Suasana apel pagi di Pesantren Hidayatullah Yogyakarta pada Jumat (24/4/2026) terasa berbeda dari biasanya. Barisan santri tetap berdiri rapi di lapangan dengan penuh khidmat, namun kali ini nuansa yang hadir tidak hanya tentang rutinitas, melainkan juga kepedulian yang mendalam. Jika biasanya kegiatan Jumat pagi diisi dengan aksi “Bukti Cinta Palestina”, pada kesempatan ini seluruh santri dan asatidz bersama-sama mengalihkan fokus pada aksi kemanusiaan bertajuk “Dana Peduli Hidayatullah Mamuju”.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Aksi tersebut menjadi bentuk respon cepat atas musibah kebakaran yang terjadi di Pesantren Hidayatullah Mamuju pada 19 April 2026. Dalam insiden tersebut, tidak ada korban jiwa, namun sejumlah bangunan penting seperti ruang kelas dan fasilitas pendidikan dilaporkan hangus terbakar. Dugaan sementara menyebutkan bahwa kebakaran disebabkan oleh korsleting listrik. Peristiwa ini tentu meninggalkan duka dan tantangan besar bagi aktivitas pendidikan di sana.
Di tengah suasana apel yang penuh keheningan, para santri tampak menyimak dengan serius setiap arahan yang disampaikan. Semangat kebersamaan begitu terasa—tidak sekadar berdiri dalam barisan, tetapi juga hadir dalam satu rasa, satu kepedulian. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya berbicara tentang ilmu, tetapi juga tentang kepekaan hati.
Ustadz Rifki, selaku Kepala Madrasah, dalam arahannya mengajak seluruh santri untuk merenungi makna musibah dan pentingnya solidaritas.
“Bukankah Jogja pernah mengalami musibah yang membuat kita sadar bahwa musibah itu datang tanpa pertanda,” ujarnya, mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki potensi ujian yang sama.
Beliau juga menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah dalam merespon musibah yang dialami sesama.
“Seluruh umat muslim, terkhususnya yang terjaring dalam Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah adalah saudara kita. Maka setidaknya kita memberikan harta terbaik untuk meringankan beban musibah yang dialami saudara kita di Mamuju,” lanjutnya.
Aksi penggalangan dana yang dilakukan dalam apel pagi tersebut menjadi bukti nyata bahwa nilai kepedulian tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan secara langsung. Para santri dengan penuh keikhlasan menyisihkan sebagian rezekinya, menunjukkan bahwa empati bisa tumbuh sejak dini ketika ditanamkan dalam lingkungan yang tepat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari proses pembentukan karakter santri Hidayatullah—membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan rasa tanggung jawab terhadap umat. Nilai ukhuwah, empati, dan solidaritas menjadi ruh yang terus dihidupkan dalam setiap aktivitas pendidikan.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, apel pagi kali ini menghadirkan pelajaran berharga: bahwa musibah di satu tempat adalah panggilan kepedulian bagi yang lain. Bahwa tangan-tangan kecil yang terulur dengan ikhlas bisa menjadi bagian dari solusi besar.
Dengan semangat kebersamaan yang terbangun, diharapkan bantuan yang terkumpul dapat meringankan beban saudara-saudara di Mamuju. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil dalam kebaikan, jika dilakukan bersama, akan menghadirkan dampak yang besar dan bermakna.