Cerpen: Tragedi Air Mati
  • Posted: 23/03/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Cerpen: Tragedi Air Mati

Aku terus memilin jemari dan menggerakkan bahu, kebiasaanku saat gelisah. Beberapa santri di hadapanku mulai menekukkan kepala, seolah menanggung beban dunia; beberapa menguap panjang-lebar, tapi ada juga yang serius menyimak. Aku semakin resah, menimbang-nimbang. Ingin berdiri, tapi rasanya pantatku lengket dengan lantai putih masjid. Suara wejangan mudir pesantren mulai terdengar rancu bagiku, kesabaran-lah, ujian-lah, tetap semangat, perjuangan, bla bla bla... Aku mendongkol. Oke, aku mengalah, daripada kena marah pengurus karena turun saat tausiah shubuh. Lebih baik aku menunggu. 

Ini benar-benar masalah komplikasi, sudah tiga hari ini air di pesantren kecil kami mati. Sedangkan pakaian kotorku sudah menumpuk tinggi bak bukit Moria, versi terkotor, di kardusku. Dan lagi, lusa depan aku akan pergi ke Solo untuk pentas nasyid. Aku dan empat teman lainya sudah berlatih keras jauh-jauh hari. Ini kesempatan besar bagiku, sudah lama aku ingin ke Solo. Di salah satu pesantren di sana banyak teman-temanku semasa MTs dulu. Waktu kelulusan MTs di Semarang, banyak teman-temanku yang melanjutkan ke Solo; sedangkan aku justru terdampar di Jogja. Kebetulan, pentas nasyid lusa akan diadakan di Wisma Haji dekat pesantren tersebut, tentu ini kebetulan yang sayang untuk dilewatkan.

Aku mendengus, jangan-jangan tausiah shubuh ini berlanjut jadi tausiah dhuhur. Wejangan mudir pesantren, sebenarnya selalu menarik bagiku; selalu dapat menggugah kesadaran serta memberikan pemahaman. Tapi tidak kali ini. Tidak saat aku sedang dalam dilema melankolis, tak jadi pergi ke Solo karena tak punya pakaian bersih. Itu tidak lucu. Aku terus merutuk dalam hati, kapan selesainya ini...

“Zafran !”. Aku tersentak, tiba-tiba saja mudir memanggilku. “Dibangunkan teman sampingnya itu, tausiah kok pada tidur, ayo!”

“Ergh, iya Ustadz”, ujarku menggaruk kepala.

--- ooOOoo ---

Aku turun dari masjid dengan terburu-buru. Hampir saja Melinda, kucing pesantren, jadi korban tabrak lariku. Kulihat jam di pergelangan tangan, setengah tujuh. Waduh gawat, pikirku. Kalau tak segera, bisa-bisa sungai kecil di belakang pesantren sudah penuh dengan santri-santri yang ingin mandi. Bisa batal lagi agenda mencuciku.

Kemarin, saat hendak mengambil air untuk mencuci, air sungai sudah berubah keruh warna sabun, mengerikan. Penyebabnya tak lain, para santri yang  mandi seperti hendak menguras sungai. Sebab itu, aku tak mau kedahuluan lagi pagi ini.

Setiba di kamar, kubuka lemariku. Melompong suram. Hanya ada sehelai sarung, kaos usang, dan celana kekecilan yang tergeletak menyedihkan. Aku menghela nafas. Padahal, biasanya lemariku selalu penuh ceria dengan tumpukan pakaian. Menurut ilmu logika itu artinya, hampir semua, eh, ralat, semua pakaianku harus dicuci sekarang. Total tiga ember, benar-benar metal, merana total.

Dengan susah payah, penuh perjuangan menegakkan kemerdekaan, kuangkat dua ember penuh berisi air, yang Alhamdulillah, masih bening menyenangkan. Baiklah, perjuangan panjang dimulai. Sikat siap, deterjen tersedia, tangan masih ada, dan sebungkus snack ringan, kalau-kalau lapar menyerang. Lima menit kemudian, aku sudah mulai menyikat sambil bersenandung ria. Nasyid yang akan kubawakan di Solo.

“Mencuci, Zafran?”

Aku menengok,. Rupanya Anton, teman sekamar. Ia tampak hendak mandi.

 “Nggak, kok. Lagi latihan senam SRJ, bagus buat kesehatan,” jawabku.

