Yogyakarta – Komitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan terus diperkuat oleh Pesantren Hidayatullah Yogyakarta. Hal tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan jajaran pimpinan pesantren dalam Workshop Zero Bullying, yang diikuti oleh mudir pesantren, kepala madrasah, kepala pengasuh, serta Wakil Kepala Bidang Kemuridan.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas para pemimpin lembaga pendidikan dalam membangun budaya pengasuhan yang sehat. Bukan sekadar membahas penanganan kasus, workshop lebih banyak mengajak peserta menyamakan cara pandang bahwa pencegahan bullying harus dimulai dari perubahan pola pikir para pendidik dan pengasuh.
Materi workshop menekankan bahwa lembaga pendidikan tidak cukup hanya memiliki aturan yang baik, tetapi juga harus menghadirkan lingkungan yang membuat setiap santri merasa aman, didengar, dan dihargai. Salah satu pesan utama yang diangkat ialah perubahan paradigma dari sekadar “penjaga asrama” menjadi “orang tua dan pendidik” yang membangun kedekatan emosional dengan santri.
Bullying Dicegah dari Akar Permasalahan
Dalam sesi materi, peserta diajak memahami bahwa bullying bukan muncul begitu saja karena kenakalan santri. Berbagai faktor seperti minimnya pengawasan yang berkualitas, budaya senioritas, hingga kurangnya perhatian emosional kepada santri menjadi akar persoalan yang perlu diselesaikan bersama.
Workshop juga mengingatkan bahwa perundungan merupakan bagian dari tindak pidana perlindungan anak. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa kasus bullying di Indonesia masih mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga seluruh satuan pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membangun sistem pencegahan yang efektif.
Selain memahami aspek regulasi, peserta diajak membangun budaya pengasuhan yang mengedepankan empati, komunikasi, keteladanan, dan kedisiplinan positif dibandingkan pendekatan yang hanya berorientasi pada hukuman.
Menyamakan Mindset dalam Mewujudkan Zero Bullying
Wakil Kepala Bidang Kemuridan Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, Ust. Ilyas Nadhif, S.Pd., yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan bahwa manfaat terbesar workshop bukan semata memperoleh materi baru, melainkan menyamakan paradigma seluruh peserta dalam mengelola lembaga pendidikan yang benar-benar berkomitmen terhadap budaya Zero Bullying.
“Kegiatan ini berfokus untuk menyamakan mindset dalam mengelola lembaga pendidikan zero bullying.”
Menurut beliau, secara umum konsep yang disampaikan sebenarnya telah lama menjadi bagian dari proses pembinaan di Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.
“Materi yang disampaikan sebenarnya sudah sering kami pelajari, kami coba terapkan, dan kami konsisten menggerakkan budaya zero bullying di lingkungan pesantren.”
Meski demikian, workshop tetap memberikan berbagai wawasan baru yang lahir dari pengalaman nyata para peserta dari berbagai lembaga pendidikan.
“Insight yang kami dapatkan di antaranya adalah kesempatan bertukar pikiran dan berbagi pengalaman mengenai cara menanggulangi bullying, bagaimana mengatasinya apabila sudah terlanjur terjadi, hingga langkah-langkah mencegah dampak buruk yang mungkin muncul setelahnya.”
Membangun Budaya Mengasuh, Bukan Sekadar Mengatur
Salah satu poin yang paling ditekankan selama workshop adalah pentingnya membangun hubungan yang dekat antara guru dan santri. Seorang pendidik diharapkan hadir bukan hanya ketika terjadi pelanggaran, tetapi menjadi sosok yang membersamai kehidupan santri sehari-hari, mengenal karakter mereka, serta menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi cerita.
Materi juga mengajak peserta untuk mengedepankan keteladanan, empati, dan komunikasi yang hangat sebagai fondasi pembentukan karakter. Disiplin yang lahir dari rasa hormat dan kedekatan diyakini lebih efektif dibandingkan disiplin yang dibangun atas dasar rasa takut.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan sistem pembinaan yang selama ini diterapkan di Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, di mana guru dan musyrif tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang tua kedua yang membersamai tumbuh kembang santri.
Perlu Penguatan Berkelanjutan
Di akhir kegiatan, Ust. Ilyas berharap pembahasan mengenai pencegahan bullying tidak berhenti pada satu workshop saja.
“Saya rasa perlu diadakan kegiatan lebih lanjut yang memang berfokus pada tema ini. Menurut saya, kegiatan yang dilakukan kemarin masih sangat terlalu singkat.”
Menurutnya, pelatihan lanjutan akan memberikan ruang yang lebih luas untuk membahas studi kasus, simulasi penyelesaian konflik, hingga penyusunan langkah preventif yang lebih aplikatif di lingkungan pesantren.
Harapan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pesantren Hidayatullah Yogyakarta untuk terus meningkatkan kualitas pengasuhan dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta penuh kasih sayang. Sebab, pendidikan yang berkualitas bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan lembaga menghadirkan ruang belajar yang membuat setiap santri merasa dihargai, terlindungi, dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.