IKHLAS
  • Posted: 27/08/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

IKHLAS

Salah satu ilmu yang paling sulit dikuasai manusia di muka bumi ini adalah ilmu ikhlas. Ilmu ini banyak diserukan oleh orang, namun tidak semua mampu menguasai secara penuh. Karena tidak nampak, ilmu ikhlas tidak ada hitungannya secara pasti. Yang bisa mengukur ilmu ini adalah hati masing-masing individu yang memiliki dan menggunakan ilmu ini; itu pun belum tentu 100% pas. Hanya Allah ‘azza wa jalla yang paling benar mengukur keikhlasan seseorang.

Ikhlas secara terminologi adalah mengerjakan sesuatu kebaikan hanya karena Allah‘azza wa jalla semata. Baik yang berkaitan dengan keagamaan maupun keduniaan.

Dalam Islam, hal paling mendasar, pertama, dan utama yang harus diperhatikan adalah perihal niat. Karena amal kebaikan tanpa didasari karena Allah semata maka itu hanya kelelahan yang berujung pada ketiadaan. Apa gunanya berbuat sesuatu tanpa ada keikhlasan di hati yang tidak berbuah pahala? Sungguh itu sangat rugi; sudahlah lelah, tidak menghasilkan pahala pula. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَإِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيْعَةٍ

Dan orang-orang yang kafir, perbuatan-perbuatan mereka bagaikan fatamorgana di tanah yang datar.” (QS An-Nur:39). 

Bersikap ikhlas merupakan suatu perbuatan yang amat terpuji dan harus dipegang teguh oleh setiap muslim. Oleh sebab itu, hendaknya kita mulai membiasakan diri berperilaku ikhlas dalam setiap ucapan dan perbuatan.

Kadang berperilaku ikhlas itu membutuhkan paksaan dan usaha yang powerful. Jika mungkin kita sholat masih karena diperintah oleh orang tua, atau sholat di masjid karena takut hukuman, maka tidak lain itu adalah upaya pembiasaan diri agar kelamaan menghasilkan buah kebiasaan yang manis. Sehingga dengan buah yang manis itu menjadikan diri kita terbiasa beramal dengan ikhlas di mana pun kita berada dan menjadikan amalan-amalan kita diterima di sisi Allah.

Kita patut mencontoh bagaimana Khalid bin Walid menyikapi keputusan Umar bin Khattab ketika memberhentikannya dari jabatan sebagai panglima perang. Masyarakat di sekitar Khalid heran terhadap sikap Umar. Panglima besar yang tidak hanya piawai dalam memimpin perang namun juga lihai dalam mengatur ego dan nafsunya.

“Aku berperang di jalan Allah bukan karena Umar tapi aku berperang karena-Nya. Sehingga apapun statusku, tetap akan berperang di jalan-Nya.” Begitulah sikap orang beriman.

Sikap Khalid dalam hal ini adalah tindakan membersihkan diri dari segala hal yang mengotori amalan. Sehingga dengan sikap ikhlas adalah salah satu yang penting untuk meraih derajat ketakwaan

Marilah kita membiasakan mempraktekkan ilmu yang sangat urgen dan mendasar dalam meraih derajat ketakwaan ini. Walaupun butuh yang namanya paksaan. [Hidayatullah]


Bagikan Halaman ini