 “Oh gitu, kirain ngerjain PR,” balasnya sambil berlalu. 

Dasar, mengganggu ritualku saja.

“Akhirnya, Zafran mencuci juga”. 

Aku menghela nafas. Baru sedetik Anton pergi, sudah ada makhluk lain yang menggangguku.

“Cucikan bajuku juga dong! Cuma empat ember kok.” Farhat, temanku yang cerewet, berkata sambil tersenyum jail.

“Yah, mana? Biar kucuci. Tapi jangan kaget kalau pakaianmu bermetamorfosa jadi keset asrama tengah semua, mau?”

“Huu, dasar pelit!” Farhat pun melengos pergi.

Dan akhirnya kedamaian datang kembali. Aku pun melanjutkan menyikat celana ketujuh. Celana seragam yang kedodoran. 

“Zafran !”

Arrrrgh!! “Apa lagi!?”

“Sudah piket belum?” Ups, ternyata mas Ja’far, pengurus kebersihan yang selalu bertampang kaku itu.

“Err, saya piket sore mas!”, jawabku salah tingkah.

“Oh, ya udah. Jazakallah!”, ujarnya. Tetap kaku .

“Iya mas”. 

Bodohnya diriku, aku benar-benar malu. Kata anak-anak malas pelanggar kebersihan, jangan berurusan dengan tembok beton, sakitnya di hati .

---ooOOoo---

Dua jam kemudian.

Cucianku tinggal setengah ember lagi. Sikat cuciku, yang memang sudah jelek, mulai rusak bulu sikatnya, dan mengerang nelangsa. Tanganku mulai mengejang, berteriak minta breaktime, cooling down, atau coffe break-lah, terserah. Snack ringanku pun sudah habis, terlumat sejak pakaian ketiga. Aku berusaha menguatkan tekad. Maju terus, pantang mundur; sikat terus, sampai hancur.

Tapi, baru hendak mengambil korban selanjutnya, tiba-tiba aku merasakan keanehan. Ada hawa asing yang menyeruak dari emberku. Aku merasa tegang, menimbang-nimbang situasi dan kondisi.  Mengumpulkan informasi dan mengutuk selebriti. Ah, apa sih? Dengan keberanian pemuda sejati, kuangkat benda asing itu tinggi-tinggi. Sebuah segitiga tak teridentifikasi kini kugenggam. Aku shock.

 “Arrrgh, CD siapa ini?!!” 

---ooOOoo---

 

 Aku berjalan ria sambil menggoyang-goyangkan ember kosong. Tiga tali jemuran, kini telah penuh tergantung pakaian Zafran. Ah, betapa indahnya dunia pagi ini, terima kasih ya Allah, kau beri aku muka tampan berseri. Aku pun melangkahkan kaki menuju asrama. Tapi langkahku terhenti. Rasanya ada yang ganjil, seolah aku sedang diperolok. Aku mengendus-endus curiga. Kuraba punggungku, tak ada kertas yang menempel. Kuperiksa pakaianku, celanaku  masih kupakai, bajuku tidak terbalik, otakku masih pada tempatnya, tapi apa yang ganjil ?

Lalu, aku menengok ke tempat cuci dan melongo. Keran-keran air telah mengalir riang, seolah menghinaku. Beberapa santri terlihat sedang mencuci dengan mudahnya, seolah mengejekku. Air sudah mengalir tepat setelah aku selesai menjemur! Oh, betapa teganya! Tadi aku harus capek-capek mengangkat air dari sungai, lelah menggotong-gotong  tiga ember, tapi ternyata air mengalir tak lama kemudian, apa dosaku ya Rabb? Aku mengelus dada, mungkin ini takdir terbaik yang telah digariskan Allah; kita tak boleh menyesali apa yang telah terjadi, bukan. Ingat pelajaran Tauhid...ingat pelajaran Tauhid....desisku dalam hati.

Yang terpenting aku selesai mencuci. Solo, aku datang dengan pakaian bersih!

---ooOOoo---

Hari ini, hari keberangkatanku ke Solo. Terbayang wajah-wajah temanku di Semarang dulu. Ahmad yang kurus tapi paling banyak makan, Taufik yang baik hati dan rajin menabung, Sapto yang sering tidur di kamar mandi, dan Mujid yang pernah kucuri buku hariannya. Ah, awas kalian! Telpon tak pernah dijawab, sms tak pernah dibalas, akunku pun kalian blokir. Sungguh tega, padahal aku tak hendak menagih hutang. Tapi aku akan segera ke Solo, kujitaki kalian sesampai disana nanti!  

