Sejarah Khilafah Abbasiyah (Bag. 1)
  • Posted: 03/05/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Sejarah Khilafah Abbasiyah (Bag. 1)

PENGANTAR

Sejarah ibarat pisau bermata dua. Pada satu sisi, sejarah bisa menjadi informasi politik yang meneguhkan umat Islam dengan sistem khilafahnya yang ideal. Namun, pada sisi lain, sejarah pun bisa digunakan untuk meruntuhkan mental mereka, dengan penyimpangan dan kesalahan-kesalahan sejarah, yang bahkan sangat memalukan. Dua sisi ini tentu selalu ada dalam buku sejarah, siapa pun penulisnya dan bagaimana pun metode penulisannya. Karena itulah, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya, Nizham al Islam, menjelaskan bahwa sejarah tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum sebagaimana al Qur’an, as Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Meskipun tidak bisa menjadi sumber hukum, sejarah tetap menjadi sumber informasi yang penting bagi umat Islam. Karena dari sejarah, kita bisa belajar kesalahan dari berbagai kebijakan yang pernah terjadi di masa lalu agar tidak terulang kembali. Dengan demikian, kita tidak akan terperosok pada lubang yang sama dua kali. Begitulah, yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana cara kita membaca sejarah.

Karena itu, ketika kita melihat berbagai kesalahan sejarah, seperti saat Mu'awiyah mengangkat Yazid ibn Mu'awiyah sebagai putra mahkota, proses bai'at yang dilakukan dengan ikrah wa ijbar (paksaan), bukan ridha wa ikhtiar (suka rela), misalnya, kita mesti melihatnya sebagai kekeliruan manusia (human error) dalam menerapkan Islam. Bukan dilihat sebagai kesalahan Islam dan sistem khilafah. Peristiwa ini bisa saja terjadi karena faktor manusia yang tidak maksum.

Hanya saja, kekeliruan-kekeliruan seperti ini tidak bisa digunakan untuk mendelegitimasi kesempurnaan dan kredibilitas Islam sebagai sistem ilahiah yang sempurna, termasuk di dalamnya sistem khilafah yang merupakan satu-satunya sistem pemerintahan dan politik yang diwariskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kompilasi sejarah para khalifah yang anda baca di bawah ini diambil dari buku "Sejarah Para Khalifah" karya Hepi Andi Bastoni. Semoga para pembaca bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini. Selamat membaca..

Penyusun
Ahmad Sudrajat

 

SEJARAH PARA KHALIFAH

DAULAH ABBASIYYAH (750 – 1507 M)

 

1. ABUL ABBAS AS SAFFAH (750 – 754 M)

Gerakan Abbasiyah sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis, khalifah kedelapan Daulah Umayyah. Gerakannya begitu rapi dan tersembunyi sehingga tidak diketahui pihak Bani Umayyah.

Selain itu, gerakan ini juga didukung oleh kalangan Syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena dalam melakukan aksinya, para aktivisnya membawa-bawa nama Bani Hasyim, bukan Bani Abbas. Maka secara tidak langsung orang-orang Syiah merasa disertakan dalam perjuangan mereka.

Gerakan Abbasiyah mulai muncul di daerah Hamimah (Yordania), Kufah (Irak), dan Khurasan. Salah satu pendirinya adalah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Setelah Muhammad bin Ali wafat, anaknya, Ibrahim menggantikan posisinya.

Pada 125 H, saat pemerintahan Bani Umayyah tengah mengalami kemundurann, gerakan Abbasiyah semakin gencar. Empat tahun kemudian, Ibrahim bin Muhammad mendeklarasikan gerakannya di Khurasan melalui panglimanya, Abu Musim Al-Khurasani. Namun gerakan ini diketahui oleh Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah. Ibrahim pun ditangkap dan dipenjara.

