Sejarah Khilafah Abbasiyah (Bag. 3)
  • Posted: 04/05/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Sejarah Khilafah Abbasiyah (Bag. 3)

PENGANTAR

Sejarah ibarat pisau bermata dua. Pada satu sisi, sejarah bisa menjadi informasi politik yang meneguhkan umat Islam dengan sistem khilafahnya yang ideal. Namun, pada sisi lain, sejarah pun bisa digunakan untuk meruntuhkan mental mereka, dengan penyimpangan dan kesalahan-kesalahan sejarah, yang bahkan sangat memalukan. Dua sisi ini tentu selalu ada dalam buku sejarah, siapa pun penulisnya dan bagaimana pun metode penulisannya. Karena itulah, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya, Nizham al Islam, menjelaskan bahwa sejarah tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum sebagaimana al Qur’an, as Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Meskipun tidak bisa menjadi sumber hukum, sejarah tetap menjadi sumber informasi yang penting bagi umat Islam. Karena dari sejarah, kita bisa belajar kesalahan dari berbagai kebijakan yang pernah terjadi di masa lalu agar tidak terulang kembali. Dengan demikian, kita tidak akan terperosok pada lubang yang sama dua kali. Begitulah, yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana cara kita membaca sejarah.

Karena itu, ketika kita melihat berbagai kesalahan sejarah, seperti saat Mu'awiyah mengangkat Yazid ibn Mu'awiyah sebagai putra mahkota, proses bai'at yang dilakukan dengan ikrah wa ijbar (paksaan), bukan ridha wa ikhtiar (suka rela), misalnya, kita mesti melihatnya sebagai kekeliruan manusia (human error) dalam menerapkan Islam. Bukan dilihat sebagai kesalahan Islam dan sistem khilafah. Peristiwa ini bisa saja terjadi karena faktor manusia yang tidak maksum.

Hanya saja, kekeliruan-kekeliruan seperti ini tidak bisa digunakan untuk mendelegitimasi kesempurnaan dan kredibilitas Islam sebagai sistem ilahiah yang sempurna, termasuk di dalamnya sistem khilafah yang merupakan satu-satunya sistem pemerintahan dan politik yang diwariskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kompilasi sejarah para khalifah yang anda baca di bawah ini diambil dari buku "Sejarah Para Khalifah" karya Hepi Andi Bastoni. Semoga para pembaca bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini. Selamat membaca..

Penyusun
Ahmad Sudrajat

 

SEJARAH PARA KHALIFAH

DAULAH ABBASIYYAH (750 – 1507 M)

BAGIAN III

 

25. AL QADIR BILLAH (991 – 1031 M)

Al-Qadir Billah dilahirkan pada 336 H. Ibunya seorang mantan budak bernama Tumna. Dalam Tarikh Baghdad disebutkan namanya, Yumna. Ada pula yang menyebutnya Dumnah. Nama Al-Qadir adalah Ahmad bin Ishaq bin Al-Muqtadir.

Dia dilantik sebagai khalifah Daulah Abbasiyah ke-25 (991-1031 M) setelah pengunduran diri Ath-Tha'i. Saat pelantikan ia tidak berada di Baghdad. Dia baru datang pada 10 Ramadhan, yaitu keesokan harinya setelah pelantikan.

Pelantikan Khalifah Al-Qadir disambut suka cita oleh seluruh penduduk negeri. Sebab sebelum dilantik sebagai khalifah, Al-Qadir dikenal berbudi mulia, memiliki komitmen keagamaan yang mantap, memiliki wibawa, selalu melakukan shalat tahajud, banyak melakukan tindakan-tindakan terpuji, dan banyak bersedekah.

Pada bulan Syawwal, terjadilah kesepakatan antara Al-Qadir dengan Baha Ad-Daulah. Mereka saling bersumpah untuk menepati kesepakatan. Khalifah Al-Qadir memberikan tugas khusus kepadanya.

Pada 394 H, Baha Ad-Daulah menugaskan Asy-Syarif Abu Ahmad Al-Husain bin Musa Al-Musawi untuk menjabat di pengadilan dalam masalah-masalah haji, pidana, dan masalah-masalah perdata. Baha Ad-Daulah menuliskan hal ini dari Syairaz. Namun Asy-Syarif tidak melaksanakannya karena tidak mendapat izin dari Al-Qadir.