Pakaianku sudah kuangkat kemarin sore. Air masih mengalir deras, dan Zafran masih bernafas lepas. Jadi, meski semangat tinggi melalang buana, aku mencoba terlihat santai dan tak terburu-buru. Tak terburu-buru mandi. Kuputuskan memeriksa kembali barangku yang sudah dipak, kalau-kalau ada komponen penunjang yang ketinggalan, CD misalnya.

Tadi malam adalah latihan terakhirku bersama teman lainya. Meski merasa suaraku sudah cukup bagus dan maksimal, tapi pelatih bilang, suaraku masih sumbang seperti katak terjepit. Jadi dia menyuruhku untuk meleburkan suara di antara anak lainya. Padahal aku merasa cukup pantas sebagai vokalis utama, tapi ya… sudahlah. Sambil merapikan pakaian, kulatih lagi vokalku pada nada-nada tinggi. Tapi baru semenit suaraku mengudara, sudah ada teriakan kesakitan.

“Oi Zafran diam! Pecah nih, gendang telinga.”

Aku pun diam.

“Nggak mandi, Zafran? Kamu berangkat ke Solo jam setengah delapan kan?” Anton yang selesai mandi bertanya padaku.

“Iya deh, kamar mandi kosong kan?” timpalku. Anton cuma mengangguk.

Kuambil seperangkat alat mandiku dan menyampirkan handuk Hello Kitty, yang sebenarnya punya adikku, ke pundak. Dengan mantap dan penuh penjiwaan, kulangkahkan kaki ke kamar mandi. Kemudian dengan elegan, kutengok bak mandi, yang sudah seminggu belum dikuras, dengan gaya bangsawan, melompong. Dasar Anton, pikirku, kenapa kerannya nggak dinyalain. Setelah menggantungkan handuk dan pakaian, dengan mode slow motion, kuputar keran air berlumut. Sang keran mendesis kesakitan, tapi tak ada yang keluar. Kuputar  sekali lagi, tapi airnya tetap tak mau mengalir. Aku panik, kuputar-tutup keran berkali-kali, tapi hasilnya tetap nihil. Celaka 12!!!

“Anton! Kenapa airnya gak nyala ?!” teriakku.

“Ah, masak?” jawabnya.

“Beneran nih. Airnya  nggak mau nyala, kerannya ngajak ribut!”

“Ya berarti, airnya mati lagi!”

Arrrrgh, enteng sekali dia menjawab. Kalau cuma mau sekolah sih, tidak masalah. Masak aku harus ke Solo dengan badan bau? Memang takdir, salahku sendiri tidak langsung mandi tadi, hiks.

Aku menunggu gelisah di depan masjid. Penampilanku sudah lumayan rapi, rambut klimis-pakaian necis-badan bau amis, meski cuma cuci muka, dan gosok gigi tadi. Sudah hampir jam delapan, aku dan empat orang lainya sudah menunggu dari tadi. Kenapa kami belum juga berangkat? Aku mulai khawatir, dan merasa tak enak. Bukankah check in peserta jam dua belas nanti. Kenapa terlambat selama ini.

“Bagaimana ini? Kok belum ada yang mengantar, sih?” ujarku resah.

Tak ada yang menjawab, semuanya juga gelisah.

Tiba-tiba seorang temanku yang tadi memutuskan mencari informasi, datang dengan muka melayu yang kuyu.

“Bagaimana?” tanya seorang anak, yang tampak paling gelisah.

Aku menanti resah, semalam aku sudah berdo’a meminta kelancaran urusan, rezeki lancar, dan jodoh rupawan, masak nggak jadi sih.

“Kabar buruk, katanya kita batal ikut. Kata ustadz yang tanggung jawab, waktu pendaftaran kedua, ustadz sedang sibuk dengan urusan air mati sehingga nggak sempat mendaftar. Jadi kita dianggap batal menjadi peserta. Lagipula sekarang air mati lagi. Kata ustadz, sabar aja. Tahun depan  kita masih bisa ikut lagi.”, kata anak itu muram.

Aku hanya termangu. []

aozora

catatan: Cerita ini fiksi semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, waktu, jenis kelamin, dan kejadian, harap maklum semaklum-maklumnya, terima kasih.


Bagikan Halaman ini