Agenda Susur Sungai
  • Posted: 27/05/2015
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Agenda Susur Sungai

Balong - Pagi itu, ketika embun masih menggelayuti dedaunan dan mentari muncul malu-malu di ufuk timur, hampir seluruh santri MTs dan MA Hidayatullah Yogyakarta sudah berbaris rapi di halaman sekolah. Mereka tengah mempersiapkan diri mengikuti salah satu agenda yang telah dirancang oleh pengurus Pandu Hidayatullah. Agenda hari itu adalah Susur Sungai, tepat ketika para santri kelas IX (kelas 3 MTs) sedang melaksanakan Ujian Nasional.

Setelah menerima beberapa pengarahan serta pembagian kelompok, berangkatlah para santri satu demi satu kelompok mengikuti rute susur sungai yang telah ditentukan.

Pada awal perjalanan, para santri belum merasakan tantangan yang berarti mengingat medan masih relatif mudah dilalui. Namun, setelah sekitar satu jam perjalanan, mereka mulai menemui tantangan yang semakin berat. Mereka mulai merasakan kesulitan dalam mencari pijakan kaki di sungai. Meski demikian, tantangan itu tidak menyurutkan semangat mereka. Mereka justru semakin bersemangat untuk bahu-membahu saling menolong untuk melewati jalur yang semakin menantang. Selain melalui bebatuan yang licin berlumut tersebut, para santri juga harus melawan dinginnya air yang sejak awal sudah membasahi celana, baju, dan tentu saja sepatu mereka. Tak henti-hentinya mereka bercanda dan tertawa. Mereka tampak sangat riang mengikuti acara tersebut, meski pakaian mereka basah kuyup dan sepatu mereka kemasukan pasir dan lumpur.

Setelah melewati jalur yang cukup sulit tersebut, panitia memutuskan untuk menghentikan kelompok terdepan untuk memperpendek jarak dengan kelompok yang paling belakang. Di tempat istirahat yang sejuk dan asri tersebut, para santri meneriakkan yel-yel dan menyenandungkan nasyid-nasyid penambah semangat. Sebagian di antara mereka saling memijat untuk mengurangi rasa pegal yang menggelayuti kaki-kaki mereka.

Setelah beberapa menit beristirahat, kelompok terdepan mulai melanjutkan perjalanan. Tak lama berjalan, mereka menemukan jalur yang sangat menantang. Ruas sungai menyempit dan tak ada jalur yang bisa dilewati kecuali ruas yang sangat sempit dan curam itu. Selain sempit dan curam, kedalaman air juga merambat hingga sampai ke pinggang. Bebatuan licin berlumut menambah kesulitan untuk menerobos jalur tersebut. Akhirnya, mereka bisa melalui jalur sulit tersebut setelah bahu-membahu dan membuktikan kekompakan kelompoknya.

Setelah melalui jalur yang sulit tersebut, mereka keluar dari sungai menuju jembatan. Jembatan itulah pos terakhir sebelum kembali ke pondok pesantren. Di pos tersebut para santri diberi waktu sekitar 30 menit untuk menikmati makanan kecil yang telah disediakan. Setelah itu, mereka kembali menuju pondok. Dalam perjalanan menuju ke pondok itu, para santri sudah tidak mempedulikan kelompoknya. Mereka semua bergegas menuju pondok agar bisa segera membersihkan badan dan berganti pakaian. Hanya dalam hitungan menit, seluruh santri sudah kembali di pondok pesantren. (Hafizh Mizan)

 


Bagikan Halaman ini