Pada 395 H, terjadi permusuhan antara orang-orang Syi'ah dan Sunni. Saat itu, Syekh Abu Hamid Al-Isfirayini nyaris terbunuh. Mengetahui keadaan yang bisa membahayakan keamanan negara itu, Khalifah Al-Qadir bertindak cepat. Ia memerintahkan para tentaranya untuk mengamankan golongan Ahlus Sunnah dari ancaman kaum Syi'ah Rafidhah yang ingin membunuh para ulama Ahlus Sunnah.

Pada 399 H, Abu Amr dicopot dari jabatannya sebagai hakim di Bashrah. Sedangkan sebagai penggantinya diangkatlah Abu Al-Hasan bin Abu Asy-Syawarib. Pada tahun ini pemerintahan Bani Umayyah di Andalusia mengalami kemerosotan yang sangat parah dan sistem pemerintahannya morat-marit.

Amirul Umara Baha Ad-Daulah meninggal pada 403 H dalam usia 42 tahun setelah berkuasa selama 24 tahun 9 bulan. Ia digantikan oleh putranya Abu Syuja' dengan panggilan Sulthan Ad-Daulah yang berkuasa selama delapan tahun.

Ia pun digantikan oleh saudaranya, Abu Ali, dengan panggilan Musyrif Ad-Daulah. Selanjutnya tokoh ini hanya berkuasa selama enam tahun, ia pun digantikan oleh saudaranya, Abu Thahir, dengan julukan Jalal Ad-Daulah.

Pada masa inilah Khalifah Al-Qadir wafat. Ia meninggal dunia pada Senin 11 Dzulhijjah 423 H. Masa pemerintahannya berlangsung selama 40 tahun tiga bulan.

 

26. AL QA’IM BIAMRILLAH (1031 – 1075 M)

Abu Ja'far Al-Qaim Biamrillah, nama aslinya Abdullah bin Al-Qadir. Dilahirkan pada Dzulqa'dah 391 H. Ibunya seorang mantan budak dari Armenia bernama Badar Ad-Duja, namun ada pula yang menyebutnya Qathr An-Nada.

Al-Qaim diangkat sebagai khalifah Daulah Abbasiyah ke-26 (1031-1075 M) pada Dzulhijjah 423 H, bergelar Al-Qaim Biamrillah pemberian ayahnya. Ibnu Atsir berkata tentang Al-Qaim, "Dia adalah lelaki yang tampan, wajahnya rupawan, kulitnya putih kemerahan dan tubuhnya semampai. Dia juga seorang yang wara', taat beragama, zuhud, banyak bersedekah dan memiliki keyakinan dan kesabaran yang tinggi. Dia juga memiliki ilmu yang sangat luas dan mahir dalam bidang tulis-menulis."

Pada 1034 Masehi, terjadi malapetaka dahsyat di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya. Bermula dari gempa besar yang berlangsung hingga 40 hari. Disusul kemarau panjang dan berjangkitnya penyakit menular.

Ketika musibah itu berakhir, Khalifah Al-Qadir dan Amirul Umara Jalal Ad-Daulah bekerjasama melakukan berbagai perbaikan. Semua pihak menaruh hormat kepada Jalal Ad-Daulah. Suasana itu digunakan oleh Jalal Ad-Daulah untuk merombak gelar kehormatannya. Ia meresmikan dirinya dengan panggilan Mulk Al-Mulk (Raja Diraja). Khalifah Al-Qadir tidak keberatan atas hal itu.

Namun ia tak bisa menikmati gelarnya itu. Ia hanya bertahan empat tahun. Pada 433 H, ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Jabatannya digantikan oleh Abu Kaliger putra Sulthan Ad-Daulah yang dipanggil dengan sebutan Mulk Muhyiddin.

Pada Dzulhijjah 450 H, seorang berkebangsaan Turki bernama Arsalan yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Basasiri, menangkap Khalifah Al-Qaim. Dulunya ia adalah budak Turki yang dibeli oleh Baha Ad-Daulah.

Terjadi pertempuran sengit selama satu bulan di Baghdad antara khalifah dan pasukan Al-Basasiri yang membawa panji-panji pemerintahan Mesir. Al-Basasiri membawa Al-Qaim ke Anah dan memenjarakannya di tempat itu.

Diam-diam, Khalifah Al-Qaim berhasil melakukan surat-menyurat dengan Amir Toghrul Bek bin Mikail dari Bani Seljuk. Dengan pasukan besar, Toghrul Bek segera maju merebut wilayah Khurasan.

