Sejarah Khilafah Abbasiyah (Bag. 2)
  • Posted: 04/05/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Sejarah Khilafah Abbasiyah (Bag. 2)

PENGANTAR

Sejarah ibarat pisau bermata dua. Pada satu sisi, sejarah bisa menjadi informasi politik yang meneguhkan umat Islam dengan sistem khilafahnya yang ideal. Namun, pada sisi lain, sejarah pun bisa digunakan untuk meruntuhkan mental mereka, dengan penyimpangan dan kesalahan-kesalahan sejarah, yang bahkan sangat memalukan. Dua sisi ini tentu selalu ada dalam buku sejarah, siapa pun penulisnya dan bagaimana pun metode penulisannya. Karena itulah, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya, Nizham al Islam, menjelaskan bahwa sejarah tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum sebagaimana al Qur’an, as Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Meskipun tidak bisa menjadi sumber hukum, sejarah tetap menjadi sumber informasi yang penting bagi umat Islam. Karena dari sejarah, kita bisa belajar kesalahan dari berbagai kebijakan yang pernah terjadi di masa lalu agar tidak terulang kembali. Dengan demikian, kita tidak akan terperosok pada lubang yang sama dua kali. Begitulah, yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana cara kita membaca sejarah.

Karena itu, ketika kita melihat berbagai kesalahan sejarah, seperti saat Mu'awiyah mengangkat Yazid ibn Mu'awiyah sebagai putra mahkota, proses bai'at yang dilakukan dengan ikrah wa ijbar (paksaan), bukan ridha wa ikhtiar (suka rela), misalnya, kita mesti melihatnya sebagai kekeliruan manusia (human error) dalam menerapkan Islam. Bukan dilihat sebagai kesalahan Islam dan sistem khilafah. Peristiwa ini bisa saja terjadi karena faktor manusia yang tidak maksum.

Hanya saja, kekeliruan-kekeliruan seperti ini tidak bisa digunakan untuk mendelegitimasi kesempurnaan dan kredibilitas Islam sebagai sistem ilahiah yang sempurna, termasuk di dalamnya sistem khilafah yang merupakan satu-satunya sistem pemerintahan dan politik yang diwariskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kompilasi sejarah para khalifah yang anda baca di bawah ini diambil dari buku "Sejarah Para Khalifah" karya Hepi Andi Bastoni. Semoga para pembaca bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini. Selamat membaca..

Penyusun
Ahmad Sudrajat

 

SEJARAH PARA KHALIFAH

DAULAH ABBASIYYAH (750 – 1507 M) BAGIAN II

 

14. AL MUHTADI BILLAH (869 – 870 M)

Nama lengkap Al-Muhtadi (869-870 M) adalah Abu Ishaq Muhammad bin Al-Watsiq bin Al-Mu'tashim bin Harun Ar-Rasyid. Ia dilahirkan pada 219 H. Ada yang mengatakan 215 H. Dia dikenal dengan sebutan Abu Abdillah. Ia adalah putra Khalifah Al-Watsiq.

Khalifah Al-Muhtadi termasuk khalifah yang sangat teguh memegang prinsip. Perilakunya baik, murah hati, dermawan, wara', gemar beribadah, dan zuhud terhadap kesenangan dunia. Joesoef Sou'yb dalam Sejarah Daulah Abbasiyah memaparkan ciri khalifah ini dengan kata-kata, "Ia bukan seorang militer akan tetapi seorang ulama yang menyerahkan hidupnya untuk kepentingan agama. Dan sikap hidupnya taat dan wara'."

Pembaiatannya menjadi khalifah ke-14 Bani Abbasiyah terjadi pada Rabu malam bulan Raja 256 H. Peristiwa itu terjadi ketika Khalifah Al-Mu'taz mengikrarkan diri untuk mundur dari tampuk kekhalifahan dan pengakuan terhadap kelemahannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Ia lebih suka jabatan kekhalifahan diserahkan kepada orang yang dianggap lebih mampu, dalam hal ini ia lebih percaya untuk diserahkan kepada Muhammad bin Al-Watsiq Billah, atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Muhtadi.

Setelah kejadian tersebut, Khalifah Al-Mu'taz segera mengangkat tangan Al-Muhtadi untuk membaiatnya sebagai khalifah, kemudian orang-orang pun mengikuti langkahnya untuk membaiat Al-Muhtadi. Setelah itu ia dibaiat secara khusus oleh Ahlul Halli wal Aqdi dan dibaiat secara massal di atas mimbar oleh rakyat.

Pada akhir Rajab, terjadi peristiwa besar di Baghdad dengan tersebarnya fitnah. Para penduduk mendatangi gubernur Baghdad sebagai perwakilan khalifahnya yang bernama Sulaiman bin Abdullah bin Thahir. Mereka menyerukan kepada gubernur agar segera membaiat Ahmad bin Al-Mutawakkil, saudara kandung Al-Mu'taz. Hal itu terjadi karena para penduduk belum mengetahui peristiwa yang terjadi di Samarra tentang pengangkatan khalifah baru Al-Muhtadi sebagai pengganti Al-Mu'taz.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Khalifah Al-Muhtadi untuk meminta tolong agar dibebaskan dan dihakimi masalah sengketanya dengan orang lain. Khalifah pun menghukumi dan memberi keputusan kepada keduanya.

Khalifah Al-Muhtadi memberikan putusan dengan begitu adil sehingga salah seorang di antara mereka berucap, "Engkau telah menghukumi dan memutuskan perkara di antara kami dengan wajah yang bersih dan putih berseri laksana rembulan yang bersinar, yang tidak menerima orang yang menyuap dalam pengadilannya dan tidak menghiraukan kejahatan orang yang akan menzalimi."

Tatkala Khalifah Al-Muhtadi mendengar perkataan lelaki itu, ia berucap, "Semoga Allah membaguskan apa yang engkau katakan. Sesungguhnya aku tidaklah mengambil manfaat dari apa yang kau katakan tadi, karena sesungguhnya tidaklah aku duduk di mahkamah ini (hakim) sehingga aku membaca dan menghayati ayat Al-Qur'an ini: 'Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.' (QS. Al-Anbiya: 47)."