Posisi Ibrahim digantikan saudaranya, Abdullah bin Muhammad, yang lebih dikenal dengan sebutan Abul Abbas As-Saffah. Ia lahir pada 108 Hijriyah. Ada juga yang mengatakan 104 Hijriyah. Ibunya bernama Raithah Al-Hairitsiyah. Karena tekanan dari pihak penguasa, bersama rombongan ia berangkat ke Kufah secara sembunyi-sembunyi. Pada 3 Rabiul Awwal 132 H, Abdullah As-Saffah dibaiat sebagai khalifah pertama Bani Abbasiyah di Masjid Kufah.

Pelantikan Abul Abbas ini mengingatkan kita pada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda, "Akan muncul pada suatu zaman yang carut-marut dan penuh dengan petaka, seorang penguasa yang disebut dengan As-Saffah. Dia suka memberi harta dengan jumlah yang banyak."

Riwayat lain menyebutkan bahwa gelar As-Saffah itu diberikan orang-orang karena ia terkenal dengan sifat yang tidak mengenal belas kasihan terhadap Bani Umayyah. Hal itu diakibatkan oleh dendamnya yang begitu besar, sehingga dengan dinginnya ia membunuh keturunan Bani Umayyah, termasuk orang-orang yang tidak bersalah dan tidak ikut campur dalam urusan politik sekalipun. Hal ini juga dilakukan oleh para pengikutnya.

Dalam sebuah peristiwa, Abdullah bin Ali, paman As-Saffah yang saat itu menjabat gubernur Syria dan Palestina, membantai sekitar 90 orang keluarga Bani Umayyah. Hanya sedikit keturunan Bani Umayyah yang dapat meloloskan diri.

Berita pembaiatan As-Saffah sampai juga ke telinga Marwan bin Muhammad. Dia berangkat bersama pasukannya untuk memadamkan "pemberontakan" As-Saffah. Abdullah bin Ali, paman As-Saffah, bersama pasukannya menghadapi pasukan Marwan di suatu daerah dekat Mosul. Setelah terjadi pertempuran sengit, akhirnya pasukan Marwan dapat dikalahkan. Marwan selamat dan kembali ke Syam. Namun Abdullah terus mengejarnya sehingga dia lari ke Mesir. Pengejaran dilanjutkan oleh adiknya, Shalih. Akhirnya Marwan berhasil dibunuh di suatu desa bernama Bushir pada Dzulhijjah 132 H.

Kufah merupakan pusat gerakan Bani Abbas. Di tempat ini pula As-Saffah dibaiat namun kemudian pada 134 H, ia meninggalkan Kufah menuju daerah Anbar. Sebuah tempat di pinggiran sungai Eufrat yang dikenal dengan Hasyimiyah yang dijadikan pusat pemerintahan. Belakangan dibangunlah sebuah ibukota yang dikenal hingga kini, yaitu Baghdad. Kota inilah yang menjadi ibukota Daulah Abbasiyah.

As-Saffah tidak terlalu fokus pada masalah-masalah penaklukan wilayah karena pertempuran di kawasan Turki dan Asia Tengah terus bergolak. Belum lagi karena kesibukannya dalam upaya konsolidasi internal untuk menguatkan pilar-pilar negara yang hingga saat itu belum sepenuhnya stabil. Selain ketegasannya menghabisi lawan politik, As-Saffah terkenal juga dengan kedermawanan dan ingatannya yang kuat serta keras hati.

Pejabat pemerintah yang bertugas membantu khalifah sebelumnya hanya dikenal dengan Al-Katib (sekretaris). Pada masa Abbasiyah ini, mulai muncul istilah Al-Wazir (menteri).

Abul Abbas As-Saffah meninggal pada Dzulhijjah 136 H karena penyakit yang dideritanya. Ia meninggal dalam usia 33 tahun di kota Hasyimiyah yang dibangunnya. Sebelum meninggal, ia menunjuk saudaranya, Abu Ja'far Al-Manshur sebagai pengganti. As-Saffah memangku jabatan khalifah selama empat tahun.

 

2. ABU JA’FAR AL MANSHUR (754 – 775 M)

Abu Ja'far Al-Manshur menjabat khalifah kedua Bani Abbasiyah menggantikan saudaranya Abul Abbas As-Saffah. Abu Ja'far Al-Manshur adalah putra Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang juga saudara kandung Ibrahim Al-Imam dan Abul Abbas As-Saffah. Ketiganya merupakan pendiri Bani Abbasiyah.

