Retak
  • Posted: 09/02/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Retak

Pelabuhan sore itu ramai. Terlampau ramai, malah.

Puluhan camar berkoak di bawah horizon jingga. Dua kapal kayu tertambat disana. Dikerumuni ribuan orang di tepi pelabuhan. Sore itu, susah sekali membedakan entah sedih entah bahagia, jika kau menyaksikan sendiri.

“Kau sudah siap sayang?” Gadis kecil di depannya mengangguk. Wanita berkerudung hitam itu ibunya. Andai kau bisa mendengar detak jantungnya, menangkap sorot matanya, meneliti nada bicaranya, semua itu menyirat satu pesan: ketakutan dan kesedihan. Siapapun akan merasa sedih bila perpisahan itu menghampiri. Dan kesempatan untuk bersua kembali hampir mustahil.

Sepasang suami istri menunggunya. Gadis kecil itu, kapal akan segera berlayar, isyaratnya. Si ibu paham maksud tatapan pasangan itu. Buru-buru memeluk gadis satu-satunya. Erat sekali. Seakan itu adalah terakhir kali ia memeluk darah dagingnya sendiri. Satu-dua butiran bening terjatuh dari ujung matanya.

“Mama jangan  menangis.” Seraya tangan gadis kecilnya menyeka air mata yang tumpah. Sang ibu menggeleng. Tersenyum getir. Segera menyuruh putrinya bergegas mengikuti sepasang suami istri yang menunggunya sedari tadi.

Dua kapal kayu segera angkat jangkar. Berlayar membelah lautan. Membawa setumpuk harapan. Janji kehidupan yang lebih baik. Tak pelak juga berupaya meninggalkan sisa kenangan mereka di negeri yang kini bagaikan seorang kakek renta dengan segudang penyakit yang menggerogoti jasadnya. Para penumpang kapal itu mengerti, bertahan di negeri mereka tak ubahnya mempersilakan malaikat maut bertamu ke rumah. Tiap saat mereka bagai diintai hantu bengis yang tak pandang bulu melenyapkan satu demi satu jiwa-jiwa tanpa salah. Mereka semua mengerti, hanya ada dua pilihan. Pergi atau mati.

Kecuali Malika, gadis kecil itu.

Dirinya tak pernah paham tentang apa yang terjadi. Mata biru beningnya hanya menyiratkan lelah. Lelah, tiap malam harus melihat mama tersayangnya menitikkan air mata. Lelah, karena semakin hari temannya semakin berkurang. Dan kini ia lelah kenapa mama tersayangnya menyuruhnya menaiki kapal bersama paman dan bibi. Kenapa mama tidak ikut? Sejujurnya, ia lelah dengan semua tanya itu. Kapal melaju. Menuju satu tujuan. Daratan sejuta impian: Eropa.

****

Petang menjelang. Gelap. Lautan gulita. Dua kapal kayu itu terus berlayar. Jika kau bisa meihatnya dari atas sana, dua kapal itu bagai dua ekor kunang-kunang yang saling berlomba. Salip-menyalip. Geladak kapal terdengar ramai menyenangkan. Puluhan anak berkumpul di tengah-tengah geladak. Berceloteh riang. Meneriakkan yel-yel yang baru saja dibuat liriknya. Bergandengan tangan melingkari tiga kakak pemandu (anak-anak remaja yang ikut dalam pelayaran) menyanyikan yel-yel yang menghentak. Orang-orang tua yang melihatnya ikut bertepuk tangan sesuai irama.

Malika? Ia hanya melihat kerumunan itu dari jauh. Tersenyum manis. Ia sungguh ingin ikut. Menyenangkan sekali melihatnya.

Tiba-tiba salah seorang dari tiga kakak pemandu yang ada dalam lingkaran memanggilnya, “Hei! Gadis kecil!” Ujarnya sedikit berteriak, “Marilah ikut. Ayo, mereka semua disini saudara-saudaramu!”

Malika mengangguk. Berlari. Lantas bergabung dan bergandengan tangan dengan kawan-kawan barunya. Larut dalam euforia yel-yel yang digaungkan penuh semangat.

Suriyyah, Suriyyah ardhuna

Wal hurriyyah, hurriyyah amaluna

Ahbabna bil hurriyyah

Wa rojauna bisy syahadah

Isyhadu ya ‘aduwwallah

Laqod wahhadnal an bikalimatillah

Wa lan naftariqo abadan

Wa lan naftariqo abadan

Wa lan naftariqo abadan”

Syair yang digaungkan itu, yang terlantun dari mulut-mulut mereka, seumpama untaian doa indah. Mengambang. Jauh ke atas. Menembus awan, mengambang melebihi atmosfer paling luar bumi. Melewati bintang, planet, semakin jauh ke atas dan entah bermuara kemana. Sejuta harapan dan titik air mata berkumpul di dalamnya.

