Cerpen: Berlari
  • Posted: 10/08/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Cerpen: Berlari

oleh: Ariq al Ghifari

 

Sebelas tahun lalu, pada suatu sore yang bergerimis di bawah beranda rumah, Abi dengan lembut memanggilku yang tengah sibuk bermain mobil-mobilan di sisinya.

“Furqan...,” mata teduhnya menatapku.

“Iya Bi,” aku balas menatapnya, menghentikan permainanku.

“Ada satu hal,” pandangannya menerawang ke rintikan gerimis. “Satu hal yang harus kamu—dan kita semua—syukuri ketika menjadi manusia paling malang dan sengsara di dunia,” Abi menghela nafas. Pandangannya berpindah ke arahku yang menatapnya tak mengerti. Abi hendak bicara apa?

“Kamu harus bersyukur bahwa Allah masih memberi kita kesempatan hidup dalam kemalangan itu. Kamu tahu apa artinya?”

Aku menggeleng. Bahkan aku belum mengerti apa yang Abi katakan sejak awal.

“Artinya Allah masih memberi kita waktu untuk keluar dari kemalangan itu dan menjadi manusia paling bahagia,” Abi tersenyum menatapku. Aku balas tersenyum. Sok paham.

Aku belum mengerti apa yang Abi katakan waktu itu. Tapi aku selalu ingat detail kalimatnya.

***

Jeep coklat yang kami tunggangi menggerung. Menelusuri jalanan aspal yang meliuk-liuk. Di kanan-kiri rerindangan pinus menjulang teduh. Kabut masih mendekam di bayang-bayang. Khas pegunungan pagi hari. Lengang. Magis.

Ini seharusnya menyenangkan. Tapi tidak untuk sekarang, batinku. Aku lebih memilih terduduk di sudut bak terbuka jeep coklat ini. Memeluk erat-erat tas carrier 80 liter-ku. Menatap tanpa arti barisan pinus-pinus gagah sepanjang perjalanan. Sesekali melirik enam kawanku yang sedang berdiri menantang angin dingin pegunungan, tergelak ketika Firman, si gokil, jatuh terduduk karena lupa berpegangan saat jeep menikung tajam, atau memaju-majukan bibir mengeluarkan uap.

Ini memang menyenangkan, bukan?

“Furqan!” Aku menoleh. Amri si Jangkung melambaikan tangan. Memberi isyarat untuk mendekat. Aku menggeleng.

“Terlalu dingin!” balasku. Amri segera berbalik setelah mendengar alasanku. Aku tersenyum kecut. ‘Terlalu dingin’ adalah alasan yang terlalu dibuat-buat. Mataku menyoroti enam kawanku yang kali ini bernyanyi entah apa. Firman yang paling heboh. Ah, tentu mereka teramat bahagia dengan ini semua. Ada Amri yang menjadikan ini sebagai pendakian pertama dalam hidupnya; Bram yang menunaikan nadzarnya selepas menjadi lulusan terbaik SMA-nya; Firman yang ingin memetik bunga edelweiss dan menaruh di makam ayahnya; Allan yang memenuhi keinginan kakak perempuannya merengkuh puncak tertinggi Jawa; Safir yang hendak merekam video musik amatirannya di Ranupane; dan yang paling gila, Gibran yang ingin menjawab tantangan siswi-siswi angkatannya untuk bertelanjang dada di atas tahta Mahameru pagi-pagi. Aku tahu, walau sedikit gila dan bodoh, semuanya punya tujuan masing-masing. Merenda cita-cita dalam pendakian ini. Aku?

Aku hanya ingin lari. Itu saja.

***

“Ada masalah cukup serius dengan otaknya,” dokter tua itu menghela nafas. Menatap lurus pasangan suami-istri di depannya. Keduanya berpandangan.

“Anda lihat gumpalan hitam ini?” Telunjuknya mengarah ke foto rontgen yang digenggamnya. “Kami masih belum tahu apa ini. Tapi kami yakin inilah penyebab anak anda sering mimisan dan pingsan. Juga stroke ringan yang membawanya ke rumah sakit sore ini.”