Terakhir, ia berhasil masuk Baghdad dan menangkap Mulk Abdur Rahim, putra Mulk Muhyiddin, yang menentang Al-Qadir. Toghrul Bek memasukkan Mulk Abdur Rahim ke dalam penjara hingga meninggal dunia. Dengan demikian, berakhirlah riwayat kekuasaan keluarga Buwaih.

Belakangan karena keberhasilannya itu, Toghrul Bek dianugerahi gelar Mulk oleh Khalifah Al-Qaim. Sejak itu, Panglima Besar keturunan Bani Seljuk ini dikenal dengan Mulk Toghrul Bek.

Namun setelah itu, Arsalan atau Al-Basasiri menulis surat kepada pejabat yang memerintah di Anah agar membebaskan khalifah secara terhormat. Akhirnya, khalifah Al-Qaim kembali menduduki kursi kehormatannya pada 25 Dzulqa'dah 451 H.

Setelah khalifah kembali, Mulk Toghrul Bek mempersiapkan tentara untuk menggempur Al-Basasiri dan berhasil membunuhnya. Setelah pulang dari penjara, khalifah tidak pernah tidur kecuali di tempat ia shalat, dan terus-menerus berpuasa dan shalat malam, memberi ampunan kepada siapa saja yang menganiayanya.

Pada malam Kamis, 13 Sya'ban 467 H, Khalifah Al-Qaim Biamrillah wafat. Penyebabnya adalah keluarnya darah dari hidungnya, dan dia menutup hidungnya dengan agar darah berhenti keluar. Namun ketika tertidur, sumbatan hidungnya terlepas, dan mengalirlah darah yang begitu banyak dari hidungnya. Ketika bangun kekuatannya telah habis.

Khalifah kemudian meminta cucunya Abdullah bin Muhammad untuk menjadi putra mahkota, dan memberikan beberapa nasihat kepadanya. Ia pun menghembuskan nafas terakhir. Al-Qaim menjadi khalifah selama 45 tahun.

 

27. AL MUQTADI BIAMRILLAH (1075 – 1094 M)

Para tokoh terkemuka di Baghdad sempat membicarakan siapa yang akan menggantikan Khalifah Al-Qaim. Pembicaraan itu berlangsung di bawah pimpinan Menteri Nizham Al-Muluk yang mewakili Sultan Malik Syah. Pilihan akhirnya jatuh pada Al-Muqtadi Biamrillah. Hal ini sesuai dengan wasiat Khalifah Al-Qaim sebelumnya.

Namanya Abul Qasim Abdullah bin Adz-Dzakhirah Abul Abbas Muhammad bin Al-Qasim Biamrillah. Ayahnya meninggal saat Khalifah Al-Qaim masih hidup. Saat itu dia masih berada dalam kandungan.

Dia dilahirkan enam bulan setelah kematian ayahnya. Ibunya seorang mantan budak bernama Arjuwan dari keturunan Seljuk. Konon ibunya diberi gelar Qurratu A'yun. Ia sempat menikmati masa pemerintahan anaknya, juga kekhalifahan Al-Mustazhir Billah dan Al-Mustarsyid Billah.

Dia dilantik sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-27 (1075-1094 M) setelah kakeknya meninggal. Saat itu Al-Muqtadi berumur 19 tahun 3 bulan. Pembaiatannya sebagai khalifah dihadiri oleh seorang ulama besar, yaitu Sykeh Abu Ishaq Asy-Syairazi dan Ibnu Shabbaghah Ad-Damighani.

Al-Muqtadi dikenal sebagai sosok yang taat beragama, memiliki perilaku yang baik, jiwa yang kokoh, serta cita-cita dan keinginan yang tinggi. Dia merupakan salah seorang terpandai di antara Khalifah Bani Abbasiyah.

Pada masanya, pondasi kekhilafahan sangat kokoh dan mantap, serta memiliki kehormatan yang tinggi. Satu hal yang sangat jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya.

Di antara hasil kerja baiknya adalah mengasingkan penyanyi wanita dan wanita yang tidak sopan dari Baghdad. Dia juga memerintahkan kepada setiap rakyat agar tidak masuk ke tempat mandi kecuali menggunakan sarung. Dia juga menghancurkan bangunan-bangunan tempat pengawasan orang-orang mandi dengan tujuan untuk menjaga kehormatan orang yang mandi.

