Imam Bukhari: Amirul Mukminin Fiil Hadits
  • Posted: 31/08/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Imam Bukhari: Amirul Mukminin Fiil Hadits

Siapa yang tidak kenal dengannya? Perawi hadis yang sangat masyhur dari dulu hingga sekarang? Yang hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya? Sebagian ulama menyebutnya Amirul Mukminin fiil Hadits. Beliaulah Abu Abdullah Muhammad  bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardhizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Bukhari.

Beliau lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah pada 13 Syawal 197 H, atau bertepatan dengan 21 Juli 810 M. Beliau terlahir dengan penglihatan yang tidak sempurna. Namun suatu ketika ibundanya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang engkau panjatkan kepada-Nya.” Pagi harinya ia mendapati anaknya telah sembuh (Hadyu As-Sari’, hal. 640).

Imam Bukhari berguru kepada Syeikh Ad-Dakhili, ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia enam belas tahun beliau bersama keluarganya mengunjungi kota Makkah dan Madinah. Di kedua kota besar itu Bukhari muda mengikuti kajian para syeikh ahli hadits. Menginjak usia delapan belas tahun, dia menerbitkan kitab pertamanya “Kazaya Shahabah wa Thabi’in”. Selama enam belas tahun Imam Bukhari mengunjungi berbagai kota guna mengunjungi perawi hadis dan menghafal hadis dari mereka.

Kitabnya Mendunia

Tidak semua hadis yang dihafalnya beliau riwayatkan. Ia menyeleksi terlebih dahulu hadis-hadis secara ketat. Hingga akhirnya dia menyelesaikan karya monumentalnya. Yakni Al-Jami’ Ash-Shahih di dalamnya memuat 9082 hadis, lebih dikenal dengan Shahih Bukhari.

Menurut al-Firban, salah seorang murid Imam Bukhari, ia mendengar gurunya berkata “Saya susun kitab al-Jami’ ash-Shahih ini di Masjidil Haram. Dan sungguh tidak saya cantumkan sebuah hadis pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah. Dan sesudah saya meyakini betul bahwa hadis tersebut benar-benar shahih.”

Memiliki Hafalan yang Teruji

Pernah suatu ketika Imam Bukhari berkunjung ke Baghdad. Para ulama negeri itu mendengar kedatangan beliau dan bermaksud hendak menguji kekuatan hafalannya. Maka mereka menyiapkan seratus hadits yang telah dibolak-balikkan isi dan sanadnya. Kemudian seratus hadis tersebut dibagi kepada sepuluh orang yang masing-masing bertugas menanyakan sepuluh hadis yang berbeda kepada sang Imam.

Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadis yang mereka bawakan. Maka beliau menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.”

Setelah sepuluh orang ini selesai maka gantian beliau berkata kepada mereka satu per satu, “Adapun hadis yang kamu baca bunyinya demikian. Namun hadis yang benar adalah demikian.” Semua sanad dan isi hadis beliau kembalikan ke tempatnya masing-masing, dan beliau mampu mengulangi hadis yang telah dikacaukan itu hanya dengan satu kali mendengar. Para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Imam Bukhari dan tingginya kedudukan sang imam. (Hadyu as-Sari’, hal 652)

Akhir Hayat Imam

Atas permintaan warga Samarkhand, Imam Bukhari akhirnya menetap di sana. Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkhand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun di sana beliau jatuh sakit, hingga akhirnya pada tanggal 31 Agustus 871 M (256 H) atau tepatnya malam Idul Fitri. Sang imam meninggal dunia di usia 62 tahun kurang 13 hari. Pemakamannya dilakukan setelah shalat dzuhur pada hari raya Idul Fitri. [Muhammad Faqih Amrullah]


Bagikan Halaman ini