Sejarah Khilafah Umawiyyah (bagian ke-2)
  • Posted: 02/05/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Sejarah Khilafah Umawiyyah (bagian ke-2)

PENGANTAR

Sejarah ibarat pisau bermata dua. Pada satu sisi, sejarah bisa menjadi informasi politik yang meneguhkan umat Islam dengan sistem khilafahnya yang ideal. Namun, pada sisi lain, sejarah pun bisa digunakan untuk meruntuhkan mental mereka, dengan penyimpangan dan kesalahan-kesalahan sejarah, yang bahkan sangat memalukan. Dua sisi ini tentu selalu ada dalam buku sejarah, siapa pun penulisnya dan bagaimana pun metode penulisannya. Karena itulah, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya, Nizham al Islam, menjelaskan bahwa sejarah tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum sebagaimana al Qur’an, as Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Meskipun tidak bisa menjadi sumber hukum, sejarah tetap menjadi sumber informasi yang penting bagi umat Islam. Karena dari sejarah, kita bisa belajar kesalahan dari berbagai kebijakan yang pernah terjadi di masa lalu agar tidak terulang kembali. Dengan demikian, kita tidak akan terperosok pada lubang yang sama dua kali. Begitulah, yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana cara kita membaca sejarah.

Karena itu, ketika kita melihat berbagai kesalahan sejarah, seperti saat Mu'awiyah mengangkat Yazid ibn Mu'awiyah sebagai putra mahkota, proses bai'at yang dilakukan dengan ikrah wa ijbar(paksaan), bukan ridha wa ikhtiar (suka rela), misalnya, kita mesti melihatnya sebagai kekeliruan manusia (human error) dalam menerapkan Islam. Bukan dilihat sebagai kesalahan Islam dan sistem khilafah. Peristiwa ini bisa saja terjadi karena faktor manusia yang tidak maksum.

Hanya saja, kekeliruan-kekeliruan seperti ini tidak bisa digunakan untuk mendelegitimasi kesempurnaan dan kredibilitas Islam sebagai sistem ilahiah yang sempurna, termasuk di dalamnya sistem khilafah yang merupakan satu-satunya sistem pemerintahan dan politik yang diwariskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kompilasi sejarah para khalifah yang anda baca di bawah ini diambil dari buku "Sejarah Para Khalifah" karya Hepi Andi Bastoni. Semoga para pembaca bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini. Selamat membaca..

Penyusun
Ahmad Sudrajat

 

SEJARAH PARA KHALIFAH

DAULAH UMAWIYYAH (661 – 750 M) - BAGIAN KE-2

 

9. Yazid bin Abdul Malik (720 – 724)

Yazid bin Abdul Malik menjabat khalifah kesembilan Daulah Umayyah pada usia 36 tahun. Khalifah yang sering dipanggil dengan sebutan Abu Khalid ini lahir pada 71 H. Ia menjabat khalifah atas wasiat saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia dilantik pada bulan Rajab 101 H. 

Ia mewarisi Daulah Umayyah dalam keadaan aman dan tenteram. Sebelum meninggal, Umar bin Abdul Azis sempat menulis surat kepada Yazid, “Semoga keselamatan tetap terlimpah padamu. Saya ingatkan, jagalah umat Muhammad sebab engkau akan meninggal dunia. Engkau akan menghadap Dzat yang tidak memberikan maaf untukmu.”

Pada masa awal pemerintahannya, Yazid bertindak menuruti kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Azis sebelumnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Menurut Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’, kebijakan itu berlangsung hanya empat puluh hari. Setelah itu terjadi perubahan. Tampaknya, terlalu banyak penasihat yang tidak setuju dengan kebijakan positif yang diterapkan Umar bin Abdul Azis.

Di antara tindakan yang dilakukan Khalifah Yazid bin Abdul Malik adalah menumpas gerakan Yazid bin Muhallib. Sebelumnya, Yazid bin Muhallib menjabat sebagai gubernur wilayah Khurasan. Ia juga pernah menjabat gubernur Irak di Kufah dan Iran di Bashrah. Jabatan itu dipangkunya sejak Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik hingga masa Umar bin Abdul Azis. Karena dianggap melakukan gerakan-gerakan mencurigakan, Khalifah Umar bin Abdul Azis memintanya datang ke Damaskus dan menjatuhi tahanan kota.