Orang-orang pun menangis mendengar ucapannya tadi. Tidak pernah ada orang yang menangis lebih banyak jumlahnya daripada hari itu.

Khalifah Al-Muhtadi biasa melakukan puasa berturut-turut sejak dilantik menjadi khalifah hingga terbunuh. Ia sangat suka mengikuti perilaku Khalifah Umar bin Abdul Azis dalam menjalankan pemerintahan, kewara'an, hidup serba kekurangan, banyak ibadah, dan sangat berhati-hati mengambil keputusan. Ada banyak kesamaan antara Umar bin Abdul Azis dengan Al-Muhtadi.

Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa' memaparkan kisah menarik tentang ibadah Khalifah Al-Muhtadi ini. Suatu malam menjealng Isya di bulan Ramadhan, Hasyim bin Qasim sedang menemani Khalifah Al-Muhtadi. Setelah shalat Isya, sang khalifah mengajak Hasyim makan malam.

Sajian malam itu sangat sederhana. Hasyim mengira setelah makanan itu akan ada lagi makanan lainnya. Ketika hal itu disampaikan kepada khalifah, ia menjawab, "Di kalangan Bani Umayyah ada seorang bernama Umar bin Abdul Azis. Engkau tahu bagiamana ia menyikapi dunia ini? Aku cemburu dengan apa yang dilakukan Bani Hasyim. Maka aku mengambil sikap seperti yang engkau saksikan."

Khalifah Al-Muhtadi wafat pada Senin, 14 Rajab 257 H. Ia hanya memerintah setahun kurang lima hari. Ja'far bin Abdul Malik ikut menshalatkan dan menguburkannya dekat makam Al-Muntashir bin Al-Mutawakkil.

 

15. AL MU’TAMID ‘ALALLAH (870 – 892 M)

Al-Mu'tamid Alallah (870-892 M) dilahirkan pada 229 H. Ibunya berasal dari Romawi bernama Fityan. Tatkala Al-Muhtadi—khalifah sebelumnya—terbunuh, Al-Mu'tamid sedang berada dalam penjara Jausaq. Ia pun dikeluarkan dan dilantik sebagai khalifah ke-15 Daulah Abbasiyah.

Al-Mu'tamid mengangkat saudaranya, Thalhah, yang dalam sejarah dikenal dengan Al-Muwaffaq, sebagai Sulthan (pelaksana kekuasaan) sekaligus Qais (panglima besar). Pada saat yang sama dia mengangkat anaknya, Ja'far, sebagai putra mahkota dan menjadikannya sebagai gubernur untuk wilayah Mesir dan Maroko. Dia memberinya gelar Al-Mufawwidh Alallah.

Pada zamannya inilah terjadi pemberontakan orang-orang Zanj yang memasuki Bashrah dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Mereka memasuki Bashrah dengan pedang terhunus, lalu melakukan pengrusakan, pembakaran kota dan penawanan kaum Muslimin. Pada saat itu terjadilah peperangan yang sangat hebat antara kedua pasukan. Komando pasukan tentara di pihak Al-Mu'tamid diserahkan kepada Al-Muwaffaq, saudaranya.

Peperangan melawan Zanj ini berlangsung sejak Al-Mu'tamid menjadi khalifah pada 256 hingga 270 H. Komandan pasukan pemberontak Zanj yang bernama Yahbudz terbunuh. Yahbudz adalah orang yang menolak kenabian Rasulullah Saw dan mengklaim bahwa dirinya mengetahui masalah-masalah gaib.

Pada 260 H, di masa pemerintahan Al-Mu'tamid terjadi kenaikan harga yang sangat fantastis di Hijaz dan Irak. Pada 261 H, Al-Mu'tamid melantik anaknya, Ja'far yang bergelar Al-Mufawwidh Alallah sebagai putra mahkota. Baru setelah itu pada saudaranya, Al-Muwaffaq.

Al-Mu'tamid  memberikan kepada keduanya bendera khusus yang berbeda. Yakni bendera putih dan hitam. Dia mensyaratkan bahwa jika terjadi sesuatu, maka urusan kekhalifahan hendaknya diserahkan kepada saudaranya jika anaknya belum baligh. Dia menuliskan kesepakatan tersebut dan meminta hakim agung, Ibnu Abu Asy-Syawarib, untuk menggantungkannya di dinding Ka'bah.

Pada 278 H Khalifah Al-Mu'tamid meninggal dunia secara mendadak. Ada yang mengatakan ia meninggal karena diracun, ada pula yang mengatakan ia meninggal karena mati lemas di tempat tidur.

Khalifah Al-Mu'tamid memerintah selama 22 tahun. Namun dalam pemerintahannya, ia mendapatkan banyak tekanan dari saudaranya, Al-Muwaffaq, yang menguasai medan politik.

Walau demikian, Al-Mu'tamid sempat menorehkan tinta emas dalam hidupnya. Pada masa inilah muncul para tokoh hadits seperti Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H), Abu Dawud (wafat 275 H), Ibnu Majah (wafat 274 H) dan An-Nasa'i (wafat 302 H).

 

16. AL MU’TADHID BILLAH (892 – 902 M)

Al-Mu'tadhid Billah (892-902 M) dilahirkan pada 242 H. Ibunya bernama Shawab. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H setelah pemerintahan pamannya, Al-Mu'tamid.

Al-Mu'tadhid dikenal sebagai khalifah yang pemberani, berwibawa berpenampilan menyeramkan, dan kaya ide. Jika marah kepada seorang komandan perang, maka ia akan memerintahkan agar orang itu segera dimasukkan ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah. Dia juga dikenal sebagai politikus ulung.

Al-Mu'tadhid adalah sosok yang gagah perkasa, keras pendirian dan dikenal sebagai laki-laki sejati. Dia banyak terlibat dalam peperangan. Keutamaan sikapnya dikenal banyak orang. Pada saat yang sama, ia dikenal sebagai seorang lelaki berwibawa yang menjalankan semua urusan dengan sangat baik.

Orang-orang sangat takut melakukan pelanggaran, sehingga pada masa pemerintahannya berbagai gejolak bisa diredam. Masa pemerintahannya dikenal aman dan baik. Dialah yang membebaskan cukai, menebarkan keadilan dan menindak siapa saja yang berlaku zalim terhadap rakyat.