Suara dokter tua itu cukup jelas terdengar olehku yang terbaring di ranjang pemeriksaan dan hanya terpisah tirai putih. Aku terus menyimak uraian dokter tua itu kepada Abi dan Ummi.

Beberapa menit setelahnya, kami pulang. Abi dan Ummi seakan sepakat untuk bungkam. Namun aku tahu, pembicaraan itu adalah awal takdir malangku.

***

Seperti biasa, malam hari di seputaran rumahku selalu lengang. Hanya lampu dan pepohonan yang mengisi sisi trotoar jalan.

Rumahku juga lengang.

Kami duduk di depan meja makan. Semuanya berjalan seperti biasa. Ummi yang membawakan hidangan dari dapur, Abi yang sibuk dengan pekerjaan kantor di ponselnya, dan aku yang kurang kerjaan memutar-mutar sendok di tangan.

Kami makan malam seperti biasa. Semuanya terlihat baik-baik saja.

Setelahnya aku bersiap ke kamar, menyelesaikan murajaah hafalanku. Kegiatan rutin di rumah menjelang tidur. Abi menahan tanganku.

“Abi dan Ummi hendak bicara dengan Furqan sebentar,” mata teduhnya menyorotku. Aku mengangguk, kembali duduk di depan meja makan. Menunggu Ummi menaruh piring bekas makan malam. Abi menarik nafas dalam setelah Ummi kembali dari dapur.

“Jadi—,”

“Furqan tahu Ummi dan Abi hendak bicara apa,” aku memutus ucapan Abi.

Abi dan Ummi saling berpandangan. Ummi mengangguk. Sedikit berbisik mengatakan sesuatu. Abi kembali menarik nafas dalam-dalam setelah mendengarnya.

“Bagus jika Furqan sudah tahu. Jadi setelah mendengar uraian dokter tiga hari kemarin...oh ya, Furqan juga sudah tes muqobalah dengan teman-teman Furqan ke Al-Azhar, kan di Jakarta?” Aku berdehem. Mengangguk.

“Dan Furqan punya peluang besar untuk lolos seleksi itu,” aku menimpali.

“Setelah mempertimbangkan matang-matang penjelasan dokter tiga hari lalu dengan kemungkinan Furqan lolos untuk kuliah di Kairo sana...,”  Abi menatapku, sementara Ummi menggenggam tangan Abi. Menguatkan. “Abi dan Ummi sudah memutuskan agar Furqan membatalkan niat Furqan untuk ke Kairo...,”

“Furqan tidak bisa!” teriakku, memutus ucapan Abi. Aku berdiri. Pembicaraan macam apa ini?

“Bukankah Furqan sudah tahu penyakit Furqan parah?!” Abi menahan pundakku. “Furqan sedang sakit berat. Abi dan Ummi khawatir karena Furqan terlalu rapuh untuk belajar di sana,”

“Abi kan tahu Furqan sudah mati-matian supaya lolos ke sana. Belajar berbulan-bulan, SKS, menghafal ini-itu. Ini mimpi Furqan. Mimpi besar. Dan tinggal selangkah lagi Furqan menginjakkan kaki di Kairo. Selangkah lagi! Orangtua mana yang tidak mendukung anaknya supaya tholabul ‘ilmi di sana?” Balasku. Menusuk.

“Tidak setelah Abi tahu Furqan terkena meningitis,”

Ummi angkat bicara, “Tapi itu berbahaya buat tubuh Furqan,”

“Seorang mukmin yang meninggal ketika thalabul ‘ilmi adalah seorang syahid,” desisku tajam. Aku tahu, tabu bagi Ummi untuk bercakap tentang kematian. Ummi mengatakannya dengan bahasa yang halus. Aku melihat Ummi segera membungkam.

Abi mengabaikan dalilku, “Furqan bisa tetap belajar di Al-Azhar di Indonesia lewat online. Atau nanti Abi daftarkan di Universitas di Indonesia yang berstandar Al-Azhar,” Abi memberi opsi. Aku menggeleng keras. Menolak mentah-mentah.