Ketikah Khalifah Abul Abbas As-Saffah meninggal, Abu Ja'far sedang menunaikan ibadah haji bersama Panglima Besar Abu Muslim Al-Khurasani. Yang pertama kali dilakukan Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur setelah dilantik menjadi khalifah pada 136 H/754 M adalah mengatur politik dan siasat pemerintahan Bani Abbasiyah. Jalur-jalur pemerintahan ditata rapi dan cermat, sehingga pada masa pemerintahannya terjalin kerjasama erat antara pemerintah pusat dan daerah. Begitu juga antara qadhi (hakim) kepala polisi rahasia, kepala jawatan pajak, dan kepala-kepala dinas lainnya.

Selama masa kepemimpinannya, kehidupan masyarakat berjalan tenteram, aman dan makmur. Stabilitas politik dalam negeri cenderung aman dan terkendali, tidak ada gejolak politik dan pemberontakan-pemberontakan.

Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur sangat mewaspadai tiga kelompok yang menurutnya dapat menjadi batu sandungan Bani Abbasiyah dan dirinya. Kelompok pertama dipimpin Abdullah bin Ali, adik kandung Muhammad bin Ali, paman Abu Ja'far sendiri. Ia menjabat panglima perang Bani Abbasiyah. Kegagahan dan keberaniannya dikenal luas. Pengikut Abdullah bin Ali sangat banyak serta sangat berambisi menjadi khalifah.

Kelompok kedua dipimpin Abu Muslim Al-Khurasani, orang yang berjasa besar dalam membantu pendirian Dinasti Abbasiyah. Karena keberanian dan jasa-jasanya, ia sangat disegani serta dihormati di kalangan Bani Abbasiyah. Masyarakat luas banyak yang menjadi pengikutnya. Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur khawatir pengaruh Abu Muslim terlalu besar terhadap pemerintahan Bani Abbasiyah.

Kelompok ketiga adalah kalangan Syiah yang dipimpin pendukung berat keturunan Ali bin Abi Thalib. Masyarakat luas banyak yang simpati karena dalam melakukan gerakan mereka membawa nama-nama keluarga Nabi Muhammad Saw.

Setelah berhasil mengantisipasi kelompok-kelompok yang dapat menjadi batu sandungan pemerintahannya, Al-Manshur kembali dapat mencurahkan perhatiannya pada pengembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Ia adalah orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga memberikan dorongan dan kesempatan yang luas bagi cendekiawan untuk mengembangkan riset ilmu pengetahuan. Penerjemahan buku-buku Romawi ke dalam bahasa Arab, yang menjadi bahasa internasional saat itu dilakukan secara khusus dan profesional. Ilmu falak (astronomi) dan filsafat mulai digali dan dikembangkan.

Pada awal pemerintahannya, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur benar-benar meletakkan dasar-dasar ekonomi dan keuangan negara dengan baik dan terkendali. Oleh sebab itu, tidak pernah terjadi defisit anggaran besar-besaran. Kas negara selalu penuh, uang yang masuk lebih banyak daripada uang keluar. Ketika Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur meninggal dunia, harta yang ada dalam kas negara sebanyak 810.000.000 dirham.

Ada kisah menarik tentang Abu Ja'far Al-Manshur dan Abu Hanifah. Ketika selesai membangun Baghdad, Abu Ja'far mengundang para ulama terkemuka. Imam Abu Hanifah termasuk di antara mereka.

Saat itulah Abu Hanifah ditawari sebagai Hakim Tinggi (Qadhi Qudha). Namun Abu Hanifah menolak keras. Ketika diancam agar bersedia memegang jabatan itu, Abu Hanifah mengucapkan kalimat yang dicatat sejarah, "Seandainya anda mengancam untuk membenamkanku ke dalam sungai Eufrat atau memegang jabatan itu, sungguh aku akan memilih untuk dibenamkan."

Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur amat murka. Apalagi ketika ia mendapatkan laporan bahwa sang imam menaruh simpati pada gerakan Muhammad bin Abdullah di Tanah Hijaz. Abu Hanifah ditangkap dan dipenjara hingga meninggal.

Selain meletakkan pondasi ekonomi, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur juga menertibkan pemerintah untuk memperkuat kekuasaan Bani Abbasiyah. Penertiban ini dilakukan dalam bidang administrasi dan mengadakan kerjasama antar pejabat pemerintahan dengan sistem kerja lintas sektoral.

Khalifah Al-Manshur juga mengadakan penyebaran dakwah Islam ke Byzantium, Afrika Utara dan mengadakan kerjasama dengan Raja Pepin dari Prancis. Saat itu, kekuasaan Bani Umayyah II di Andalusia dipimpin oleh Abdurrahman Ad-Dakhil.

Menjelang pengujung 158 H, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun dalam perjalanan ia sakit lalu meninggal dunia. Ia wafat dalam usia 63 tahun dan memerintah selama 22 tahun. Jenazahnya dibawa dan dikebumikan di Baghdad.

 

3. MUHAMMAD AL MAHDI (775 – 785 M)

Ketika khalifah Abu Ja'far Al-Manshur meninggal di tengah perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, Al-Mahdi sedang berada di Baghdad mewakilinya mengurus kepentingan negara. Di sanalah Al-Mahdi mendengar kabar kematian ayahnya tercinta sekaligus pengangkatan dirinya sebagai khalifah.

Setelah merasa mampu menguasai kesedihannya, ia berpidato di hadapan orang banyak. Di antara isi pidatonya, “Sesungguhnya Amirul Mukminin adalah seorang hamba yang diminta, lalu dia penuhi permintaan itu. Rasulullah Saw pernah menangis saat berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Kini aku berpisah dengan sosok yang agung, kemudian aku diberi beban yang sangat berat. Hanya kepada Allah aku mengharap pahala untuk Amirul Mukminin, dan hanya kepada-Nya aku memohon pertolongan untuk memimpin kaum Muslimin.”

Al-Mahdi dikenal sebagai sosok dermawan, pemurah, terpuji, disukai rakyat serta banyak memberikan hadiah-hadiah. Selain itu, ia juga mengembalikan harta-harta yang dirampas secara tidak benar. Ia lahir pada 129 H. Ada juga yang mengatakan 126 H. Ibunya bernama Ummu Musa binti Al-Manshur Al-Himyariyah.

Al-Mahdi adalah khalifah pertama yang memerintahkan ulama untuk menulis buku menentang orang-orang Zindiq dan mulhid (ingkar). Menurut Adz-Dzahabi seperti dikutip Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’, dialah yang pertama kali membuat jaringan pos antara Irak dan Hijaz.

Berbeda dengan pemerintahan ayahnya yang penuh dengan perjuangan melawan berbagai kesulitan untuk menstabilkan keadaan negara, masa pemerintahan Al-Mahdi bisa dikatakan masa kejayaan dan kemakmuran. Rakyat dapat hidup dengan tenteram dan damai. Sebab negara pada waktu itu berada dalam keadaan stabil dan mantap. Keuangan negara terjamin dan tidak ada satu pun gerakan penting dan signifikan yang mengancam keselamatan negara.

Masa pemerintahan Al-Mahdi dimulai dengan pembebasan para napol (narapidana politik) dan tapol (tahanan politik). Kebanyakan dari golongan Alawiyah (pendukung Ali), terkecuali para kriminal yang dipenjarakan menurut undang-undang yang berlaku.

Pembangunan yang dilakukan di masa itu meliputi peremajaan bangunan Ka’bah dan Masjid Nabawi, pembangunan fasilitas umum, pembangunan jaringan pos yang menghubungkan kota Baghdad dengan kota-kota besar Islam lainnya.

Di antara kebijakan Al-Mahdi adalah menurunkan pajak bagi golongan kafir dzimmi, juga memerintahkan pegawai-pegawainya untuk tidak bersikap kasar ketika memungut pajak, karena sebelumnya mereka diintimidasi dengan berbagai cara agar membayar pajak.