Al-Mu'tadhid juga disebut "As-Saffah II" karena berhasil membangun kembali Dinas Bani Abbasiyah dengan baik setelah sebelumnya mengalami kehancuran dan kemunduran. Bahkan hampir saja dinasti ini hancur. Pada saat terbunuhnya Al-Mutawakkil, dinasti ini mengalami guncangan yang sangat keras.

Di awal tahun pemerintahannya, Al-Mu'tadhid melarang tegas semua pedagang buku menjual buku-buku filsafat dan yang serupa dengannya. Dia juga melarang para tukang tebak dan tukang ramal yang pandai menipu untuk duduk-duduk di pinggir jalan.

Pada 282 H, Al-Mu'tadhid mengharamkan pesta Nairuz, yaitu pesta api dan penuangan air ke ubun-ubun manusia, dan menghapuskan semua perkara berbau Majusi. Al-Mu'tadhid meninggal pada 289 H.

Joesoef Sou'yb dalam karyanya Sejarah Daulah Abbasiyah II menyebut masa pemerintahannya dengan, "Sairat Hazmin wa bathsyin ma'a hilmin, (sejarah ketabahan dan keperkasaan berpadukan kedermawanan)."

 

17. AL MUKTAFI BILLAH (902 – 908 M)

Dia adalah Al-Muktafi Billah Abu Muhammad Ali bin Al-Mu'tadhid bin Amir Abu Ahmad Al-Muwaffaq bin Al-Mutawakkil Alallah (902-908 M). Ibunya orang Turki bernama Jinjaq.

Tak ada seorang khalifah bernama Ali setelah Ali bin Abi Thalib selain dirinya, sebagaimana tak tak ada seorang khalifah pun yang mendapat panggilan Abu Muhammad selain Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hadi dan Al-Muktafi. Secara jasmani, ia termasuk laki-laki yang paling tampan di masanya, bermuka menawan, berambut hitam, berjenggot lebat dan sangat rupawan.

Al-Muktafi Billah lahir pada Rajab 264 H. Ia dilantik menjadi khalifah Daulah Abbasiyah ke-18 ketika ayahnya sakit, pada hari Jumat usai shalat Ashar 19 Rabiul Awwal 289 H, pada usianya yang ke-25. Al-Muktafi hanya memerintah selama 6 tahun 6 bulan 19 hari.

Ketika pelantikan, ia tidak ada di tempat karena sedang berada di Riqqah. Demi berlangsungnya pelantikan, Perdana Menteri Abul Hasan Al-Qasim bin Ubaidillah menggantikan posisinya untuk sementara dan ia mengirimkan surat pelantikan itu kepada Al-Muktafi yang berada di Riqqah.

Al-Muktafi tiba di Baghdad pada 7 Jumadil Ula melewati sungai Dajlah di Samariyah dan merupakan hari yang bersejarah karena ia pernah melewati jembatan di sungai itu berdesak-desakan bersama manusia. Namun Al-Muktafi dapat diselamatkan. Sesampainya di istana, ia disambut para penyair dengan lantunan-lantunan syair.

Pada masa kepemimpinannya yang relatif singkat, ada beberapa kejadian penting yang tercatat dalam sejarah. Pada 289 H, terjadi gempa bumi dahsyat di wilayah Baghdad, dan badai besar di wilayah Bashrah hingga menumbangkan sebagian pohon kurma.

Pada tahun berikutnya, sungai Dajlah meluap mencapai kurang lebih sebelas lengan sehingga kota Baghdad nyaris tenggelam. Pada 293 H terjadi pertempuran antara pasukan Al-Muktafi Billah melawan pasukan Al-Khalanji di Al-Arisy. Pada 295 H terjadi penebusan tawanan kaum Muslimin dari tangan pasukan Romawi, sebanyak tiga ribu kaum Muslimin yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dibebaskan.

Khalifah Al-Muktafi meninggal dunia pada usia yang relatif muda. Ia wafat pada usia 31 tahun pada 7 Dzulqa'dah 296 H, dan ada yang mengatakan tanggal 13 tahun 296 H karena terserang virus babi. Konon ia meninggalkan harta warisan emas senilai seratus juta dinar dan enam puluh ribu helai pakaian. Ia berwasiat agar menyedekahkan hartanya senilai enam ratus ribu dinar yang ia kumpulkan sejak kecil.

Tatkala sakit Al-Muktafi pernah berkata, "Tak ada yang lebih aku sedihkan selain harta kaum Muslimin senilai tujuh ratus ribu yang kupergunakan untuk mendirikan bangunan, padahal aku tidak menghajatkannya dan sama sekali tidak berkepentingan dengannya. Aku khawatir hal ini kelak akan ditanyakan, aku beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa itu."

Ia juga meninggalkan delapan putra dan delapan putri. Di antara putranya adalah Muhammad, Ja'far, Al-Fadhl, Abdullah, Abdul Malik, Abdus Samad, Musa dan Isa.

 

18. AL MUQTADIR BILLAH (908 – 932 M)

Dia adalah Al-Muqtadir Bilah, Abu Fadhl (908-932 M). Nama aslinya Ja’far bin Al-Mu’tadhid. Ia lahir pada Ramadhan 282 H. Diceritakan, ibunya berasal dari keturunan Romawi. Ada pula yang mengatakan ibunya dari keturunan Turki. Tentang nama ibunya, para ahli sejarah juga berbeda pendapat. Ada yang mengatakan namanya Gharib. Ada juga yang mengatakan namanya Syaghab.

Saat kakaknya Al-Muktafi sakit parah, dia ditanya apakah sudah baligh atau belum. Menurutnya, ia sudah baligh karena pernah bermimpi junub. Karena itu ia pun diangkat sebagai putra mahkota.

Di adalah khalifah termuda. Belum pernah ada seorang khalifah yang diangkat sebelumnya yang lebih muda darinya. Ia mulai memerintah sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-18 sejak usia 13 tahun.

Salah seorang menterinya bernama yang bernama Abbas bin Hasan menganggapnya masih terlalu muda. Sang menteri berniat menurunkannya dari kursi kerajaan. Beberapa orang lainnya setuju dengan rencana itu. Mereka mempersiapkan Abdullah bin al-Mu’taz sebagai pengganti. Abdullah setuju dengan syarat peralihan kekuasaan berjalan damai.