“Indonesia tidak punya fadhilah lebih daripada Mesir yang diberkahi,” Aku melancarkan dalil berikutnya. “Selamanya akan berbeda antara Indonesia dan Mesir. Walaupun Al-Azhar dipindah ke Indonesia.”

Aku berbalik dengan wajah merah padam dan mata menahan butiran bening di pelupuk. Berlari memasuki kamar. Meninggakan Abi dan Ummi di belakang  yang menatapku iba. Bergegas meraih ponsel, mengontak seseorang.

“Aku ikut kalian ke Semeru,” Lantas dengan sekali klik menutup percakapan.

Aku mengusap-usap wajah. Terduduk di dinding kamar. Berpikir keras. Mendengus. Menyerah berfikir. Bagaimanakah? Otakku sudah terlalu rumit memikirkan berbagai kemungkinan. Setelah bertahun-tahun memimpikannya, berbulan-bulan berusaha mewujudkannya, dan satu langkah lagi, semuanya buyar karena penyakit otak bedebah ini. Aku memukul-mukul kepalaku. Berbicara dalam hati, kenapa kau harus datang di saat-saat seperti ini? Kenapa tidak saat aku di Kairo saja? Setidaknya aku sudah merasakan indahnya hidup di sana. Belajar di sana. Bertemu dengan masyarakat Mesir yang agamis. Kenapa kau datang di saat yang tidak tepat?

Untuk saat ini, aku hanya ingin lari. Itu saja.

***

Rumus seorang motivator dalam menghadapi masalah adalah; tatap, maju, hadapi. Karena lari dari problem justru malah memperumitnya.

Dan untuk hal ini, apakah aku harus mematuhi rumusan itu? Menghadapi fakta bahwa penyakit otak yang kualami menghentikan langkahku.

Tidak. Menurutku, lari adalah pilihan terbaik.

Dan disinilah aku sekarang. Terduduk di rerumputan basah. Menatap gugusan pegunungan, menelusurinya dengan pandanganku hingga berujung pada satu puncak gunung yang tertutup awan. Ranah tertinggi Jawa: Mahameru!

Sekejap kemudian, pandanganku beralih ke ponsel yang tergeletak lemas di kantung tas carrier-ku. Tanganku meraihnya. Menghidupkannya karena semenjak aku ‘lari’ dari rumah dua hari lalu, aku mematikannya. Menghilang sejenak. Tepat saat layar ponsel menyala, puluhan notifikasi ‘panggilan tak terjawab’ muncul. Semuanya dari Abi dan Ummi. Aku tertegun. Betapa mereka mengkhawatirkanku, dan betapa aku tak acuh dengan semua ini.

Sejurus kemudian, otakku yang berpenyakit ini berpikir cepat. Tentang berbagai kemudian. Apakah jika aku kabur lebih jauh akan menjauhkanku dari penyakit ini? Apakah jika aku menghilang lebih lama akan memperbaiki semuanya? Bisa saja Abi mendadak jantungan, atau Ummi tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri. Aku takut, aku justru menjadi biang masalah-masalah selanjutnya.

Saat itulah, kalimat Abi sebelas tahun lalu padaku kembali terngiang di benak. Hanya selintas, namun cukup sudah membekas erat di pikiranku.

“Satu  hal yang harus kita syukuri ketika menjadi manusia paling malang di dunia adalah bahwa Allah masih memberi kita kesempatan untuk bertahan hidup dalam kemalangan itu. Itu artinya, Allah masiih memberi kita waktu untuk keluar dari kesengsaraan itu dan menjadi manusia yang bahagia,”

Dan sekarang, aku baru memahami kalimat itu saat usiaku 17 tahun.

Aku tahu, kini ‘lari’ bukanlah yang terbaik. Karena yang perlu aku lakukan sekarang adalah bersyukur dengan takdir malangku, dan keluar darinya.

Menuju bahagia.

***

Yogyakarta-Denpasar, 26 Maret - 8 April 2016


Bagikan Halaman ini