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Azis wafat, Yazid bin Muhallib segera melarikan diri. Ia khawatir khalifah terpilih, Yazid bin Abdul Malik, akan mengambil tindakan tegas atas dirinya. Sejak awal memang sering terjadi pertentangan antara dua orang yang senama itu.

Yazid bin Muhallib melarikan diri ke Irak. Karena pernah menjabat gubernur di wilayah itu, ia pun diterima oleh masyarakat. Nama keluarganya harum di kalangan rakyat Irak. Hal ini tidak mengherankan karena ayahnya, Muhallib bin Abi Shafra’, adalah penakluk lembah Hind.

Yazid bin Muhallib juga berhasil mengumpulkan dukungan rakyat Basrah untuk memecat Khalifah Yazid. Adanya gerakan itu sampai ke telinga sang khalifah di Damaskus. Yazid bin Abdul Malik segera meminta saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, untuk berangkat dengan pasukannya ke lembah Irak guna memadamkan gerakan Yazid bin Muhallib.

Perang saudara kembali terjadi. Pasukan Maslamah terus mengejar pasukan Yazid bin Muhallib dari benteng ke benteng. Hingga akhirnya Yazid tewas di medan pertempuran yang dikenal di daerah Al-Aqir, tak jauh dari Karbala. Selanjutnya Panglima Maslamah terus mengejar sisa-sisa pasukan lawannya. Hal yang tak mungkin dilupakan sejarah adalah tindakannya menghabisi seluruh keturunan dan keluarga Muhallib. 

Peristiwa yang terjadi pada 101 Hijriyah itu cukup mengharukan masyarakat. Keluarga Muhallib dikenal baik dan dermawan. Mungkin karena tidak berani berhadapan langsung dengan pihak penguasa, keharuan dan simpati itu hanya tertuang dalam syair dan kata-kata bijak.

Setelah keamanan pulih, Khalifah Yazid bin Abdul Malik mengangkat Maslamah untuk bertanggung jawab terhadap wilayah timur yang mencakup Irak, Iran dan Khurasan yang berkedudukan di Bashrah.

Untuk memperluas wilayah Islam, Khalifah Yazid memerintahkan Panglima Tsabit An-Nahrawani, gubernur Armenia, untuk menaklukkan wilayah Khazars, utara Armenia antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Namun dalam sebuah pertempuran Panglima Tsabit tewas dan pasukannya porak-poranda.

Khalifah Yazid menunjuk Panglima Jarrah bin Ubaidillah untuk menjabat gubernur Armenia dengan tugas menaklukkan Khazars. Perintah itu ditunjang dengan pengiriman pasukan cukup besar dari Syria. Pasukan Jarrah berhasil menerobos wilayah Khazars dan menduduki kota Blinger dan beberapa kota lainnya.

Sementara itu, Sammah bin Abdul Malik Al-Khaulani, gubernur Andalusia yang berkeduduka di Toledo, berhasil menaklukkan benteng Lerida dan Gerona, lalu menyeberang ke pegunungan Pyrenees bagian timur wilayah Prancis Selatan. Ia terus melebarkan kekuasaannya hingga berhasil menaklukkan Avignon, Toulun dan merebut kota Lyon. Namun dalam usaha penaklukan benteng Toulouse, ia tewas dan pasukannya kembali ke Aquitane. Khalifah Yazid mengangkat Panglima Anbasa bin Syuhaim untuk menggantikan Sammah.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik tidak berusia lama menyaksikan perluasan wilayah Islam itu. Ia meninggal dunia pada usia 40 tahun. Masa pemerintahannya hanya berkisar 4 tahun satu bulan. Konon ia meninggal akibat tekanan batin ditinggal seorang wanita yang ia cintai. 

Beberapa waktu sebelum Yazid meninggal sempat terjadi konflik antara dirinya dan saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik. Namun hubungan keduanya baik kembali setelah Hisyam lebih banyak mendampingi sang khalifah hingga wafat.

 

10. Hisyam bin Abdul Malik (724 – 743)

Hisyam bin Abdul Malik adalah khalifah kesepuluh Daulah Umayyah. Ketika dilantik menjadi khalifah menggantikan saudaranya, Yazid bin Abdul Malik, usianya baru 35 tahun. Ia menjabat khalifah selama hampir 20 tahun. Para ahli sejarah menyebutnya negarawan yang ahli dalam strategi militer. Pada masa pemerintahannya, selain memadamkan kemelut internal, ia juga meluaskan wilayahnya ke luar.

