Screening Kesehatan dan Edukasi TB bagi Santri
Yogyakarta — Pesantren Hidayatullah Yogyakarta terus mendorong kesadaran hidup sehat di lingkungan pesantren. Pada Rabu, 9 September 2026, seluruh santri Madrasah Aliyah Hidayatullah Yogyakarta bersama sejumlah asatidz mengikuti kegiatan screening kesehatan dan sosialisasi tuberkulosis (TB) yang berlangsung di Masjid Markazul Islam, Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi dan deteksi dini kesehatan, khususnya untuk meningkatkan pemahaman warga pesantren mengenai bahaya tuberkulosis, gejala yang perlu diwaspadai, cara penularan, serta langkah pencegahannya.
Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam pemerataan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), termasuk pemeriksaan terkait tuberkulosis.
Diawali dengan Screening Kesehatan
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pemeriksaan kesehatan atau screening yang dilakukan secara bergilir. Tim tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan dasar sekaligus wawancara singkat mengenai riwayat kesehatan, terutama yang berkaitan dengan kondisi pernapasan para santri.
Langkah deteksi dini menjadi bagian penting dalam pengendalian TB. Pemeriksaan dan penanganan lebih awal dapat membantu menemukan orang yang memiliki gejala atau berisiko sehingga dapat segera memperoleh pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan. WHO juga merekomendasikan pemeriksaan diagnostik cepat sebagai pemeriksaan awal bagi orang yang menunjukkan gejala TB. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Bagi lingkungan pesantren yang dihuni dan beraktivitas bersama dalam satu komunitas, kesadaran mengenai kesehatan pernapasan menjadi hal yang penting. Kebiasaan mengenali gejala sejak awal dan segera mencari pertolongan medis dapat membantu mencegah keterlambatan penanganan.
Mengenal Tuberkulosis Lebih Dekat
Setelah screening selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan mengenai tuberkulosis yang disampaikan oleh Bagus Hadi Sulistyo, S.K.M., dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Dalam pemaparannya, para santri mendapatkan penjelasan mengenai apa itu tuberkulosis, bagaimana penyakit tersebut menular, gejala yang perlu diperhatikan, hingga langkah pencegahannya.
Secara medis, TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru dan dapat menular melalui udara ketika penderita TB paru batuk, bersin, berbicara, atau mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Beberapa gejala TB yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, kelelahan, penurunan berat badan, keringat malam, dan pada sebagian kasus nyeri dada atau batuk berdarah. Gejala dapat berkembang secara perlahan sehingga pemeriksaan ketika muncul tanda-tanda yang mencurigakan menjadi penting. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Pemateri juga menjelaskan bahwa kondisi daya tahan tubuh turut berpengaruh terhadap risiko berkembangnya infeksi menjadi penyakit TB. Kondisi seperti kekurangan gizi dan sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami TB aktif. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Menumbuhkan Kesadaran Sehat di Pesantren
Selain mengenali penyakit, para santri juga diajak memahami bahwa pencegahan merupakan tanggung jawab bersama. Perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi dan kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mencurigakan menjadi bagian dari upaya memutus penularan.
Kegiatan juga berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Salah satu santri, Ananda Arkan Imanulhaq Yuliansyah, santri kelas XII MIPA, bertanya mengenai kemungkinan seseorang terindikasi TB ketika baru mengalami salah satu gejala.
“Kalau TBC, jika salah satu gejala muncul apakah sudah dapat terindikasi atau belum?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Bagus Hadi Sulistyo menjelaskan bahwa satu gejala belum cukup untuk memastikan seseorang menderita TB. Namun, jika terdapat gejala yang mengarah, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untuk memastikan kondisi dan mendapatkan penanganan yang tepat.
“Bisa saja. Segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan dan menanggulangi jika memang terpapar.”
Penjelasan tersebut menjadi pelajaran penting bagi para santri agar tidak melakukan diagnosis sendiri. Gejala seperti batuk berkepanjangan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, sehingga kepastian mengenai TB membutuhkan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
Dari Screening Menjadi Kebiasaan Hidup Sehat
Bagi santri, kegiatan tersebut bukan hanya tentang pemeriksaan kesehatan pada satu hari. Lebih dari itu, kegiatan menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di pesantren.
Hal tersebut turut dirasakan oleh Ananda Fahri Al Bukhari. Ia menyampaikan kesan sederhana setelah mengikuti kegiatan.
“Tentunya agak sakit ya karena jarum pengambilan darah. Snack-nya enak.”
Di balik komentar ringan tersebut, Fahri juga mendapatkan wawasan baru mengenai TB. Ia mengaku baru mengetahui lebih jauh bahwa TB merupakan penyakit yang utamanya menyerang paru-paru.
Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat dikemas dekat dengan kehidupan santri. Pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan kemudian diharapkan menjadi kebiasaan untuk lebih memperhatikan kondisi tubuh dan lingkungan sekitar.
Menjaga Pesantren Tetap Sehat
Pesantren Hidayatullah Yogyakarta berharap kegiatan screening dan edukasi kesehatan seperti ini dapat terus mendukung terbentuknya budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan pesantren.
Pencegahan TB membutuhkan perhatian bersama. Mengenali gejala, tidak mengabaikan kondisi kesehatan, melakukan pemeriksaan ketika diperlukan, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi risiko penularan. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Dengan bekal pengetahuan yang tepat, para santri diharapkan mampu menjadi bagian dari perubahan positif di lingkungan pesantren. Sehat bukan hanya tentang terbebas dari penyakit, tetapi juga tentang kesiapan menjalani proses belajar, beribadah, dan mengembangkan potensi secara optimal.
Melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan perhatian bersama seluruh warga pesantren, Pesantren Hidayatullah Yogyakarta terus berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan mendukung tumbuhnya generasi yang berilmu serta berkarakter.