Pada 484 H, orang-orang Eropa menguasai pulau Sisilia. Pulau itu sebenarnya merupakan pulau yang berhasil ditaklukkan orang-orang Islam pada tahun dua ratusan Hijriyah. Pada masa itu yang berkuasa di wilayah tersebut aadalah keluarga Aghlab sebelum datangnya Bani Ubaidi Al-Mahdi dari kalangan Syi'ah di Maroko.

Pada 485 H, Sultan Malik Syah datang ke Baghdad dengan rencana jahat. Dia mengirimkan seorang utusan kepada khalifah dengan membawa sepucuk surat, di dalamnya ia mengatakan, "Khalifah harus menyerahkan Baghdad kepada saya, dan pergilah kemana saja engkau suka!"

Khalifah Al-Muqtadi sangat terkejut mendengar ancaman ini. Dia berkata pada utusan itu, "Beri saya waktu sebulan untuk memikirkan permintaannya."

Namun dengan kasar Malik Syah mengirim kembali utusan itu seraya berkata, "Tak mungkin aku tunda walau hanya satu jam!"

Khalifah akhirnya mengirim utusan kepada pembantu Malik Syah untuk menundanya hingga sepuluh hari. Dalam masa penundaan ini, Malik Syah jatuh sakit lalu meninggal dunia. Peristiwa ini dianggap sebagai karomah yang diberikan Allah kepada khalifah.

Disebutkan bahwa dalam masa-masa penundaan itu, Khalifah Al-Muqtadi selalu melakukan puasa. Jika waktu berbuka tiba, ia duduk di atas debu dan mendoakan semoga Malik Syah celaka. Dan Allah mengabulkan doanya, sehingga sultan tamak itu pergi dijemput ajal.

Saat kematian Sultan Malik Syah, istrinya yang bernama Turkan sengaja merahasiakannya. Setelah kematian suaminya, ia mengirim beberapa utusan kepada beberapa pejabat secara rahasia. Dia meminta mereka agar menyatakan sumpah setia kepada anaknya, Mahmud, dan menjadikannya sebagai sultan. Para pejabat pun menyatakan sumpah setia.

Kemudian Turkan meminta Khalifah Al-Muqtadi untuk mengangkat anaknya sebagai sultan. Al-Muqtadi mengabulkan permintaannya dan menggelari Mahmud dengan Nashir Ad-Dunya wa Ad-Din.

Setelah itu, muncul pemberontakan yang dilakukan saudara Mahmud sendiri yang bernama Barkiyaruq bin Malik Syah. Akhirnya Barkiyaruq diangkat sebagai sultan dengan gelar Rukn Ad-Daulah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam 487 H.

Keesokan harinya, 15 Muharam 487 H, Khalifah Al-Muqtadi meninggal secara mendadak. Disebutkan bahwa salah seorang budaknya yang bernama Syam An-Nahr telah meracuninya.

Setelah khalifah mangkat, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Al-Mustazhir. Masa pemerintahan Al-Muqtadi berlangsung selama 19 tahun 8 bulan kurang dua hari. Usianya ketika wafat 38 tahun 8 bulan 7 hari.

 

28. AL MUSTAZHHIR (1094 – 1118 M)

Al-Mustazhir dilahirkan pada Syawwal 420 H. Dia dilantik sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-28 (1094-1118 M) pada saat kematian ayahnya. Saat itu, usianya baru menginjak 16 tahun dua bulan.

Al-Mustazhir memiliki perilaku lembut, berakhlak mulia, dan berlaku baik kepada setiap orang. Ia banyak beramal saleh, tulisannya indah, dan tidak ada seorang pun yang mampu menyamainya.

Selain itu, ia dikenal sebagai sosok yang mencintai ulama dan orang-orang saleh. Namun demikian, kekhilafahannya tidaklah mulus. Bahkan pemerintahannya selalu berada dalam guncangan yang terus-menerus.

Di awal pemerintahannya, Al-Mustansir Al-Ubaidi, seorang pemimpin Syiah yang berkuasa di Mesir meninggal dunia. Dia digantikan anaknya, Al-Musta'li Ahmad. Di tahun ini, orang-orang Romawi berhasil merebut Balansiyah.

Pada 490 H, Sultan Arsalan Arghun bin Alib Arsalan As-Saljuki, penguasa di Khurasan meninggal dunia, maka kesultanan diserahkan kepada Sultan Barkiyaruq. Negeri itu tunduk di bawah kekuasaannya. Pada tahun ini orang-orang Eropa berhasil mencaplok Nicae.