Ketika imperium Romawi Timur berada di bawah kekuasaan Kaisar Leo III. Ia berhasil memulihkan wewenang pemerintahan pusatnya di daerah Balkan. Kini Kaisar Leo III kembali ingin merebut wilayah Asia Kecil dari kekuasaan Daulah Umayyah yang sedang dipimpin Hisyam bin Abdul Malik. Jadi, dua kekuatan siap berhadap-hadapan.

Sementara itu, sepeninggal Empress Wu yang mengalami kemelut berkepanjangan, Dinasti Tang di Tiongkok berhasil memulihkan diri di bawah kekuasaan Kaisar Hsuan Tsung. Setelah kondisi internal pulih, ia bermaksud merebut daerah Sinkiang (Turkistan Timur) yang berhasil ditaklukkan oleh Panglima Qutaibah bin Muslim.

Di wilayah Andalusia, Khalifah Hisyam mengukuhkan Panglima Anbasa bin Syuhain sebagai gubernur menggantikan Sammah bin Malik Al-Khaulani yang gugur. Dengan pasukan cukup besar, Panglima Anbasa menyeberangi pengunungan Pyren dan menaklukkan wilayah Narbonne di selatan Prancis. Selanjutnya ia maju ke Marseilles dan Avignon serta Lyon, menerobos wilayah Burgundy. 

Kemenangan itu membangkitkan semangat Anbasa. Ia terus maju ke arah utara dan menaklukkan beberapa daerah sampai ke benteng Sens di pinggir sungai Seine yang jaraknya hanya sekitar 100 mil dari Paris, ibukota wilayah Neustria kala itu.

Karel Martel, yang menjadi pejabat wilayah Neustria, segera maju menghadang pasukan kaum Muslimin. Terjadi pertempuran sengit. Panglima Anbasa gugur, dan pasukannya bertahan di wilayah selatan Prancis.

Peristiwa itu segera sampai ke Damaskus. Khalifah Hisyam segera mengangkat Panglima Besar Abdurrahman Al-Ghafiqi untuk menggantikan Panglima Anbasa. Dalam hal melanjutkan cita-cita pendahulunya, Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi sangat hati-hati. Ia mempersiapkan pasukannya semaksimal mungkin. Tak hanya bekal makanan, tetapi juga fisik tentara untuk menghadapi cuaca dingin di daerah lawan.

Enam tahu kemudian, pasukan itu berangkat ke arah utara. Mereka berhasil merebut Toulouse, ibukota wilayah Aquitania kala itu. Karel Martel terpaksa mundur dan bertahan di benteng Aungoleme.

Nama Panglima Al-Ghafiqi tersebar luas di daratan Eropa. Karel Martel dan Raja Teodorick IV menyerukan seluruh rakyatnya untuk memberikan perlawanan. Sementara itu, pasukan Islam berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Pasukan Islam terlalu terbuai dengan harta rampasan. Ketika perang pecah, pasukan kaum Muslimin terdesak. Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi gugur. 

Sementara itu, kemelut yang terjadi di kawasan Asia Kecil berhasil dipadamkan. Pasukan Romawi Timur yang ingin merebut daerah itu bisa dihalau setelah Khalifah Hisyam mengirim panglima Said Khuzainah dari wilayah Khurasan untuk membantu Panglima Maslamah bin Abdul Malik. Namun, dalam suatu peperangan Said gugur.

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik wafat dalam usia 55 tahun. Namanya cukup harum dalam sejarah. Dalam ketegasannya, ia senang menerima masukan dari para ulama.

 

11. Walid bin Yazid bin Abdul Malik (744)

Walid bin Yazid bin Abdul Malik dilahirkan pada 90 Hijriyah. Ketika ayahnya, Yazid bin Abdul Malik, diangkat sebagai khalifah, Walid baru berusia 11 tahun. Seperti dituturkan At-Tabari dalam Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk, ketika diangkat menjadi khalifah, Yazid bin Abdul Malik ingin mengangkat putranya, Walid sebagai putra mahkota. Namun saat itu Walid masih belum cukup usia. Yazid terpaksa mengangkat saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik sebagai cikal penggantinya. Sedangkan Walid sebagai putra mahkota kedua.