Rencana tersebut sampai ke telinga Al-Muqtadir. Ia segera membujuk Abbas dan memberinya sejumlah uang agar tak meneruskan rencana itu. Akhirnya Abbas setuju dan menarik keinginannya. Sedangkan yang lain tetap saja melakukan pemberontakan,. Mereka menyerang Al-Muqtadir pada 20 Rabiul Awwal 296 H.

Al-Muqtadir sendiri menangkap para fuqaha dan pemimpin yang menyatakan pencopotan dirinya. Kemudian dia serahkan kepada Yunus bin Al-Khazin yang kemudian hampir membunuh semuanya. Hanya empat orang tidak dibunuh. Di antaranya hakim Abu Umar yang lolos dari pembunuhan. Ibnu Mu’taz sendiri dipenjarakan. Kemudian dia dikeluarkan dari penjara dalam keadaan menjadi mayat.

Akhirnya kekhalifahan berjalan di bawah pimpinan Al-Muqtadir. Dia mengangkat Abul Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Furat sebagai menterinya. Dia melewati perjalanan hidupnya dengan baik, dan mampu menumpas kezaliman-kezaliman.

Al-Muqtadir memerintahkan orang-orang untuk berbuat adil. Namun karena dia masih terlalu muda, maka banyak perkara yang dia serahkan kepada orang yang dianggap sanggup untuk melakukannya. Al-Muqtadir juga memerintahkan agar tidak menggunakan orang-orang Yahudi dan Nasrani, juga melarang untuk menunggang kendaraan yang berpelana.

Pada 311 H, Al-Muqtadir memerintahkan bahwa warisan yang pernah diambil oleh para kerabat yang sebenarnya tidak berhak, hendaknya dikembalikan kepada ahli warisnya.

Pada tahun 311 H ini juga, Panglima Muknis yang bergelar Al-Muzhaffar melakukan pemberontakan. Pemberontakan ini muncul setelah Muknis mendengar Al-Muqtadir berencana mengangkat Harun bin Gharib menggantikan kedudukannya.

Pada tahun 320 H, Muknis kembali menyerang Khalifah Al-Muqtadir. Dia membawa pasukan yang kebanyakan berasal dari orang-orang Barbar. Muknis berhasil membunuh Al-Muqtadir dengan memenggal kepalanya. Peristiwa ini terjadi pada Rabu 27 Syawwal.

Dengan demikian, berakhirlah riwayat Al-Muqtadir Billah. Ia meninggalkan 12 anak laki-laki. Tiga di antara mereka kelak menjadi khalifah. Mereka adalah Ar-Radhi, Al-Muttaqi dan Al-Muthi’.

 

19. AL QAHIR BILLAH (932 – 934 M)

Rabu, 27 Syawwal 320 H kembali menjadi hari kelam dalam perjalanan kekhilafahan Abbasiyah. Serombongan besar pasukan Barbar yang dipimpin Muknis menyerbu ibukota untuk menggulingkan Khalifah Al-Muqtadir.

Sebelumnya, Muknis adalah seorang khadam (pembantu) khalifah. Namun pengaruh Muknis terlalu besar, hingga ia mampu tampil tak ubahnya seorang diktator yang sanggup mengangkat dan memecat pejabat sesukanya. Dalam serbuan ini, Khalifah Al-Muqtadir gugur.

Abu Manshur Muhammad Al-Qahir Billah (932-934 M) pun naik sebagai khalifah ke-19 menggantikan Al-Muqtadir pada 320 H atau 932 M. Sesuai namanya Al-Qahir yang berarti gagah perkasa, khalifah yang satu ini terkenal berani dan gagah dalam peperangan. Ia ditakuti dan disegani. Ia tak ragu-ragu menumpahkan darah musuhnya.

Namun sebagaimana umumnya manusia, ada kelebihan dan ada pula kekurangannya. Selain dikenal berani dan piawai berperang, ia tamak terhadap harta benda dan sangat keras kebijakannya. Boleh jadi sikap itu muncul karena kegeramannya terhadap situasi kacau yang melanda pemerintahan Abbasiyah sebelumnya di masa pendahulunya, sehingga menimbulkan dendam di hatinya untuk bersikap keras dan bertangan besi setelah menjabat.

Setelah duduk di tampuk kekuasaan, ia segera memerintahkan untuk merampas harta benda perempuan-perempuan gundik (harem) yang selama ini menguasai istana. Ibunda Al-Muqtadir sendiri tak luput dari penggeledahan. Dari ibu khalifah terdahulu ini berhasil dirampas uang sebanyak 60.000 dirham. Padahal angkatan bersenjata kerajaan kala itu sangat kekurangan belanja. Setelah itu, ibunda Al-Muqtadir pun dihukum bunuh.

Ibunda Al-Muqtadir tidaklah seorang diri, banyak orang istana lainnya yang dibunuh. Muknis, sang khadam yang turut berperan dalam pembunuhan Khalifah Al-Muqtadir juga dibunuh.

Usia pemerintahan Al-Qahir tidak berlangsung lama. Hanya dua tahun saja. Penyebabnya mungkin tidak terduga sebelumnya. Begitu banyak orang yang dimusuhi khalifah, bahkan terhadap wazirnya sendiri yang bernama Ibnu Muqlah. Padahal wazir ini terkenal dengan upayanya yang memperbagus (khat) kaligrafi Arab.

Ibnu Muqlah pun lari meninggalkan ibukota dan bersembunyi di kampung-kampung. Propaganda dan hasutan melawan khalifah pun ia tiupkan kepada rakyat. Tidak berhenti sampai di situ, bekas wazir ini juga merancang taktik merenggangkan hubungan khalifah dengan bala tentaranya. Hingga akhirnya seolah khalifah tiada mempunyai teman lagi.

Dan, tragedi kembali berulang. Ketika Khalifah Al-Qahir duduk seorang diri, datanglah sepasukan tentara kerajaan menangkapnya. Ia pun dimakzulkan. Setelah itu, ia dikurung dalam penjara istana yang gelap gulita. Setelah Al-Qahir ditumbangkan, naiklah Ar-Radhi menggantikannya pada 322 H.

