dhuhur, stamina para santri kembali diasah melalui Halaqah (4) yang berlangsung selama dua jam hingga menjelang waktu Ashar.
Evaluasi dan Penutupan yang Reflektif
Memasuki sore hari pukul 15.30 WIB, agenda berlanjut pada sesi evaluasi dan penutupan yang dipimpin kembali oleh Ust. Ahmad Mujahid Fatahillah. Dalam sesi ini, para pembimbing memberikan apresiasi sekaligus catatan penting terkait kualitas hafalan dan ketahanan mental para santri. Evaluasi ini menjadi momen krusial untuk mengukur sejauh mana efektivitas metode “sekali duduk” dalam memperkuat hafalan jangka panjang.
Setelah melewati proses panjang yang melelahkan namun memuaskan, para peserta menjalani waktu bersih diri dan lingkungan sebelum bersama-sama menikmati momen buka puasa saat adzan Maghrib berkumandang. Suasana hangat dan kekeluargaan tampak jelas menyelimuti pelataran Masjid Firdaus saat para santri melepas dahaga dan lapar setelah seharian berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Penutup: Membawa Pulang Cahaya Hafalan
Kegiatan tidak berhenti begitu saja setelah berbuka. Sebagai penutup rangkaian teknis, para santri mengikuti Halaqah (5) khusus muroja’ah (mengulang hafalan) bersama Ust. Abdullah Ulil Abshor pada pukul 18.30 WIB untuk memastikan apa yang telah dibaca seharian tetap melekat kuat. Seluruh rangkaian acara resmi berakhir setelah sesi Ishoma, dan para peserta bersiap untuk kembali ke kediaman masing-masing pada pukul 20.30 WIB.
Dauroh Tasmi’ Al-Qur’an Sekali Duduk ini menegaskan bahwa menjadi seorang hafidz bukan hanya soal kemampuan menghafal, tetapi juga tentang kedisiplinan fisik dan keteguhan batin. Para santri pulang tidak hanya dengan membawa keletihan, melainkan dengan jiwa yang lebih tenang dan cahaya hafalan yang semakin terjaga, siap menyongsong hari-hari penuh berkah ke depan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman utama.