Ternyata, Yazid masih hidup hingga putranya cukup usia. Yazid sangat menyesal karena terlanjur mendahulukan saudaranya daripada putranya sendiri. Menurut riwayat, ia pernah berkata, "Tuhanlah yang menjadi hakim antara aku dan orang-orang yang telah menjadikan Hisyam sebagai pemisah antara aku dan engkau."

Begitu Yazid meninggal, Hisyam naik tahta sebagai khalifah kesepuluh Daulah Umayyah. Sudah bisa ditebak, terjadi pertentangan antara Khalifah Hisyam dan keponakannya, Walid bin Yazid. Apalagi beberapa ahli sejarah menyebutkan, akhlak Walid tidak terlalu baik. Ia sering minum-minuman keras dan berfoya-foya. 

Kisah buruk tentang Khalifah Yazid ini tentu saja tidak bisa diterima begitu saja. Ketika terjadi pertentangan antara dua keluarga itu, tentu peluang menjelek-jelekkan nama baik musuh sangat besar.

Selama pemerintahan Hisyam, Walid lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Damaskus. Ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meninggal dunia, Walid sedang berada di Azrak, utara Damaskus. Ia segera kembali ke Damaskus dan dibaiat menjadi khalifah kesebelas Khalifah Bani Umayyah. Saat itu usianya sekitar 39 tahun.

Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah melipat-gandakan bantuan kepada orang-orang buta dan tua yang tidak memiliki keluarga untuk merawatnya. Ia menetapkan anggaran tersendiri untuk membiayai masalah itu. Ia juga memerintahkan untuk memberikan pakaian kepada orang-orang miskin.

Pertentangan antara keluarga Yazid bin Abdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik agaknya tidak berhenti ketika keduanya meninggal. Ketika berkuasa, Yazid menangkapi orang-orang yang dianggap dapat membahayakan kekuasaannya, termasuk keluarga Hisyam. Ketika terjadi penangkapan besar-besaran itu, Yazid bin Walid bin Abdul Malik sempat melarikan diri. Secara diam-diam, Yazid berhasil menghimpun kekuatan. Ia pun dibaiat oleh keluarga Yamani di daerah Syria dan Palestina. 

Mengetahui ada gerakan yang akan membahayakan kekuasaannya, Khalifah Walid bin Yazid segera mengerahkan pasukan untuk menghancurkan pasukan Yazid. Namun terlambat, pasukan Yazid lebih dahulu bergerak menuju istana. Khalifah Walid terkepung. Pada detik-detik menentukan itu, sebagian besar pasukan andalannya justru bersatu dengan musuh. 

Khalifah Walid segera melarikan diri ke kediamannya. Namun sepuluh orang di antara pasukan musuh berhasil menemukan persembunyiannya. Ketika dikepung ia sempat berkata, "Bukankah aku telah memberikan hadiah kepada kalian? Bukankah aku telah meringankan beban kalian yang berat? Bukankah aku telah memberi makan orang-orang fakir di antara kalian?"

Mereka yang mengepungnya menjawab, "Kami tidak membencimu dari diri kami sendiri. Kami mengepungmu karena engkau terlalu banyak melanggar batasan-batasan aturan Allah. Engkau minum minuman keras, menikahi istri ayahmu dan melecehkan perintah Allah."

Ia meninggal pada usia 40 tahun, dan kepalanya dipancung. Ia memerintah selama satu tahun dua bulan 22 hari saja.

 

12. Yazid bin Walid bin Abdul Malik (744)

Setelah Khalifah Walid bin Yazid bin Abdul Malik terbunuh oleh para pengepungnya, jabatan khalifah dipegang oleh Yazid bin Walid bin Abdul Malik. Ia adalah sepupu sang khalifah. Ayah Yazid adalah Walid bin Abdul Malik, saudara kandung Yazid bin Abdul Malik, ayah Walid (khalifah sebelumnya). Yazid bin Walid menjabat sebagai khalifah keduabelas Daulah Umayyah.