 

20. AR RADHI BILLAH (934 – 940 M)

Dia adalah khalifah Daulah Abbasiyah ke-20. Nama Khalifah Ar-Radhi Billah (934-940 M) adalah Abu Al-Abbas Muhammad bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid bin Thalhah bin Al-Mutawakkil. Dia dilahirkan pada 297 H. Ibunya mantan budak yang berasal dari Romawi bernama Zhalum.

Ar-Radhi dilantik sebagai khalifah pada saat Al-Qahir dicopot dari kursi khilafah. Kemudian dia memerintahkan kepada Ibnu Muqlah untuk menuliskan semua kejahatan yang dilakukan Al-Qahir dan memerintahkan untuk membacanya di depan khalayak ramai.

Pada 323 H, pemerintahan Khalifah Ar-Radhi berjalan tenang tanpa gejolak. Ia membagi kekuasaannya dengan anak-anaknya. Dia memberi tugas kepada anaknya, Abu Al-Fadhl, untuk mengatur wilayah timur, sedangkan Abu Ja’far ditugaskan untuk mengurus wilayah bagian barat.

Pada masa kekhalifahannya, persisnya tahun ini pula, terjadi sebuah peristiwa yang sangat bersejarah dan dikenal dengan sebutan Peristiwa Syannabud, yaitu tobatnya Syannabud dari penyimpangannya terhadap Al-Qur'an. Tobatnya Syannabud ini dihadiri pula oleh Al-Wazir Abu Ali bin Muqlah.

Pada saat wibawa kekhalifahan Bani Abbasiyah menurun tajam karena adanya gerakan Qaramithah dan perbuatan-perbuatan bid’ah di berbagai wilayah, muncullah keberanian yang demikian kuat dari pemerintah Bani Umayyah, yang ada di wilayah Andalusia, yang saat itu berada di bawah pimpinan Amir Abdurrahman bin Muhammad Al-Umawi Al-Marwani untuk mendirikan pemerintahan sendiri.

Dia menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin An-Nashir Lidinillah. Dia berhasil menguasai sebagian besar wilayah Andalusia (Spanyol). Dia memiliki wibawa yang sangat besar, semangat jihad yang tinggi dan mampu melakukan penaklukan-penaklukan serta memiliki kepribadian yang menarik dan menakjubkan. Amir Abdurrahman berhasil menaklukkan para pemberontak dan mampu membuka tujuh puluh benteng.

Dengan demikian, pada saat itu ada tiga golongan yang menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin. Pertama, Bani Abbas yang ada di Baghdad; kedua, penguasa Umawi yang ada di Andalusia; dan ketiga, Al-Mahdi di Qairawan.

Pad 328 H, Baghdad tergenang banjir yang tingginya mencapai tujuh belas depa. Banyak manusia dan hewan yang mati dalam bencana banjir ini. Sedangkan pada 329 H, Khalifah Ar-Radhi sakit dan meninggal pada bulan Rabiul Akhir. Pada saat meninggal, dia baru berusia 31 tahun.

Khalifah Ar-Radhi dikenal sebagai seorang yang terbuka dan dermawan, luas ilmunya dan seorang penyair piawai serta bergaul dengan para ulama. Dia memiliki kumpulan syair yang dibukukan.

Al-Khatib menuturkan, “Ar-Radhi memiliki banyak keutamaan. Ia adalah khalifah terakhir yang memiliki kumpulan syair yang dibukukan, dan khalifah terakhir yang mampu melakukan khutbah Jumat. Dia adalah khalifah pertama yang duduk bersama rakyat. Dia banyak melakukan hal-hal yang sesuai dengan cara-cara orang terdahulu, bahkan dalam berpakaian dia juga banyak meniru orang-orang terdahulu.”

Abu Hasan Zarqawaih meriwayatkan dari Ismail Al-Khatabi. Ismail berkata, “Khalifah Ar-Radhi memintaku datang pada malam Idul Fitri, lalu saya datang menemuinya. Khalifah berkata, ‘Wahai Ismail, aku telah meneguhkan tekad untuk melakukan shalat Idul Fitri bersama-sama dengan rakyatku esok hari. Maka apa yang pantas aku ucapkan setelah aku berdoa kepada Allah untuk diriku sendiri?’

Saya merenung sejenak dengan kepala menunduk. Lalu saya katakan padanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, jika selesai berdoa untuk dirimu sendiri, maka ucapkanlah, “Ya Rabb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orangtuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai.” (QS An-Naml: 19).

Khalifah berkata, ‘Cukuplah apa yang engkau katakan.’

Setelah saya pulang, ada seorang pelayan yang mengikutiku dari belakang, dan dia memberiku uang sebanyak empat ratus dinar.”

 

21. AL MUTTAQI LILLAH (940 – 944 M)

Dia adalah Ibrahim bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid (940-944). Ia dilantik menjadi khalifah setelah kematian saudaranya, Ar-Radhi. Saat dilantik menjadi khalifah Bani Abbasiyah ke-21, usianya baru 34 tahun. Ibunya bernama Khalub. Ada juga yang menyebutkan Zahrah.

Dia tak mengadakan perubahan apa-apa dan tidak pernah menggauli budak-budak yang dimilikinya. Dia dikenal sebagai khalifah yang sering berpuasa dan ibadah serta tak pernah minum arak sama sekali. Dia pernah berujar, “Saya tak pernah menjadikan sesuatu sebagai teman selain Al-Qur'an.”

Sebenarnya, dalam pemerintahan Al-Muttaqi tak lebih dari sekedar simbol dan nama. Pada hakikatnya semua masalah negara dikendalikan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Al-Khufi.

Pada 330 H, terjadi pemberontakan yang dipimpin Abu Al-Husain Ali bin Muhammad Al-Baridi. Dengan sigap Khalifah Al-Muttaqi bersama Ibnu Raiq menyongsong serangan pemberontak tersebut. Namun dalam pertempuran itu keduanya kalah dan melarikan diri ke Mosul. Sedangkan Baghdad dan istana khalifah dikuasai Al-Baridi.

