Yogyakarta — Perjalanan Pesantren Hidayatullah Yogyakarta dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab (OBA) ke-9 Tahun 2026 kembali menghasilkan capaian membanggakan. Setelah sebelumnya menorehkan prestasi di tingkat Kabupaten Sleman, para santri dan guru MTs–MA Hidayatullah Yogyakarta kembali menunjukkan kemampuan mereka pada OBA 9 Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pada ajang yang berlangsung Sabtu, 29 Agustus 2026, tiga perwakilan Hidayatullah Yogyakarta berhasil meraih penghargaan. Dari jenjang MTs, Muhammad Izzan Rifqi meraih Juara Harapan I Kategori 8, sementara Ustadz Auda Dhiyauddin Zaki, Lc. berhasil menjadi Juara I Kategori Guru Pendamping. Dari jenjang MA, Ustadz Ahmad Azzam Muttaqiin, Lc. meraih Juara Harapan III Kategori Guru Pendamping.
Capaian tersebut kembali memperlihatkan bahwa pembelajaran Bahasa Arab di lingkungan Hidayatullah tidak berhenti pada proses belajar di kelas. Ada budaya belajar, latihan, dan keberanian untuk menguji kemampuan dalam kompetisi yang terus dibangun bersama.
Dari Sleman Menuju Tingkat DIY
Keberhasilan ini menjadi kelanjutan dari capaian pada babak sebelumnya. Pada OBA 9 Tingkat Kabupaten Sleman, Muhammad Izzan Rifqi sebelumnya tercatat meraih Juara III, sedangkan Auda Dhiyauddin Zaki, Lc. menjadi Juara I kategori guru dan Ahmad Azzam Muttaqiin, Lc. meraih Juara II.
Capaian tersebut telah kami ulas dalam artikel sebelumnya:
Guru MTs dan MA Hidayatullah Yogyakarta Raih Prestasi di OBA 9 Sleman 2026
Sementara itu, perjalanan prestasi para santri pada tingkat kabupaten juga dapat dibaca melalui artikel:
Santri MTs dan MA Hidayatullah Yogyakarta Raih Juara OBA 9 Tingkat Kabupaten Sleman 2026
Rangkaian capaian tersebut menunjukkan perkembangan yang menarik. Dari tingkat kabupaten, para peserta Hidayatullah kembali bersaing di level provinsi dengan pengalaman dan tantangan yang lebih luas.
OBA 9, Ruang Mengasah Bahasa Al-Qur’an
Olimpiade Bahasa Arab (OBA) merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Arab se-Indonesia. OBA menjadi ruang bagi siswa dan guru untuk menguji kemampuan Bahasa Arab sekaligus membangun budaya kompetisi yang sehat.
Pada tingkat Provinsi DIY, pelaksanaan OBA 9 berlangsung di MAN 2 Yogyakarta pada 29 Agustus 2026. Berdasarkan data penyelenggaraan, kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai madrasah di DIY dan menjadi tahapan menuju seleksi tingkat nasional.
Bagi Hidayatullah Yogyakarta, keikutsertaan dalam ajang ini memiliki makna lebih luas. Bahasa Arab dipandang sebagai bagian penting dari pendidikan keislaman karena menjadi bahasa Al-Qur’an sekaligus menjadi pintu untuk memahami berbagai khazanah ilmu Islam.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan capaian sebelumnya. Pada 2025, santri MTs Hidayatullah Yogyakarta Luqman Matahari Sasongko berhasil meraih Juara I OBA tingkat DIY. Kisah tersebut pernah kami angkat dalam artikel:
Cinta Bahasa Arab, Raih Prestasi: Hidayatullah Jogja Juara 1 OBA DIY
Tiga Capaian, Satu Semangat Belajar
Prestasi Muhammad Izzan Rifqi menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan OBA tahun ini. Setelah melewati kompetisi di tingkat Kabupaten Sleman, santri kelas VIII tersebut kembali membawa nama MTs Hidayatullah Yogyakarta hingga tingkat provinsi.
Meski kali ini meraih Juara Harapan I, pengalaman tersebut tetap menjadi modal penting untuk berkembang. Kompetisi menjadi ruang bagi santri untuk mengukur kemampuan sekaligus mengetahui bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.
Sementara itu, capaian Juara I Guru Pendamping yang diraih Ustadz Auda Dhiyauddin Zaki, Lc. menjadi tambahan kebanggaan bagi pesantren. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa guru juga terus belajar dan mengembangkan kompetensi, sehingga budaya belajar tidak hanya dituntut dari santri.
Di jenjang MA, Ustadz Ahmad Azzam Muttaqiin, Lc. yang meraih Juara Harapan III juga menjadi bagian dari semangat yang sama. Ketiga capaian ini menegaskan bahwa proses pendidikan berjalan ketika guru dan santri sama-sama memiliki kemauan untuk tumbuh.
Belajar, Berkompetisi, dan Terus Bertumbuh
Prestasi dalam OBA 9 bukan sekadar deretan nama dan gelar juara. Di baliknya terdapat latihan, pembiasaan, kesungguhan, dan keberanian untuk tampil di tengah peserta dari berbagai madrasah.
Bagi santri, kompetisi membantu membangun kepercayaan diri. Bagi guru, kompetisi menjadi ruang untuk terus memperbarui wawasan dan kemampuan. Sedangkan bagi pesantren, prestasi menjadi salah satu indikator bahwa budaya belajar yang dibangun mulai menunjukkan hasil.
Semangat tersebut penting untuk terus dijaga agar Bahasa Arab tidak diposisikan hanya sebagai mata pelajaran, tetapi menjadi bagian dari keseharian santri dalam menuntut ilmu dan mendalami ajaran Islam.
Menjadi Motivasi untuk Prestasi Berikutnya
Pesantren Hidayatullah Yogyakarta menyampaikan apresiasi kepada seluruh santri dan guru yang telah berjuang dalam OBA 9 Tingkat DIY. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para pembimbing, keluarga, serta seluruh pihak yang telah memberikan doa dan dukungan selama proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.
Capaian ini diharapkan menjadi pemantik bagi santri lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan mengikuti berbagai ajang akademik. Prestasi tidak harus selalu dimulai dari target menjadi juara. Terkadang, langkah pertama adalah keberanian untuk belajar lebih serius dan mencoba.
Semoga capaian dalam OBA 9 Tingkat DIY 2026 menjadi bagian dari perjalanan panjang Pesantren Hidayatullah Yogyakarta dalam membangun generasi yang mencintai ilmu, memahami Bahasa Al-Qur’an, dan memiliki semangat fastabiqul khairat dalam kebaikan.
Pada akhirnya, setiap prestasi adalah bagian dari proses pendidikan. Dari ruang kelas, halaqah, latihan, hingga panggung kompetisi, para santri dan guru terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.