Para sejarawan sering menulis namanya dengan Yazid III karena ia adalah sosok ketiga bernama Yazid yang menjabat khalifah Daulah Umayyah. Yazid I adalah Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua. Yazid II adalah Yazid bin Abdul Malik, khalifah kesembilan. Sedangkan Yazid III adalah Yazid bin Walid, tokoh yang kini sedang dibahas.

Ia dibaiat sebagai khalifah pada usia 46 tahun. Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah mengurangi jumlah bantuan sosial dan mengembalikannya pada anggaran biasa seperti pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Kebijakan itu menyebabkan ia dikenal dengan julukan An-Naqish (sang Pengurang).

Masa pemerintahan Yazid diwarnai dengan beragam kemelut. Hal ini tak mengherankan karena untuk mendapatkan jabatan khalifahnya,Yazid pun menumpahkan darah dengan terbunuhnya Walid bin Yazid, khalifah sebelumnya.

Di antara mereka yang mengadakan gerakan ini adalah Sulaiman bin Hisyam. Pada masa pemerintahan Walid bin Yazid, Sulaiman termasuk di antara mereka yang dijebloskan ke penjara. Ketika Khalifah Walid bin Yazid mangkat dan Yazid III naik tahta, Sulaiman dibebaskan. Namun ia melihat dirinya pun berhak atas jabatan khalifah. Ia segera mengerahkan pendukungnya untuk merebut jabatan khalifah dari tangan Yazid. Hanya saja, Khalifah Yazid berhasil membujuknya dan Sulaiman kembali melakukan baiat. 

Dari negeri Hims juga muncul rencana perebutan kekuasaan. Ketika mendengar terbunuhnya Khalifah Walid bin Yazid, para pendukungnya dari negeri Hims segera bergerak menuju Damaskus. Khalifah Yazid segera mengirimkan pasukan besar untuk menghalaunya. Pasukan Hims kalah dan sisa-sisa tentaranya kembali menyatakan baiat.

Selain dua gerakan itu, dari wilayah Armenia dan Kaukasus, muncul juga usaha perebutan kekuasaan. Sejak terbunuhnya Walid bin Yazid, Marwan bin Muhammad segera mempersiapkan rencana kudeta. Rencana berbahaya itu segera terdengar oleh Khalifah Yazid. Ia pun segera mengirimkan utusan kepada Marwan. Sang Khalifah membujuknya agar tak melakukan penyerangan. Ia menjanjikan tambahan wilayah kekuasaan Azerbaijan dan Mosul kepada Marwan. Gubernur Marwan pun setuju dan kembali membaiat.

Tampaknya, fanatisme kesukuan benar-benar telah mewabahi pemerintahan Yazid. Di samping usaha perebutan kekuasaan di atas, dari lembah Irak juga muncul gejolak. Namun gubernurnya berhasil meredam gejolak masyarakat. Penduduk Yamamah juga demikian. Mereka berusaha melakukan kudeta terhadap gubernurnya.

Gejolak di wilayah Khurasan justru lebih parah. Gubernur Nushair bin Sayyaf menolak keinginan Khalifah Yazid yang ingin mengalihkan jabatannya pada Panglima Manshur bin Jamhur. Konflik berdarah pun terjadi. 

Keadaan pemerintahan Khalifah Yazid semakin tak menentu. Gerakan Abbasiyah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai muncul, makin berani unjuk diri. Beragam kerusuhan itu berakibat pukulan batin dari diri Khalifah Yazid.

Ia meninggal pada 7 Dzulhijjah 126 Hijriyah setelah sebelumnya mengalami kelumpuhan fisik. Ada yang mengatakan ia meninggal karena penyakit tha'un. Masa pemerintahannya hanya beberapa bulan. Ia wafat tanpa meninggalkan jejak emas berarti. Bahkan ia mewariskan beragam permasalahan yang kelak berujung pada berakhirnya kejayaan Daulah Umayyah.

 

13. Ibrahim bin Walid (744 – 745)

Ia menjabat sebagai khalifah ketigabelas Daulah Umayyah menggantikan saudaranya, Yazid bin Walid. Karena kondisi pemerintahan saat itu mengalami guncangan, naiknya Ibrahim sebagai khalifah tidak disetujui oleh sebagian kalangan keluarga Bani Umayyah. Bahkan sebagian ahli sejarah menyebutkan di kalangan sebagian Bani Umayyah ada yang menganggapnya hanya sebagai gubernur, bukan khalifah.