Tatkala Khalifah Al-Muttaqi dalam pelariannya sampai ke Tikrit, ia bertemu dengan Abu Al-Hasan Ali dan saudaranya, Al-Hasan. Saat itu Ibnu Raiq dibunuh dengan cara rahasia dan untuk menggantikan posisinya, Al-Muttaqi mengangkat Abu Al-Hasan Ali dan menggelarinya Nashir Ad-Daulah. Ia juga mengangkat Al-Hasan dan memberi gelar Saif Ad-Daulah.

Setelah itu Khalifah Al-Muttaqi kembali ke Baghdad bersama dengan Nashir Ad-Daulah dan Saif Ad-Daulah. Melihat kedatangan tiga orang itu, Al-Baridi melarikan diri ke Wasith.

Pada Ramadhan 331 H, Tuzun masuk Baghdad. Setibanya di Baghdad, Khalifah Al-Muttaqi menobatkannya sebagai pejabat yang mengurus administrasi negara. Namun setelah itu terjadi perselisihan sengit antara Al-Muttaqi dan Tuzun. Untuk mengatasi masalah ini Tuzun segera mengirimkan Ja’far bin Syairad dari Wasith ke Baghdad. Tuzun kemudian memiliki hak penuh di Baghdad dalam memerintah dan melarang.

Melihat gejala tidak sehat ini, Al-Muttaqi segera menulis surat kepada Ibnu Hamdan  untuk datang ke Baghdad. Ibnu Hamdan datang membawa pasukan dalam jumlah besar, sedangkan Ja’far bin Syairad bersembunyi. Al-Muttaqi beserta keluarganya segera menuju Tikrit.

Sedangkan Ibnu Hamdan keluar dengan tentara dalam jumlah besar. Mereka dipersiapkan untuk menggempur Tuzun. Kedua pasukan bertemu di Akbara, ternyata Khalifah dan Ibnu Hamdan kalah dalam peperangan itu. Keduanya melarikan diri ke Mosul.

Akhirnya Khalifah menulis surat kepada Ikhsyid, pejabatnya di Mesir, untuk datang menemuinya. Muncul ketidaksukaan dalam diri Ibnu Hamdan atas tindakan tersebut, maka khalifah mengirim utusan kepada Tuzun untuk berdamai. Tuzun pun menerima tawaran damai yang diajukan khalifah. Perjanjian ini disertai sumpah.

Setelah itu Ikhsyid datang menemui Al-Muttaqi yang saat itu sedang berada di Riqqah. Ikhsyid sendiri telah mendengar perjanjian antara khalifah dengan Tuzun, yang notabene orang Turki.

Ikhsyid berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah abdimu dan anak abdimu. Engkau tahu bagaimana perilaku orang-orang Turki dan bagaimana pengkhiatan mereka dalam masalah janji dan kesepakatan. Maka berhati-hatilah terhadap dirimu sendiri. Saya minta Khalifah berangkat bersama saya ke Mesir karena sesungguhnya wilayah itu adalah milikmu, dan engkau bisa merasa aman.”

Namun Al-Muttaqi tidak menerima tawaran Ikhsyid itu. Ikhsyid pun segera kembali ke Mesir, sedangkan Al-Muttaqi keluar dari Riqqah menuju Baghdad pada 4 Muharram 333 H.

Tuzun datang menjemput Khalifah Al-Muttaqi. Saat keduanya bertemu, Tuzun berjalan kaki dan mencium bumi menyatakan ketaatannya pada sang khalifah. Al-Muttaqi menyuruh Tuzun untuk menaiki kendaraan namun ia tak mau. Ia berjalan kaki mengiringi Al-Muttaqi menuju kemah yang sudah dipersiapkan.

Ketika Al-Muttaqi turun dari kendaraan, dia pun segera diringkus. Ikut diringkus pula Ali bin Muqlah dan orang-orang yang bersamanya. Setelah stempel, selendang dan pedangnya dirampas, Al-Muttaqi dikembalikan ke Baghdad.

Bersamaan dengan itu, Tuzun mendatangkan Abdullah bin Al-Muktafi dan melantiknya sebagai khalifah yang kemudian dia beri gelar Al-Mustafi Billah. Tak sampai setahun Tuzun memegang kendali kekuasaan, dia pun mati.

Sedangkan Al-Muttaqi dibuang ke sebuah pulau dekat Sind dan dipenjara di tempat itu. Setelah mendekam selama 25 tahun dalam penjara, Al-Muttaqi meninggal pada Sya’ban 357 H.

 

22. AL MUSTAKFI BILLAH (944 – 946 M)

Nama aslinya Abdullah bin Al-Muktafi bin Al-Mu'tadhid (944-946 M). Ibunya seorang mantan budak bernama Amlahunas. Dalam sejarah, ia dikenal dengan sebutan Al-Mustakfi Billah atau Abul Qasim.

Al-Mustakfi dilantik sebagai Khalifah Bani Abbasiyah ke-22 setelah pencopotan Al-Muttaqi. Pelantikannya berlangsung pada Shafar 333 H dalam usia 41 tahun.

Setahun masa pemerintahan Al-Mustakfi, Amirul Umara bernama Tuzun meninggal. Salah seorang panglimanya yang terkemuka bernama Abu Ja'far bin Syairazad segera diangkat menggantikan posisinya.

Seperti dituturkan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa', Ibnu Syairazad sangat berambisi terhadap jabatan itu. Bahkan ia sempat mengumpulkan pasukan. Untuk itu, khalifah memberinya posisi penting.

Sementara itu, Panglima Ahmad bin Buwaih yang menguasai wilayah Kirman dan Makram telah maju dengan pasukannya merebut dan menguasai wilayah Ahwaz di sepanjang pinggiran sungai Tigris. Dengan kedudukan itu, ia semakin mendekati Baghdad.

Ketika berita mangkatnya Tuzun sampai ke telinganya, ia bersama pasukannya bergerak menuju Baghdad. Ia hendak merebut jabatan Amirul Umara. Khalifah Al-Mustakfi dan Amir Zairik bin Syairazad terpaksa melarikan diri dari Baghdad. Panglima Ahmad bin Buwaih dan pasukannya menduduki ibukota.

Belakangan Khalifah Al-Mustakfi muncul kembali dan pura-pura menerima kedatangan Panglima Ahmad bin Buwaih. Untuk membuktikan hal itu, ia mengangkat sang panglima sebagai Amirul Umara. Dengan demikian, resmilah Panglima Ahmad bin Buwaih memegang kekuasaan tertinggi dalam Daulah Abbasiyah. Ia pun mengumumkan dirinya dengan panggilan Amir Muiz Ad-Daulah.