Pada 492 H, aliran kebatinan menyebar di Isfahan. Pada tahun ini pula orang-orang Eropa berhasil merampas Al-Quds dari tangan umat Islam setelah dikepung selama satu bulan setengah.

Saat itu, lebih dari 70.000 orang dibantai. Di antara mereka yang terbunuh adalah kalangan ulama, ahli ibadah dan orang-orang zuhud. Orang-orang Eropa juga menghancurkan tempat-tempat ibadah kaum Muslimin. Selain itu, mereka menghimpun orang-orang Yahudi di tempat peribadatan mereka, lalu membakarnya.

Pada 498 H, Sultan Barkiyaruq meninggal dunia. Para pembesar mengangkat anaknya yang bernama Jalal Ad-Daulah Malik Syah sebagai penggantinya. Khalifah pun menyetujuinya.

Pada 509 H, Maudud, penguasa Mosul, datang dengan angkatan perang yang sangat besar untuk memerangi orang-orang Eropa yang bercokol di Al-Quds. Akhirnya terjadilah peperangan sengit antara kedua pasukan. Usai pertempuran, Maudud meninggal karena dilukai musuh.

Pada tahun 512 H, Khalifah Al-Mustazhir wafat, tepatnya pada Rabu 13 Rabiul Awwal, dalam usia 41 tahun. Dia memerintah selama 24 tahun 3 bulan 11 hari. Jenazahnya dimandikan Ibnu Aqil, seorang ulama madzhab Hambali.

Sedangkan anaknya, Al-Mustarsyid bertindak sebagai imam. Tak lama setelah kematian khalifah, neneknya yang bernama Arjuwan, ibu dari Al-Muqtadi, juga meninggal dunia.

Ada peristiwa aneh terkait dengan meninggalnya sang khalifah. Ketika Sultan Alep Arsalan meninggal dunia, tak lama kemudian meninggal juga Khalifah Al-Qaim Biamrillah. Ketika Sultan Malik Syah meninggal, wafat juga setelahnya Khalifah Al-Muqtadi Biamrillah.

Ketika Sultan Muhammad meninggal, wafat juga Khalifah Al-Mustazhir Billah. Peristiwa ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap kondisi pemerintahan Bani Abbasiyah yang kehilangan tokoh secara bersamaan.

 

29. AL MUSTARSYID BILLAH (1118 – 1135 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Manshur Al-Fadhl bin Al-Mustazhir Billah. Dikenal sebagai sosok yang mempunyai kepribadian kuat, disiplin, memiliki pemikiran yang cemerlang dan sangat berwibawa. Mampu mengatur masalah negara dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak heran bila ia dicintai rakyatnya.

Al-Mustarsyid dilahirkan pada Rabiul Awwal 485 H. Ibunya mantan budak. Ia dilantik menjadi khalifah Bani Abbasiyah ke-29 (1118-1135 M) ketika ayahnya meninggal pada Rabiul Awwal 512 H.

Ibnu As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi'iyah, mengatakan di awal-awal pemerintahannya Al-Mustarsyid menjadi seorang ahli ibadah. Ia sering menyendiri di tempat ibadah dan memakai kain wol yang kasar. Namanya ditulis dalam mata uang pada 488 H. Khalifah acap kali melakukan koreksi dengan memberikan masukan kepada sekretarisnya.

Berbeda dengan para khalifah sebelumnya yang rela menyesuaikan diri dengan kedudukannya dan bersedia menjadi sekedar lambang kekuasaan. Khalifah Al-Mustarsyid ingin memulihkan wewenang dan wibawa khalifah. Apalagi saat itu ia melihat sengketa antara keluarga Bani Seljuk dan Sultan Mahmud yang memperebutkan jabatan sultan di Baghdad.

Sultan Mahmud lebih banyak berada di luar Baghdad untuk menghadapi lawan-lawan politik yang ingin menumbangkannya. Khalifah Al-Mustarsyid berkesempatan membuat pasukan sendiri di Baghdad dengan alasan menjaga keamanan ketika Sultan Mahmud tidak ada. Belakangan, pasukan itu menjadi kekuatan besar dan tangguh.