Di antara mereka yang menolak kekhalifahan Ibrahim bin Walid adalah Marwan bin Muhammad. Saat itu ia menjabat gubernur empat wilayah, yaitu Armenia, Kaukasus, Azerbaijan, dan Mosul. Marwan tak hanya menolak baiat atas Ibrahim bin Walid, namun juga mengerahkan 80.000 orang dari Armenia menuju Suriah. Itulah gerakan terbesar yang dihadapi pemerintahan Ibrahim bin Walid.

Untuk menghadapi pasukan besar itu, ia minta bantuan saudara sepupunya, Sulaiman bin Hisyam dan mengangkatnya sebagai Panglima Besar. Utnuk menghadang kekuatan pasukan Marwan bin Muhammad, Panglima Sulaiman segera mengadakan kunjungan ke berbagai daerah dekat Syria dan Palestina serta beberapa daerah lainnya. Akhirnya, dari Mesir, Irak dan Hijaz datang bala bantuan yang mencapai 120.000 orang.

Pasukan besar itu berangkat dari Damaskus menuju utara untuk menghadang pasukan Marwan bin Muhammad. Suasana Syria dan sekitarnya cukup tegang. Dua pasukan besar akan segera bertemu. Pertempuran saudara tak mungkin terelakkan.

Gubernur Marwan bin Muhammad bukan hanya pejabat terkenal di daerah Armenia dan sekitarnya, tetapi juga seorang panglima perang tangguh yang matang di medan pertempuran. Berkali-kali ia memimpin pasukan perang dan menaklukkan sejumlah wilayah. 

Sedangkan Panglima Sulaiman bin Hisyam sebaliknya. Meski seorang panglima, Sulaiman bin Hisyam dibesarkan di lingkungan istana, bergelut dengan kemewahan. Ia tak begitu menguasai medan peperangan. Karenanya, meski jumlah pasukannya di atas pasukan Marwan, Sulaiman tak mampu berbuat banyak.

Ketika pertempuran pecah, pasukannya porak-poranda. Medan perang dibanjiri darah tentara Sulaiman. Melihat keadaan pasukannya, Sulaiman buru-buru melarikan diri ke Damaskus. Ia segera menghadap Khalifah Ibrahim bin Walid dan menceritakan apa yang terjadi.

Khalifah Ibrahim tak bisa berbuat banyak. Ia tak memiliki pasukan cadangan. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Marwan bin Muhammad. Dengan diiringi keluarganya, ia menemui Gubernur Marwan dan menyerahkan jabatan khalifahnya.

Marwan bin Muhammad memberikan perlindungan kepada Ibrahim bin Walid yang sempat hidup hingga 132 Hijriyah. Ibrahim bin Walid hanya memerintah kurang dari setahun. Menurut Imam As-Suyuthi, ia hanya memerintah selama 70 hari. Selanjutnya, khilafah Bani Umayyah dipimpin oleh Marwan bin Muhammad, khalifah terkahir Bani Umayyah.

 

14. Marwan bin Muhammad (745 – 750)

Penyerahan jabatan khalifah dari Ibrahim bin Walid kepada Marwan bin Muhammad terjadi pada pengujung tahun 126 H (745 M). Khalifah Marwan bin Muhammad menjabat khalifah pada usia 56 tahun. Ia adalah khalifah terakhir Bani Umayyah.

Seperti ditulis Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa', hal pertama yang ia lakukan ketika menjabat khalifah adalah membongkar kuburan Yazid dan menyalibnya. Hal ini ia lakukan karena Yazid telah membunuh Walid.

Sebelum menjabat khalifah, Marwan bin Muhammad adalah seorang panglima perang yang terkenal gigih. Namun ketika menjabat khalifah, keadaan pemerintahan Bani Umayyah tak menentu. Oleh sebab itu, masa pemerintahannya yang hampir enam tahun, banyak diwarnai peperangan. Kendati Marwan bin Muhammad mempunyai kemampuan tangguh, tetapi karena keadaan tak mengizinkan, keruntuhan Bani Umayyah tak terelakkan.

Ancaman itu tak hanya datang dari internal pemerintahan saja, namun juga dari luar. Adalah Kaisar Constantine V yang dikenal gagah berani dalam sejarah imperium Romawi Timur. Setelah Kaisar Constantine V berhasil mengamankan negerinya, pemerintahan Bani Umayyah mulai terancam.