Dengan kekuasaan yang dipegangnya, Panglima Buwaih meresmikan wilayah Fars tetap berada di bawah kekuasaan saudaranya dan keturunannya. Ia pun menganugerahkan panggilan untuk saudaranya itu dengan Amir Imadh Ad-Daulah.

Selanjutnya ia meresmikan wilayah Isfahan untuk tetap di bawah kekuasaan saudaranya, Panglima Hasan bin Buwaih beserta keturunannya dan melekatkan panggilan kepadanya dengan julukan Amir Rukn Ad-Daulah.

Dengan demikian, keluarga Buwaih memegang posisi penting yang amat menentukan sejarah Daulah Bani Abbasiyah selanjutnya. Merekalah yang akan mewarnai sejarah dan melakukan perubahan.

Sementara itu, Panglima Zairak bin Syairazad datang menghadap Muiz Ad-Daulah. Dengan kemurahan hatinya, Muiz memberikan jabatan Diwan Jibwatul Amwal (Kepala Jawatan Pajak) kepada Ibnu Syairazad.

Menjelang pengujung 334 H, terbongkar rencana Khalifah Al-Mustakfi yang akan membunuh Amir Muiz Ad-Daulah. Rencana itu disiapkan oleh Qahrimanat Illam yang mendapatkan persetujuan dari sang khalifah.

Muiz Ad-Daulah segera mengirimkan dua orang pembesar dari Jawatan Penyelidik atau Diwan Nuqaba' untuk menyeret sang khalifah dan Qahrimanat ke hadapannya. Sejarah mencatat, betapa Khalifah Al-Mustakfi dan Qahrimanat diseret dari istana dan dibawa menghadap Muiz Ad-Daulah.

Setelah terbukti rencana gelap itu, Khalifah Al-Mustakfi dijebloskan ke penjara. Sedangkan Qahrimanat bin Illam dipotong lidahnya. Khalifah Al-Mustakfi hanya memerintah selama satu tahun empat bulan. Ia masih tetap hidup dalam penjara sampai 335 H dan wafat dalam usia 42 tahun.

 

23. AL MUTHI’ LILLAH (946 – 974 M)

Nama aslinya Al-Fadhl bin Al-Muqtadir bin Al-Mu'tadhid (946-974 M). Ibunya mantan budak bernama Syu'lah. Dia lahir pada 301 H, dan dilantik sebagai khalifah saat Al-Mustakfi dicopot dari kursi kekhalifahan pada Jumadil Akhir 334 H. Muiz Ad-Daulah menetapkan belanja harian untuknya hanya sebesar 100 dinar.

Ia merupakan khalifah Daulah Abbasiyah ke-23 dengan panggilan Al-Muthi' Lillah. Ia diangkat menjadi khalifah pada usia 34 tahun dan sempat menduduki jabatannya selama 29 tahun 5 bulan.

Menurut Joesoef Sou'yb, sang Khalifah bisa memegang kekuasaan demikian lama karena ia rela menerima kedudukannya sebagai lambang kekuasaan semata. Sedangkan kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Muiz Ad-Daulah yang berkuasa selama 22 tahun.

Kalau beberapa khalifah sebelumnya masih mempunyai kekuasaan tertentu dan masih ada menteri yang mendampinginya, namun sejak keluarga Buwaih memegang tampuk kekuasaan, maka hampir seluruh wewenang khalifah dicopot. Ia hanya dijadikan lambang kekuasaan semata. Khalifah hanya didampingi oleh seorang sekretaris yang bertugas mencatat dan mengurus anggaran belanja sang Khalifah.

Khalifah tidak lagi berhak mengambil jatah sesukanya dari Baitul Mal. Baginya telah ditetapkan anggaran tertentu, baik bagi dirinya maupun tamu dan pejabat istana. Lambang kekuasaan hanya berada pada doa khutbah Jumat dan Hari Raya. Khalifah Al-Muthi' hanya memegang stempel dan menandatangani surat-surat resmi dalam hal-hal tertentu saja.

Pada 338 H, Muiz Ad-Daulah meminta Al-Muthi' untuk melibatkan saudara Ali bin Buwaih, Imad Ad-Daulah, dalam masalah pemerintahan. Imad Ad-Daulah ingin menjadi pengganti Al-Muthi'. Al-Muthi' memenuhi apa yang ia minta, namun Imad Ad-Daulah keburu meninggal pada tahun itu juga. Akhirnya, Al-Muthi' mengangkat saudaranya, Rukn Ad-Daulah, yang tak lain adalah ayah dari Adhat Ad-Daulah.

Pada 354 H, saudari Muiz Ad-Daulah meninggal dunia. Al-Muthi' datang ke rumah Muiz Ad-Daulah untuk takziyah dengan menggunakan kendaraan. Setelah sampai di kediaman Muiz, Khalifah tidak turun dari tempat karena adanya rasa pesimis. Dia hanya mencium tanah beberapa kali, setelah itu kembali lagi ke istananya.

Pada 356 H, Muiz Ad-Daulah meninggal dunia. Anaknya yang bernama Bakhtiar menggantikan posisi ayahnya yang oleh Al-Muthi' diberi gelar Izz Ad-Daulah. Ternyata sang anak berbeda dengan ayahnya. Ketika utusan Irak Utara datang ke Baghdad dan meminta bantuan dan melaporkan keganasan pasukan Byzantium, Izz Ad-Daulah segera menemui Al-Muthi'.

Sejarah mencatat jawaban Khalifah Al-Muthi' kala itu, "Aku tidak mempunyai apa-apa kecuali khutbah. Kalau kau ingin, aku akan mengundurkan diri."

Izz Ad-Daulah mengancam dan mengingatkan nasib para khalifah sebelumnya. Khalifah Al-Muthi' terpaksa menjual perhiasan yang ia miliki untuk memenuhi tuntutan itu. Namun ternyata, harta itu tidak digunakan untuk bantuan ke Irak, tapi dipakai untuk pelesiran dan foya-foya. Bahkan Izz Ad-Daulah sempat menghina dan menyiksa utusan perwira Turki yang ikut dalam pasukan itu.