Masa pemerintahan Al-Mustarsyid sempat dikotori oleh banyaknya rongrongan dan gangguan dari para pemberontak. Hampir semua pemberontakan yang ada dihadapi langsung oleh khalifah dengan gagah berani tanpa kenal takut. Pemberontakan yang terbesar adalah yang terjadi di Irak di mana akhirnya khalifah mengalami kekalahan.

Pada 525 H, Sultan Mahmud bin Muhammad Malik Syah meninggal dunia. Ia digantikan anaknya yang bernama Dawud. Tak lama kemudian terjadilah pemberontakan yang dilakukan pamannya, Mas'ud bin Muhammad.

Setelah sekian lama berperang, keduanya mengadakan perjanjian damai dan membagi wilayah kekuasaan menjadi dua. Keduanya menjadi raja kecil di wilayah itu. Kemudian Khalifah Al-Mustarsyid menobatkan keduanya sebagai sultan.

Ketika terjadi perselisihan antara khalifah dan Mas'ud, khalifah memeranginya. Saat kedua pasukan bertemu, banyak tentara khalifah yang melakukan pengkhianatan, sehingga akhirnya peperangan dimenangkan oleh tentara Mas'ud. Khalifah bersama para panglima perangnya akhirnya ditawan dalam sebuah benteng di Hamadzan.

Berita tertangkapnya khalifah segera tersiar luas di Baghdad. Banyak penduduk Baghdad yang menyesali tertangkapnya khalifah. Mereka meminta agar sang pemimpin dibebaskan.

Sultan Sanjar mengirimkan utusan kepada saudaranya, Mas'ud, agar membebaskan khalifah. Hal ini didorong oleh protes massal yang dilakukan penduduk Baghdad. Akhirnya Mas'ud menuruti saran saudaranya itu, khalifah dibebaskan dengan syarat mencium bumi dan ia meminta khalifah mengampuni apa yang telah dilakukannya.

Tak lama kemudian, Sultan Sanjar utusan disertai sejumlah tentara. Namun tentaranya disusupi oleh orang-orang dari kelompok Bathiniyah yang bermaksud membunuh khalifah.

Ibnul Atsir menyebutkan, ada 24 orang Bathiniyah yang masuk ke kemah khalifah. Mereka membunuh Khalifah Al-Mustarsyid dengan sadis. Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 17 Dzulqa'dah 529 H. Saat itu usia Khalifah Al-Mustarsyid 43 tahun, masa pemerintahannya 17 tahun 6 bulan 20 hari.

Mengenai hal ini ada dua pendapat yang beredar. Pendapat pertama mengatakan, Mas'ud tidak tahu-menahu tentang hal itu dan semuanya di luar koordinasinya. Pendapat kedua mengatakan, Mas'udlah yang merencanakan semua itu untuk membunuh khalifah.

Pasukan penyusup itu kemudian menyerang dan membunuh khalifah beserta para pengawalnya. Kejadian itu tidak sempat diketahui oleh para tentara yang lain. Ketika mengetahui khalifah terbunuh, mereka segera mencari penyusup itu dan membunuhnya.

 

30. AR RASYID BILLAH (1135-1136 M)

Abu Ja'far Ar-Rasyid Billah, nama aslinya Manshur bin Al-Mustarsyid. Dia dilahirkan pada 502 H. Ibunya mantan budak. Disebutkan bahwa saat melahirkannya sang ibu mengalami kesulitan. Hingga akhirnya dipanggillah para dokter untuk membuka tempat keluarnya bayi. Dan dengan izin Allah, bayi itu berhasil dikeluarkan.

Ar-Rasyid memiliki wajah yang tampan, dan seorang dermawan. Dia dikenal fasih dan berwawasan luas. Ia seorang penyair, pemberani, murah hati, berperilaku baik, adil, dan membenci kejahatan.

Ayahnya menobatkannya sebagai putra mahkota pada 523 H. Ia dilantik sebagai khalifah pada saat ayahnya dibunuh pada Dzulqa'dah 529 H. Ia merupakan khalifah Daulah Abbasiyah ke-30 (1135-1136 M), dan dilantik menjadi khalifah pada usia 27 tahun.

Ar-Rasyid memerintah dalam tempo yang singkat, hanya 11 bulan. Hal itu disebabkan Ar-Rasyid ingin melanjutkan langkah-langkah yang telah ditempuh ayahnya dalam upaya memulihkan wewenang khalifah. Dan hal ini sangat tidak disukai Sultan Mas'ud, hingga mengakibatkan sengketa panjang antara khalifah dan sultan.

