Khairah,Ibunda Hasan al-Bashri: Lebih Cerdik dari Anaknya
  • Posted: 15/02/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Khairah,Ibunda Hasan al-Bashri: Lebih Cerdik dari Anaknya

Khairah mendapat banyak kebaikan karena kebersamaanya dengan Ummu Salamah ra.

Ia adalah seorang wanita generasi tabi’in yang dititahkan keabadian dalam dunia pengetahuan, tak lain karena kapasitas ilmu, pengetahuan fiqih, dan sikap zuhudnya. Di samping itu, ia adalah ibu yang melahirkan dua pemuda yang mengukir sejarah dunia dalam bidang ilmu, keutamaan, sikap zuhud, dan sastra. Anak pertamanya dan sangat terkenal adalah Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar al-Anshari al-Bashri at-Tabi’in, syaikh bagi penduduk Bashrah, dan juga pemimpin umat di zamannya dalam bidang ilmu.

Muhammad bin Sa’ad menceritakan tentang diri beliau, “Hasan seorang yang mumpuni, alim, luhur, ahli fiqih, tsiqot, terpercaya, gemar beribadah, berperilaku yang baik, banyak ilmunya, fasih tutur katanya, tampan, dan gagah. 

Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Ia adalah lelaki yang sempurna perawakannya, sedap dipandang mata, tampan, dan termasuk pemberani.” 

Sedangkan anak keduanya adalah, Said bin Abu Hasan Yasar al-Bashri, termasuk tabi’in yang tsiqot, mendapatkan hadits dari ibunya, dan merupakan hasil didikan langsung ibunya. Imam an-Nasa’i dan lainnya mengatakan ketsiqohannya. Ia juga termasuk yang terbaik dari kalangan ahli zuhud dan gemar beribadah. Ia dijuluki rahib karena sikap religiusnya, dan hadits-haditsnya terdapat dalam banyak kumpulan hadits. 

Sementara ibu dari dua tokoh terbaik ini adalah Khairah, ibunda Hasan al-Bashri. Ia dikenal sebagai budak Ummul Mukminin, Ummu Salamah ra. Khairah juga termasuk wanita terhormat tabi’in, yang juga tsiqoh, dan termasuk wanita yang mendapat ilmu dari istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Suaminya adalah Yasar, seorang budak dari pertempuran ‘maisan’ yang tinggal di Madinah dan dimerdekakan di sana. Tidak lama kemudian ia dinikahkan dengan wanita terbaik, Khairah, budak Ummu Salamah. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab ra.

Khairah termasuk istri terbaik bersama suaminya. Sebab ia mengurusi keperluan suaminya tanpa menangguhkan pengabdiannya pada Ummu Salamah. Allah swt memberikan keturunan terbaik dan shalihah bagi pasangan suami istri ini. Keturunan yang menjaga keduanya pada masa yang akan datang lewat ilmu yang menghiasi manusia dan menghidupkan ingatannya. Khairah melahirkan anaknya, al-Hasan, dua tahun sebelum pemerintahan Umar bin Khatthab, pada tahun 21 H. 

Dalam didikan istri Rosulullah shallallahu ‘alahi wasallam, Khairah lulus dan meriwayatkan darinya, sebagaimana juga ia meriwayatkan hadits dari Aisyah. Sebaliknya dari Khairah banyak tokoh-tokoh tabi’in, baik laki-laki maupun perempuan yang meriwayatkan hadits darinya. Dari kalangan laki-laki diantaranya kedua anaknya al-Hasan dan Said, ‘Ali bin Zaid bin Jud’an, dan Mu’awiyyah bin Qurroh al-Muzani, yang semuanya adalah tokoh tabi’in yang tsiqoh. 

Adapun dari kalangan wanita Hafhsoh binti Sirin pemimpin wanita tabi’in, Ummu Hudzail al Anshariyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Iyyas bin Mu’awiyyah. “Saya tidak menemukan orang yang lebih kuhargai darinya”. Ia menghafalkan Al-Qur’an saat usia dua belas tahun. Bagi Iyyas ia lebih baik daripada Hasan al-Bashri dan saudaranya sendiri Muhammad bin Sirin dalam bidang ilmu dan ibadah.

Khairah meriwayatkan bahwa ia pernah melihat Ummu Salamah ra, istri Rosulullah shallallahu ‘alahi wasallam, melaksanakan shalat dengan melakukan baju panjang dan penutup kepala. Banyak sekali tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadist darinya kecuali Imam Bukhari.