****

Jam yang sama. Menit yang sama. Detik yang sama.

Puluhan kilometer dari dua kapal tersebut.

Petang menjelang. Gelap. Jalanan remang ditemani beberapa lampu gantung di tepi jalan. Sunyi. Senyap. Persis seperti distrik Chernobyl di Ukraina yang ditinggal penduduknya. Kota mati. Namun tak sepenuhnya mati. Masih ada sedikit yang memilih tetap di kota ini, yang membuat kota ini bagai pasien pengidap kanker stadium empat yang terbaring di rumah sakit.

Malam-malam yang selalu terasa panjang oleh mereka yang memilih menetap disini. Detik-detik yang menegangkan ketika petang telah menjelang. Malam yang panjang berisi penuh doa pengharapan, agar esok kala fajar menyingsing, mereka tak perlu lagi mengutuk-ngutuk matahari yang menampakkan bekas-bekas petaka semalam. Harapan yang mustahil, atau mungkin tertunda. Pagi yang mereka alami selalu sama. Bangunan baru yang hancur, darah, entah apalagi. Ritme yang berulang. Monoton yang mengerikan.

“Paman dan Bibi hendak membawa Malika kemana?” Umar, remaja tanggung itu bertanya pada ibunya yang sedang termenung di tepi sofa. Lamunannya buyar. “Ke Turki?” Lanjutnya lagi.

Yang ditanya hanya menggeleng, lemas,” Entahlah. Mungkin bisa ke Jerman, atau Austria. Selain Turki. Paman dan Bibi tidak memberitahuku tentang tujuan mereka.”

“Bu?” Umar memanggilnya.

“Ya?”

“Ibu baik-baik saja, kan?” Ujarnya memastikan keadaan sang Ibu. Nadanya cemas. Ibunya mengangguk. Ibu akan selalu baik-baik saja, Umar. Batinnya.

“Ibu sudah takziyah ke rumah Rajab?” Umar bertanya. Menyebut teman main adiknya, Malika, yang dua hari lalu rumahnya menjadi sasaran roket militer pemerintah. Hanya Rajab yang menjadi korban roket laknat itu.

“Sudah. Insyaa Allah dia ditempatkan di surga Allah tanpa hisab.” Ujar Ibu. Berdoa.

Tiba-tiba handy talky yang tergeletak di samping Umar berteriak-teriak memanggilnya,

“Hei Abu Kahfi. Abu Kahfi. Masuk. Kami membutuhkanmu segera. Disini. Di barat gerbang distrik Zaitun. Masuklah ke basement di bawah bekas gedung bank. Abu Kahfi, kami membutuhkanmu segera. Abu Kahfi. Abu Kahfi.”

Umar, demi mendengar nama kunyahnya disebut berulang kali, ditambah kata ‘segera’, bergegas meraih baju tugasnya, melilit wajahnya dengan kafiyeh hitam abu yang kini hanya menyisakan kedua matanya.

“Apa yang terjadi, Umar?” Tanya ibunya cemas.

“Komandan memanggilku, bu. Aku harus ke Zaitun malam ini. Darurat.”Tangannya meraih Kalashnikov yang tergantung di dinding. Terburu-buru hingga hampir lupa sepatu bootnya belum terpasang.

“Jaga dirimu, Umar. Fii amanillah,” Seuntai doa meluncur dari bibir wanita itu. Umar tersenyum menatap sang ibunda, lantas berlari, memeluknya erat. Berbisik lirih di telinganya,

“Aku akan baik-baik, bu. insyaa Allah,” lantas melepas pelukannya. “Assalamualaikum,” sekejap tubuhnya sudah menghilang di balik cahaya remang jalanan.

“Waalaikumussalam,” Jawab wanita itu. Jemarinya mengambil satu foto berbingkai yang menggantung di dinding. Mengusapnya. Foto seorang lelaki paruh baya berjanggut abu yang mengacungkan telunjuknya. Bibirnya menyunggingkan senyum.

Lantas matanya menatap jejak-jejak punggung anak lelaki satu-satunya itu. Yang tujuh belas tahun lalu dikandungnya. Yang beberapa menit lalu meninggalkannya di balik pintu rumah, menyongsong janji Tuhan.