Setelah upacara pembaiatan khalifah di Baghdad selesai, Sultan Mas'ud beserta pengawalnya berangkat ke kota Ray. Di kota itu terdapat sebuah istana yang biasa digunakan oleh para Sultan Seljuk untuk bersantai.

Keberangkatan Sultan Mas'ud dengan dikawal pasukannya itu dipandang oleh khalifah merupakan saat yang tepat untuk melakukan surat-menyurat dengan para amir setempat. Termasuk Amir Dawud yang menjabat sebagai penguasai wilayah Azerbaijan dan Imaduddin Zanki yang menjabat sebagai pemimpin Mosul. Amir Dawud sebelumnya adalah seorang sultan, namun karena berselisih dengan Mas'ud, ia diturunkan dari jabatannya.

Ketika Sultan Mas'ud keluar ibukota, saat itulah Khalifah Ar-Rasyid mengundang para amir setempat untuk datang ke Baghdad. Mereka datang dengan membawa pasukan masing-masing. Berlangsunglah perundingan terakhir dan mencapai kesepakatan untuk menobatkan kembali Amir Dawud sebagai sultan menggantikan Sultan Mas'ud. Dalam upacara penobatan itu diumumkanlah pemecatan Sultan Mas'ud oleh Khalifah Ar-Rasyid.

Ketika Sultan Mas'ud mendengar berita pemecatannya dan penobatan Amir Dawud sebagai sultan, bangkitlah kemarahannya. Namun ia masih mampu menahan diri. Ia pun mempersiapkan kekuatan di kota Ray untuk menghadapi pasukan gabungan di ibukota itu.

Akhirnya Baghdad berhasil dikuasai oleh Sultan Mas'ud. Sultan Dawud sendiri dengan pasukannya terpaksa pulang kembali ke Azerbaijan. Sementara Imaduddin Zanki dan Khalifah Ar-Rasyid terpaksa mundur ke Mosul.

Sultan Mas'ud segera mengumpulkan para pemuka masyarakat ibukota beserta pembesar pemerintahan. Dalam majelis itu, dia memperlihatkan supucuk surat yang ditulis dan ditandatangani sendiri oleh Khalifah Ar-Rasyid. Isinya memuat pernyataan pengangkatan Ar-Rasyid sebagai khalifah harus memperoleh restu dan persetujuan Sultan Mas'ud, dengan ketentuan bahwa Khalifah Ar-Rasyid tidak akan menggerakkan suatu perlawanan terhadap Sultan Mas'ud, seperti yang dilakukan bapaknya.

Di antara isi surat itu, "Sungguh kalau aku keluar memerangi salah seorang sultan dengan pedang, maka otomatis aku melepaskan kekhalifahan."

Ketika surat tersebut terbukti keasliannya, maka majelis memutuskan pemecatan Khalifah Ar-Rasyid berdasarkan fatwa qudhat (para hakim) dan fuqaha (para ahli hukum). Yang melaksanakan eksekusi pencopotan khalifah adalah Abu Thahir bin Al-Karkhi, seorang hakim wilayah itu. Lalu mereka beramai-ramai membaiat Muhammad bin Al-Mustazhir, paman Ar-Rasyid. Ia diberi gelar Al-Muqtafi Liamrillah. Peristiwa ini terjadi pada 16 Dzulqa'dah 530 H.

Tatkala berita tentang pencopotan dirinya sampai kepada Ar-Rasyid, ia segera pergi dari Mosul menuju Azerbaijan dengan ditemani beberapa orang. Mereka membawa perbekalan dari Muraghah, kemudian memutuskan istirahat di tempat itu. Baru setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke Hamadzan. Mereka mengumpulkan para ulama kemudian melanjutkan perjalanan ke Isfahan dan menduduki wilayah itu.

Ar-Rasyid menderita sakit keras di Isfahan. Pada saat itulah, sekelompok orang tiba-tiba datang menemuinya. Mereka menyamar sebagai pelayan dan membunuh Ar-Rasyid dengan pisau. Namun para pembunuh ini pun kemudian terbunuh juga.

Peristiwa ini terjadi pada 16 Ramadhan 531 H. Dengan demikian, masa kekhalifahannya hanya 11 bulan 11 hari. Saat kabar kematiannya sampai ke Baghdad, penduduk negeri itu menyatakan bela sungkawa dengan tidak mengadakan aktivitas selama sehari penuh.


Bagikan Halaman ini