Sleman — Sebanyak 10 santri Pesantren Hidayatullah Yogyakarta turut ambil bagian dalam Perkemahan Pramuka Madrasah (Perkamuda) MTs DIY Tahun 2026 yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Bumi Perkemahan Rama Shinta dan kawasan Kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersebut menjadi ruang belajar bagi santri untuk mengasah keterampilan kepramukaan sekaligus membangun kemandirian, kekompakan, dan kepedulian.
Perkamuda MTs DIY 2026 mengusung tema “Pramuka Madrasah Tangguh dengan Sentuhan KBC (Kurikulum Berbasis Cinta)”. Secara keseluruhan, kegiatan ini diikuti 780 anggota Pramuka dari 56 madrasah tsanawiyah negeri dan swasta se-DIY. Selama tiga hari, peserta mengikuti beragam aktivitas yang memadukan kecakapan kepramukaan, kreativitas, kerja sama, kepedulian lingkungan, dan pendidikan karakter.
Belajar Kepramukaan Lewat Pengalaman Langsung
Bagi para santri Hidayatullah, mengikuti Perkamuda bukan sekadar berpindah tempat belajar dari lingkungan pesantren ke bumi perkemahan. Berbagai aktivitas selama kegiatan menjadi kesempatan untuk belajar langsung melalui pengalaman bersama peserta dari madrasah lain.
Rangkaian Perkamuda diisi dengan kegiatan yang menuntut keterampilan, kreativitas, dan kerja sama, seperti wide game, penjelajahan, mitigasi bencana, pionering aplikatif, paduan suara, pentas budaya, pengelolaan sampah, hingga berbagai giat prestasi antarmadrasah dan antarregu. Kegiatan juga dilengkapi dengan aksi sosial, gerakan cinta Al-Qur’an, penghijauan, dan sejumlah program penguatan wawasan kebangsaan.
Di tengah beragam aktivitas tersebut, santri belajar bahwa kegiatan Pramuka tidak berhenti pada keterampilan baris-berbaris atau kegiatan perkemahan. Ada proses membangun keberanian, belajar mengambil peran dalam kelompok, menyelesaikan persoalan bersama, serta beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.
Menambah Teman, Menambah Wawasan
Pengalaman berinteraksi dengan peserta dari berbagai madrasah menjadi salah satu hal yang paling berkesan bagi santri Hidayatullah.
Ananda Fadlian Harits Ihsanudin, santri kelas IX, mengaku bersyukur bisa mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, Perkamuda memberikan pengalaman baru yang tidak hanya menambah pertemanan, tetapi juga memperluas wawasan mengenai kegiatan kepramukaan.
“Bersyukur dapat manfaat tambah teman, mendapat insight baru tentang kepramukaan khususnya dari pramuka sekolah lain.”
Pertemuan dengan peserta dari berbagai madrasah memberi kesempatan kepada santri untuk melihat cara belajar dan bekerja sama yang berbeda. Dari sana, muncul pengalaman baru yang dapat dibawa pulang dan diterapkan di lingkungan sekolah maupun pesantren.
Tangguh dalam Pengalaman, Siap Memperbaiki Diri
Perkemahan juga menjadi ruang evaluasi bagi santri. Tidak semua hal harus langsung berjalan sempurna. Justru dari pengalaman tersebut, santri belajar mengenali kekurangan dan menentukan hal yang perlu diperbaiki.
Ananda Ahzami Hisyam Abdurrahman, yang merupakan salah satu santri senior sekaligus pendamping, menilai masih ada hal yang perlu dipersiapkan lebih baik, khususnya dalam penguasaan materi kepramukaan.
“Harus lebih banyak berlatih yang serius, khususnya di materi tentang kepramukaan.”
Evaluasi tersebut menjadi catatan penting bagi pembinaan ke depan. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti Perkamuda tidak hanya dilihat dari hasil yang diperoleh selama perlombaan, tetapi juga dari kemampuan santri mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.
Pramuka dan Kurikulum Berbasis Cinta
Tema Perkamuda MTs DIY 2026 menempatkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai bagian dari pengalaman pendidikan peserta. Menurut Kanwil Kemenag DIY, pendekatan tersebut diarahkan untuk menanamkan nilai cinta kepada Allah, sesama manusia, lingkungan, dan tanah air melalui pengalaman nyata.
Nilai tersebut terasa relevan dengan kehidupan santri di pesantren. Dalam kegiatan bersama, mereka belajar memahami teman, berbagi tugas, menjaga lingkungan, mengikuti aturan, serta menyelesaikan berbagai tantangan secara bersama-sama.
Kegiatan Pramuka akhirnya menjadi salah satu ruang pendidikan karakter yang konkret. Santri belajar bahwa menjadi pribadi tangguh tidak berarti harus berjalan sendiri. Tangguh juga berarti mampu bekerja sama, peduli terhadap orang lain, dan berani mengakui hal yang masih perlu diperbaiki.
Menjadi Bagian dari Pendidikan yang Utuh
Keikutsertaan 10 santri Pesantren Hidayatullah Yogyakarta dalam Perkamuda MTs DIY 2026 menjadi bagian dari proses pembinaan yang lebih luas. Pendidikan di pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman organisasi, kegiatan sosial, olahraga, kepanduan, dan berbagai aktivitas kebersamaan.
Bagi santri, pengalaman selama tiga hari tersebut diharapkan menjadi bekal untuk tumbuh sebagai pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, disiplin, dan siap menghadapi tantangan. Pengalaman bertemu teman baru juga membuka wawasan bahwa setiap lingkungan memiliki cara belajar dan kekuatan yang dapat dipelajari.
Pada akhirnya, Perkamuda bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bagi santri Hidayatullah, kegiatan ini menjadi perjalanan belajar untuk menjadi lebih tangguh, lebih terbuka terhadap pengalaman baru, dan lebih siap bekerja sama dengan sesama.
Semoga pengalaman dari Perkamuda MTs DIY 2026 menjadi bekal berharga bagi para santri untuk terus berkembang dan membawa nilai-nilai baik yang mereka dapatkan kembali ke pesantren, madrasah, keluarga, dan masyarakat.