Pada 363 H, Al-Muthi' diserang penyakit lumpuh sehingga ia tak mampu bicara. Maka pengawal Izz Ad-Daulah meminta Al-Muthi' untuk mengundurkan diri dari kekhalifahan dan segera menyerahkannya kepada anaknya yang bernama Ath-Tha'i Lillah.

Al-Muthi' menuruti saran tersebut. Pengunduran resminya dia nyatakan pada Rabu 13 Dzulqa'dah. Dengan demikian masa pemerintahan Al-Muthi' adalah 29 tahun lebih lima bulan. Pengunduran dirinya dikokohkan oleh Qadhi Ibni Syaiban. Setelah pengunduran dirinya, Al-Muthi' disebut sebagai Syekh Al-Fadhl (sesepuh yang mulia).

Pada Muharram 364 H, Al-Muthi' melakukan perjalanan bersama anaknya ke Wasith. Dia meninggal pada tahun tersebut pada usia 63 tahun. Selama pemerintahannya terjadi perubahan dalam ketatanegaraan. Kekuasaan pusat tidak lagi berfungsi sebagai penguasa meski masing-masing wilayah masih mengakui kedaulatan khalifah.

 

24. ATH THA’I LILLAH (974 – 991 M)

Ath-Tha'i Lillah bergelar Abu Bakar, nama aslinya adalah Abdul Karim bin Al-Muthi'. Ibunya seorang budak bernama Hazar. Ada pula yang menyebutnya Atab. Saat ayahnya menyatakan mundur dari jabatan khalifah dan menyerahkan kepada anaknya, Ath-Tha'i Lillah berumur 43 tahun. Ia adalah khalifah Daulah Abbasiyah ke-23 (974-991 M).
 
Di antara para khalifah Bani Abbasiyah, tidak ada yang dinobatkan sebagai khalifah  pada usia yang demikian lanjut. Dalam sejarah Islam, tidak ada juga yang namanya Abu Bakar kecuali Khalifah Ath-Tha'i Lillah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Pada masa pemerintahan Ath-Tha'i, pengaruh Syiah Rafidah semakin kuat di Mesir, Syam dan wilayah-wilayah Timur dan Maghrib. Ada seruan dari Bani Ubaidillah agar shalat tarawih tidak dilakukan.

Pada masa ini pula, Al-Muiz Lidinillah Al-Ubaidi penguasa Mesir meninggal dunia. Dia orang pertama yang mampu menguasai Mesir dari kalangan Bani Ubaid. Setelah meninggal, kekuasaan diserahkan kepada anaknya, Nizar, dan diberi gelar Al-Azis.

Pada 366 H, Al-Muntashir Billah Al-Hakam bin An-Nashir Lidinillah Al-Umawi, penguasa Andalusia, meninggal dunia. Putranya, Hisyam, yang bergelar Al-Muayyid Billah menggantikannya.

Ketika Adhuh Ad-Daulah dinobatkan sebagai pemangku kesultanan, upacara dilakukan besar-besaran. Dia diarak keliling kota dengan memakai mahkota yang berhiaskan permata dan di pinggangnya disandangkan pedang. Dia diberi dua bendera. Salah satunya bendera dengan lapisan warna perak yang melambangkan kekuasaan bagi gubernur dan yang satu lagi berwarna keemasan yang menggambarkan kekuasaan bagi putra mahkota. Bendera kedua ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya.

Pada 368 H, Ath-Tha'i memerintahkan seluruh penduduk agar setiap Subuh, Maghrib dan Isya, ditabuh genderang di muka rumah Adhud Ad-Dauhlah. Dia juga memerintahkan agar dalam setiap khutbah disebutkan namanya.

Pada 369 H, Adhud Ad-Daulah meminta pada Ath-Tha'i agar memberikan tambahan gelar padanya dengan julukan Taajul Millah. Dia meminta penobatan baru dan meminta agar diberikan mahkota. Ath-Tha'i memenuhi permintaannya.

Adhud Ad-Daulah hanya berkuasa selama enam tahun. Pada 372 H, ia meninggal dunia. Sebelum wafat ia sengaja menikahkan putrinya dengan Khalifah Ath-Tha'i dengan harapan kelak akan lahir seorang anak. Dengan demikian, ia berharap tampuk kekuasaan berada pada keturunannya.

Khalifah Ath-Tha'i mengangkat anak Adhud Ad-Daulah yang bernama Shamshamud Daulah sebagai pengganti ayahnya. Ath-Tha'i menggelarinya dengan Syam Al-Millah.

Shamshamud Daulah hanya bertahan empat tahun. Saudaranya, Abul Fawaris, yang menjabat gubernur Ahwaz berangkat dengan pasukannya untuk merebut wilayah Wasit dan menguasainya.

Abul Fawaris naik menggantikan Shamshamud Daulah dengan sebutan Syaraf Ad-Daulah. Namun ia hanya bertahan dua tahun delapan bulan. Ia wafat pada usia 28 tahun. Posisinya digantikan saudaranya, Abu Nashr, dengan panggilan Baha Ad-Daulah yang berkuasa selama 28 tahun.

Pada 381 H, Khalifah Ath-Tha'i ditangkap karena memenjarakan orang dekat Baha Ad-Daulah. Setelah mengetahui orang terdekatnya ditangkap dan dipenjarakan, Baha Ad-Daulah dan orang-orangnya segera memenjarakan Ath-Tha'i.

Peristiwa ini mengguncangkan negeri. Baha segera menulis kepada Ath-Tha'i agar sukarela mengundurkan diri dari khilafah lalu menyerahkannya kepada Al-Qadir Billah. Peristiwa itu disaksikan oleh orang-orang terpandang. Ini terjadi pada 19 Sya'ban. Kemudian Al-Qadir yang saat itu sedang berada di Bathihah diminta segera datang ke istana.

Ath-Tha'i sendiri tetap berada di rumah Al-Qadir Billah. Dia diperlakukan sebagai orang terhormat. Demikianlah, perlakuan baik ini berlanjut hingga dia meninggal dunia pada 393 H, di malam Idul Fitri pada usia 76 tahun.

 


Bagikan Halaman ini