****

Malam ini, dua kapal kayu itu, juga seluruh penumpang yang ada di dalamnya, berlayar menuju takdirnya masing-masing.

Semua penumpang terlelap. Tidak ada dipan, apalagi kasur empuk. Semua menyatu di lantai kayu kapal. Semua masih tertidur pulas ketika satu benturan keras mengenai badan kapal.

“BUMM!!” Cipratan air laut beterbangan. Satu-persatu penumpang bangun. Tidur nyenyak mereka terusik. Masih setengah sadar, benturan keras lain menyusul,

“BUMM!!”

Kapal bergetar hebat. Oleng. Para penumpang berlarian tak tentu arah ketika kesadaran mereka pulih sepenuhnya. Sebagian malah menuju pinggir kapal, hendak menengok apa yang terjadi. Mulut-mulut menganga. Mata-mata membelalak, dan rasa penasaran yang dalam sekejap berubah menjadi kegentaran. Kini mereka tahu apa yang mereka hadapi di tengah lautan luas. Petir menggelegar. Hujan deras. Ombak bergulung-gulung yang menabrak dinding kapal yang mereka tumpangi. Mencekam. Sendirian. Itu badai.

****

Pemuda tujuh belas tahun itu tergesa-gesa berlari namun juga berhati-hati. Langkah kakinya agak melambat. Distrik Zaitun hanya berjarak 1,5 kilometer. Dengan kaki jenjangnya, ia hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di gerbangnya. Tapi kini ia di bawah bayang-bayang sniper yang bagai bergentayangan di celah-celah puing-puing bangunan yang berserakan. Matanya awas. Senapan Kalashnikov-nya sudah siaga. Berlindung di balik tembok salah satu bangunan.

SSEEETT!!

Satu peluru telah ditembakkan. Umar menghela nafas lega. Peluru itu hanya membentur tembok tempat perlindungannya. Peluru itu jatuh tepat dibawah kakinya. Matanya dengan saksama mengamati. Mengangguk. Peluru kaliber 0,338 inchi dari SAKO TRG42. Senapan api buatan Finlandia. Umar cepat berhitung. Setidaknya ada dua sampai tiga sniper yang ada di sepanjang jalan menuju distrik Zaitun. Dia terjepit. Baiklah, tidak ada pilihan. Remaja tujuh belas tahun itu  menggenggam Kalashnikov-nya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Mengunci hatinya. Ia tidak akan mundur. Ia tidak akan gentar. Setetes air mata jatuh dari ujung matanya. Andai ada yang bertanya, kapan kau ditimpa pilihan terberat dalam hidupmu? Maka ia akan menjawab, malam inilah, pilihan terberat itu menimpaku.

Gemetar kakinya melangkah ke balik tembok tempatnya berlindung.

****

Dua kapal kayu itu kini tak ubahnya sebilah kayu yang terombang-ambing di tengah amukan laut. Tak tentu arah.

Gadis kecil itu, Malika, meringkuk ketakutan di salah satu sudut. Menggigil. Ia tak punya siapa-siapa sekarang, sementara orang-orang sibuk berlalu lalang. Panik, mulut-mulut yang tak henti-hentinya melantunkan doa keselamatan. Tuhan, kami hanya ingin hidup yang lebih baik tanpa bayangan kematian, beratkah bagi-Mu?

Wajah bulat Malika pucat pasi. Pias. Matanya nanar mencari-cari kemanakah gerangan paman dan bibinya. Lupakah mereka dengan keponakannya sendiri? Menggigil. Dua tangannya gemetar.

“BUMM!!” Ombak kesekian yang menabrak dinding kapal. Malika terhempas. Jatuh. Kepalanya terantuk lantai kayu kapal.

 Antara sadar dan tidak, mata biru beningnya melihat papanya di salah satu sisi kapal. Papa? Di sisi lain, matanya juga menangkap Rajab, teman mainnya yang meninggalkannya dua hari lalu. Rajab? Gemetar kaki kecilnya mencoba berdiri. Tersenyum.

Satu ombak besar bergulung, menghampiri dua kapal itu.

****

Tepat di sepertiga malam. Ketika tuhan turun ke langit dunia, menampung doa-doa hamba-Nya. Malika, gadis kecil bermata biru bening, menjemput takdir terbaiknya di tengah lautan. Dan Umar, remaja tujuh belas tahun yang tegar, menjemput takdirnya di antara puing-puing bangunan. (Muhammad Ariq al Ghiffari, kelas X)

 

Yogyakarta, 18 Nov 2015


Bagikan Halaman ini