Khairah seorang yang setia kepada Ummu Salamah ra. Ia adalah budak miliknya, selalu melayaninya dan melaksanakan pekerjaan rumahnya, atau perhatian kepada anak-anaknya dan selalu merawat mereka. Al-Hasan meriwayatkan dari ibunya, bahwa ibunya menyusukannya pada Ummu Salamah, istri Rosulullah Shallallahu ‘alahi wasallam.  

Tampaknya, Khairah total dalam melayani Ummu Salamah. Demikian sebaliknya Ummu Salamah memperlakukannya dengan sangat baik setiap mengutusnya untuk keperluan dirinya. Seperti disebutkan bahwa Ummu Salamah pernah menyuruh Khairah untuk satu keperluan, sehingga ia tidak sempat mengurus anaknya al-Hasan yang saat itu menyusui ibunya, sehingga al-Hasan kecil menangis. Maka Ummu Salamah menyibukkan dirinya dengan memberikan susunya hingga al-Hasan menyusu pada kedua wanita. Sehingga banyak ulama’ yang berpendapat bahwa kecemerlangan al Hasan adalah buah keberkahan dari susuan wanita yang terhubung kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.

Dengan semua ini, Khairah memperoleh keberkahan pada putranya al-Hasan –salah satunya berkat do’a dari Umar bin Khaththab-, dan menjadikanya sebagian dari tabi’in terbaik. Semua orang  memandang setiap  perbuatan al-Hasan adalah berguna baginya, meskipun tidak melihat amal perbuatanya dan tidak mendengar perkataanya. Tentang al-Hasan, banyak orang mengatakan, “Itulah orang yang kata-katanya seperti perkataan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.”

Khairah ibunda al-Hasan mengambil manfaat terbesar dari hafalan Ummu Salamah ra, serta pengetahuan dan kebersamaanya padanya. Sebab, Ummu Salamah ra termasuk shahabiyat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, terlebih lagi ia adalah istri Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sendiri. Ia adalah wanita yang paling banyak meriwayatkan hadits dan terbanyak menghafalkanya setelah Ummul Mukminin Aisyah. Ummu Salamah  meriwayatkan sebanyak 378 hadits. Jumlah hadits sebanyak itu menempatkannya pada jajaran ahli fiqh wanita, dan ahli ilmu wanita terdepan. Dalam sisi ini, Khairah menggambil manfaat dengan riwayat darinya, dan juga memanfaatkan ilmu-ilmunya. 

Khairah mendapatkan banyak kebaikan karena kebersamaanya dengan Ummu Salamah. Ia menjadi wanita tabi’in yang dalam pemahamanya, banyak hafalan dan ketepatanya. Ibnu Hibban memasukkanya dalam kategori para rawi yang tsiqah.

Ia juga sering duduk bersama para wanita untuk menasehati, mengajarkan  hukum-hukum yang didapatkanya dari Aisyah dan Ummu Salamah radliallahu 'anhuma. Tampaknya Khairah terkesan sedikit menonjolkan dirinya dan hafalanya. Ia menganggap dirinya lebih tinggi daripada anaknya dalam ilmu dan pengetahuan. Cerita lucu tentang hal ini, seperti yang diutarakan oleh Ibnu Khalkan dalam kitabnya Al-Wafayat tentang al-Hasan dan ibunya. Ia berkata, “Suatu hari ibunya, Khairah sedang bercerita di antara para wanita. Pada saat yang sama  masuklah al-Hasan. Di tangan ibunya ada kue yang sedang dimakannya. Ia pun berkata kepada ibunya,”Wahai ibuku, buanglah kue jelek itu dari tanganmu!”

Sang ibu berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya engkau orang yang sudah tua dan banyak pengalaman dalam membuatnya.”

Ia menjawab, “Wahai ibu, siapa di antara kita yang lebih tua?”

Dari cerita gurauan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Khairah berumur panjang, sebab pernyataanya kepada anaknya ‘sesungguhnya engkau seseorang yang sudah tua dan berpengalaman’, akan tetapi kita tak dapat memastikan kapan wafatnya. Perkiraan yang terkuat bahwa ia wafat pada akhir abad pertama hijriyah.

Semoga Allah merahmati Khairah, ibunda dari al-Hasan, semogga Allah memberikan tempat terbaik untuknya dan menjadikanya bersama-sama orang-orang pilihan yang terbaik dalam keabadian rahmat-Nya. (Fauzan Muhsinun)


Bagikan Halaman ini