Pada tahun 745 Masehi, Kaisar Constantine V melancarkan serangan ke Asia Kecil. Pasukan Islam yang berada di tempat itu terpaksa mundur, dan pada tahun berikutnya pasukan musuh berhasil menguasai perbatasan Syria bagian utara.

Dalam keadaan demikian, Khalifah Marwan bin Muhammad justru sibuk memadamkan berbagai gejolak dalam pemerintahan. Dengan demikian, ancaman dari luar tak kuasa ia halau.

Di antara gejolak yang harus dipadamkan Marwan bin Muhammad adalah gejolak dari daerah Himsh. Khalifah Marwan segera berangkat ke daerah itu dengan pasukannya. Ia berhasil mengamankan daerah itu kembali. Para pemberontak dihukum dan tubuh mereka disalib di tembok-tembok kota Himsh.

Belum usai pemulihan Himsh, muncul gejolak di daerah Bogota, pinggir Damaskus di bawah pimpinan Yazid bin Khalid Ats-Tsauri. Khalifah Marwan segera mengirimkan pasukan dan berhasil mengamankan daerah itu kembali. Di Palestina pun muncul gejolak, Khalifah Marwan mengirimkan pasukan besar di bawah pimpinan Abul Wardi bin Kautsar. Gejolak itu pun bisa dipadamkan.

Sementara itu, di Irak di bawah pimpinan Dhahak bin Qais Asy-Syaibani, kaum Khawarij memberontak. Gubernur Irak, Abdurrahman bin Umar, berangkat dari Kufah untuk memadamkan gejolak itu. Namun pasukannya kalah dan dia sendiri gugur dalam pertempuran. Dhahak bin Qais berhasil menguasai seluruh lembah Irak dari Kufah sampai ke Mosul belahan utara.

Khalifah Marwan bergerak bersama pasukannya menuju Irak. Lagi-lagi dia menunjukkan kemampuannya. Pasukan Khawarij porak-poranda. Dhahak bin Qais sendiri gugur. Sisa-sisa pasukannya sendiri kocar-kacir melarikan diri.

Pada saat mengamankan lembah Irak itu, mendadak muncul lagi gejolak di Kufah. Kali ini digerakkan oleh Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib dari keluarga Hasyim. Khalifah Marwan terpaksa kembali ke Kufah dan memadamkan kerusuhan tersebut. Pemuka pasukan itu melarikan diri ke Khurasan. Namun di sana ia ditangkap oleh Abu Muslim Al-Khurasani dan dijatuhi hukuman mati.

Keadaan pemerintahan Umayyah yang tidak menentu dimanfaatkan oleh gerakan Abbasiyah. Gerakan yang sudah dibina bertahun-tahun di bawah tanah itu segera menampakkan diri.

Di bawah pimpinan Abu Muslim Al-Khurasani, gerakan Abbasiyah meledak. Setelah berhasil menguasai wilayah Khurasan, lalu Iran, pasukan Abbasiyah bergerak ke Irak dan menghancurkan pasukan Khalifah Marwan. Khalifah terakhir Bani Umayyah itu melarikan diri ke Mosul, Hauran, Syria, dan terakhir ke Mesir. Di sana ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Panglima Shalih bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Kepalanya dikirim kepada keponakannya, Khalifah Abul Abbas Ash-Shaffah di Kufah.

Khalifah Marwan bin Muhammad wafat pada tahun 132 H dalam usia 62 tahun. Masa pemerintahannya hanya lima tahun 10 bulan. Ada kisah unik yang dipaparkan Imam As-Suyuthi. Ketika Marwan terbunuh, kepalanya dipotong dan dibawa ke hadapan Abdullah bin Ali. Orang-orang tak sempat memerhatikan penggalan kepala itu. Tiba-tiba datang seekor kucing dan menggigit lidah Marwan bin Muhammad lalu menelannya!

Abdullah bin Ali berkata, "Seandainya dunia ini tidak memperlihatkan kepada kita keajaibannya kecuali adanya lidah Marwan dalam mulut kucing. Itu sudah kita anggap keajaiban paling besar."

Dengan meninggalnya Marwan, berakhir pula kekuasaan Bani Umayyah.


Bagikan Halaman ini