Penaklukan di masa Khalifah Al-Mahdi meliputi daerah Hindustan (India) dan penaklukan besar-besaran terjadi di wilayah Romawi. Selain itu, Al-Mahdi juga bersikap keras terhadap orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam, yaitu mereka yang menganut ajaran Manawiyah Paganistik (penyembah cahaya dan kegelapan) atau lebih dikenal dengan sebutan kaum Zindiq. Setelah itu sebutan Zindiq dialamatkan kepada siapa saja yang mulhid atau para ahli bid’ah.

Gerakan lain yang muncul pada masa kepemimpinannya adalah gerakan Muqanna Al-Khurasani yang menuntut dendam atas kematian Abu Muslim Al-Khurasani. Selain itu, gerakan ini merupakan percobaan Persia untuk merebut kembali kekuasaan dan pengaruh dari bangsa Arab, khususnya Bani Abbasiyah. Al-Muqanna mengajarkan kepada para pengikutnya tentang pengembalian ruh ke dunia dalam jasad yang lain, yang lebih dikenal dengan reinkarnasi. Tentu saja gerakan ini sangat sesat dan menyesatkan.

Kemunculan Al-Muqanna menimbulkan kekhawatiran khalifah, selain karena para pengikutnya yang bertambah banyak, mereka juga sering memenangkan peperangan menghadapi kaum Muslimin serta menawan Muslimah dan anak-anak. Oleh sebab itu, Al-Mahdi mengirim pasukan besar menghadapi gerakan tersebut.

Terjadilah pengepungan di sebuah kota di mana Al-Muqanna bersembunyi. Pengepungan itu berlangsung cukup lama. Di luar perkiraan pasukan Al-Mahdi, sebuah aksi bunuh diri massal dilakukan Al-Muqanna bersama pengikut-pengikutnya, yaitu dengan cara membakar diri.

Pada tahun 159 H, Al-Mahdi mengangkat kedua anaknya, Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid, sebagai putra mahkota secara berurutan. Pada tahun 169 H, Al-Mahdi meninggal dunia. Ia memerintah selama 10 tahun. Satu riwayat menyebutkan dia meninggal karena jatuh dari kudanya ketika sedang berburu. Riwayat lain mengatakan dia meninggal karena diracun.

 

4. MUSA AL HADI (785 – 786 M)

Musa Al-Hadi (785-786 M) menjabat Khalifah Abbasiyah keempat menggantikan ayahnya, Khalifah Al-Mahdi. Ia menjalankan pemerintahan hanya satu tahun tiga bulan (169-170 H). Ia dilahirkan di Ray pada 147 H.

Ketika ayahnya wafat, Musa Al-Hadi sedang berada di pesisir pantai Jurjan di pinggir laut Kaspia. Saudaranya, Harun Ar-Rasyid, bertindak mewakilinya untuk mengambil baiat dari seluruh tentara. Mendengar berita wafatnya sang ayah, Musa Al-Hadi segera kembali ke Baghdad dan berlangsunglah baiat secara umum.

Pusat perhatian umat Musa Al-Hadi ketika menjabat khalifah adalah membasmi kaum Zindiq. Kelompok ini berkembang sejak pemerintahan ayahnya, Al-Mahdi. Secara umum kelompok ini lebih mirip ajaran komunis yang ingin menyamakan kepemilikan harta. Tetapi mereka sering tidak menampakkan ajarannya secara terang-terangan. Ini yang menyulitkan kaum Muslimin membasminya.

Walau demikian, di akhir pemerintahan Al-Mahdi, kelompok ini semakin merebak dengan melakukan kegiatan bawah tanah. Untuk itu, Khalifah Musa Al-Hadi tidak mau ambil resiko. Dengan tegas ia memerintahkan pasukannya untuk membasmi kelompok ini sampai ke akar-akarnya.

Tantangan terhadap Khalifah Musa Al-Hadi tak hanya muncul dari kaum Zindiq. Di daerah Hijaz muncul sosok Husain bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ia mendapatkan sambutan dari masyarakat karena masih keturunan Ali bin Abi Thalib. Bahkan kelompok ini sempat memaklumatkan berdirinya Daulah Alawi di Tanah Hijaz.

