Sejarah Pasukan Yang Tak Kenal Takut
  • Posted: 25/04/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Sejarah Pasukan Yang Tak Kenal Takut

Yarmuk, demikianlah nama daerah tersebut, yang menjadi saksi bisu salah satu peperangan paling menentukan di dunia. Bizantium yang merupakan kekaisaran terbesar pada zamannya takluk di bawah keberanian kaum Mulim. Imperium super power dunia, dengan persenjataan legkap dan tentara yang amat banyak, tersungkur di bawah keperkasaan kaum muslimin. Tidak ada yang patut kita puji selain ke-Maha Kuasa-an Allah.

Ahli sejarah kemiliteran abad pertengahan asal Inggris, David Nicolle, dalam buku Yarmuk 636 A.D.: The Muslim Conquest of Syria, menjelaskan bahwa perang Yarmuk adalah turning point (titik balik) sejarah. Seandainya Bizantium yang menang, maka dominasi dan pengaruh peradaban Yunani-Romawi akan terus berlanjut di wilayah Timur Tengah, dan antara kontak bangsa Eropa dengan bangsa Asia Timur—yang dibuka oleh peradaban Islam—akan tertunda.

Statistik

Perang ini terjadi di dataran Yarmuk, tepatnya sebelah timur laut Galilee, 65 km dari dataran tinggi Golan.

Perang Yarmuk menunjukkan bahwa jumlah pasukan tidak menjamin kemenangan dalam sebuah pertempuran. Jumlah pasukan Islam saat itu sekitar 24.000 – 40.000 orang, sementara pasukan Bizantium berjumlah sekitar 100.000 – 400.000 orang, yang terdiri dari gabungan tentara Bizantium, orang-orang Armenia, Slavia, Franks, Georgia, dan Kristen Arab Ghassan. Akan tetapi berkat strategi perang yang brilian, perjuangan yang gigih, serta pertolongan dari Allah SWT, pasukan Islam yang berjumlah jauh lebih sedikit itu mampu memporak-porandakan pasukan Bizantium.

Perkiraan modern menyebutkan bahwa pasukan Bizantium yang binasa mencapai 45%, sementara pasukan Islam hanya kehilangan 4000 mujahidin saja. Dengan kemenangan dalam perang ini, wilayah Palestina, Suriah dan Mesopotamia akhirnya dikuasai oleh Kekhalifahan Islam, yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh dunia

Kronologi

Persiapan perang Yarmuk sebenarnya sudah dimulai sejak akhir tahun 635 M. Waktu itu, kekuatan Bizantium sudah mulai terbentuk di Antiokia dan daerah utara Suriah. Di saat yang bersamaan, pasukan muslimin sudah terbagi menjadi empat satuan, masing-masing dipimpin oleh Amr bin Ash, Syurahbil, Yazid, dan Abu Ubaidah. Kesemuanya bertempat di sepanjang selatan daerah Syam. Palestina, Yordania, Caesarea (sekarang Tel Aviv), dan Emessa (Hims).

Pertengahan tahun 636 M, barulah parade tempur Bizantium bergerak dari Antiokia. Pergerakan mereka tercium oleh intelijen muslimin yang tersebar di daratan Suriah. Melihat pasukan musuh yang begitu banyak, Khalid menyatukan keempat satuan pasukan muslimin, meminta Abu Ubaidah mundur dari Emessa yang paling dekat dengan pergerakan lawan.

Juli, tahun 636 M, situasi mulai kritis, Abu Ubaidah saat itu cemas memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa pasukan muslimin. Tentu saja karena pasukan musuh yang begitu besar. Dewan perang kaum muslimin yang berisi para panglima perang, barulah memutuskan untuk menetap di daratan Yarmuk. Alasannya, tempat itu berupa dataran, sehingga memudahkan mobilisasi kavaleri dan pengiriman bantuan dari khalifah.

Di dataran Yarmuk, Abu Ubaidah menetapkan garis markas pada bagian timur Yarmuk, dan di sinilah Abu Ubaidah bergabung bersama pasukan Amr bin Ash, Syurahbil, dan Yazid. Selang beberapa waktu, pasukan Bizantium dibawah komando Jabalah juga mendekat ke sebelah utara Yarmuk kemudian membuat markas di sana.

Heraklius memerintahkan Mahan, salah seorang komandan pasukan Bizantin, supaya tidak menyerang terlebih dahulu bila belum dilakukan negoisasi dan membuat kesepakatan damai. Mahan mengutus Gregory untuk bernegosiasi dengan Abu Ubaidah, namun gagal. Selanjutnya, utusan kedua dikirim dan ternyata gagal pula. Suasana pun semakin memanas.

Di awal terjadinya pertempuran, Gregorius menantang duel Abu Ubaidah. Khalid juga memerintahkan untuk memulai perang dengan berduel. Masing masing pihak berusaha memperkecil jumlah korban yang jatuh. Gregorius bukan panglima yang remeh. Ia sangat lihai memainkan berbagai senjata. Namun, ini bukan berarti akhir dari keberanian Abu Ubaidah. Gregorius sempat bertanya kepada Abu Ubaidah mengenai motivasi peperangan kaum muslimin dan beberapa hal tentang Islam. Jawaban dari Abu Ubaidah yang menakjubkan ternyata membuat Gregorius tertarik untuk berislam. Di depan dua pasukan yang berhadapan itu, ia membalikkan perisai dan masuk ke barisan kaum muslimin.

Melihat pembelotan Gregorius, pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum muslimin. Mahan memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang menerobos pertahanan sayap kanan pasukan Islam. Kaum muslimin tetap tegar berjuang di bawah panji-panji mereka, hingga berhasil membendung serangan musuh.

Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak gunung besar yang berhasil memporak-porandakan pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam beralih ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling memanggil agar kembali ke medan laga hingga berhasil memukul mundur kembali. Adapun para wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari mundur, mereka segera memukulinya dengan kayu, atau melemparinya dengan batu sehingga tentara tersebut kembali ke kancah peperangan.

Kemudian Khalid  beserta pasukannya yang berada di sayap kiri menerobos ke sayap kanan yang terbobol diserang musuh, hingga berhasil membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid membawa seratus pasukan berkuda menghadapi seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil meluluhlantakkan pasukan musuh.

Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran, dan kepahlawanan tentara-tentara Islam hingga pasukan Romawi berputar-putar seperti penumbuk gandum. Mereka banyak sekali melihat kepala-kepala yang berterbangan, tangan-tangan maupun jari-jari yang terpotong, serta semburan darah yang membasahi medan laga.

Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu dengan serentak, untuk kemudian dengan leluasa menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit pun. Gregorius pun akhirnya terluka parah dan meninggal dunia. Padahal beliau belum pernah shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang diajarkan oleh Khalid  ketika awal masuk Islam.

Peperangan ini berawal dari siang hingga malam, hingga akhirnya kemenangan diraih oleh Islam dan kaum muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari dalam kegelapan. Khalid bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi pasukan Romawi.

Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid menunggu tentara Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun terbunuh. Jumlah pasukan terbunuh pada hari itu 120.000 lebih dari Romawi dan 3000 dari kaum muslimin. Kaum muslimin mendapat harta rampasan yang begitu banyak pada perang ini.Wallahu a’lam bish showab.

Dirangkum dari berbagai sumber. Auda Dhiyauddin Zaki (kelas XII)


Bagikan Halaman ini