Karena gubernur setempat tak mampu mengatasinya, Musa Al-Hadi segera mengirimkan pasukan cukup besar dari Baghdad yang dipimpin oleh Muhammad bin Sulaiman. Mulanya pihak Sulaiman menawarkan perdamaian. Namun karena tak mencapai kata mufakat, akhirnya terjadilah pertempuran di suatu tempat antara Madinah dan Makkah yang dikenal dengan nama Fakh.

Husain bin Ali tewas dalam peperangan itu. Kepalanya dibawa ke hadapan Khalifah Musa Al-Hadi dan dikebumikan di Baghdad. Sisa-sisa pasukan Husain dikejar. Sebagian melarikan diri keluar Hijaz.

Tak terlalu banyak perkembangan yang terjadi di masa pemerintahan Musa Al-Hadi. Usia pemerintahannya pun tidak terlalu lama. Ia meninggal dunia pada malam Sabtu 16 Rabiul Awwal 170 H. Konon kemangkatannya itu tidak wajar. Ibunya, Khaizuran yang masih keturunan Iran, dianggap terlalu sering mencampuri urusan pemerintahan. Hal itu tidak disenangi oleh sang khalifah.

Konon sering terjadi pertentangan antara keduanya, ia pun dibunuh. Imam As-Suyuthi memaparkan banyak versi tentang tewasnya Musa Al-Hadi. Ada yang mengatakan sang khalifah jatuh dari jurang dan tertancap pada sebatang pohon. Ada juga yang mengatakan ia meninggal karena radang usus hingga perutnya bernanah. Riwayat lain mengatakan, ia diracun oleh ibunya sendiri.

Sebagaimana diketahui, ibunya adalah orang yang sangat berpengaruh dan sering mengurusi hal yang sangat penting seputar istana. Para utusan banyak yang datang ke kediaman ibunya. Melihat hal itu, Musa Al-Hadi marah. Terjadi pertengkaran antara dirinya dan ibunya.

Seperti dikisahkan As-Suyuthi, Musa Al-Hadi mengirimkan makan beracun kepada ibunya. Begitu menerima makanan itu, ibunya langsung memberikannya kepada seekor anjing. Seketika binatang itu mati!

Setelah mengetahui niat busuk anaknya, sang ibu berencana untuk membunuh anaknya yang durhaka itu. Dengan menggunakan selendang, ia membungkam wajah Musa Al-Hadi hingga kehilangan nafas dan mati. Musa meninggalkan tujuh orang anak laki-laki.

 

5. HARUN AR RASYID (786 – 809 M)

Harun Ar-Rasyid (786-809 M) adalah khalifah kelima Daulah Abbasiyah. Ia dilahirkan pada Februari 763 M. Ayahnya bernama Al-Mahdi, khalifah ketiga Bani Abbasiyah, dan ibunya bernama Khaizuran.

Masa kanak-kanaknya dilewati dengan mempelajari ilmu-ilmu agama dan ilmu pemerintahan. Guru agamanya yang terkenal pada masa itu adalah Yahya bin Khalid Al-Barmaki.

Harun Ar-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada September 786 M, pada usianya yang sangat muda, 23 tahun. Jabatan khalifah itu dipegangnya setelah saudaranya yang menjabat khalifah, Musa Al-Hadi wafat. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Harun Ar-Rasyid didampingi Yahya bin Khalid dan empat putranya.

Daulah Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid, seorang khalifah yang taat beragama, shalih, dermawan, hampir bisa disamakan dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis dari Bani Umayyah. Jabatan khalifah tidak membuatnya terhalang untuk turun ke jalan-jalan pada malam hari, tujuannya untuk melihat keadaan rakyat yang sebenarnya. Ia ingin melihat apa yang terjadi dan menimpa kaum lemah dengan mata kepalanya sendiri untuk kemudian memberikan bantuan.

Pada masa itu, Baghdad menjadi mercusuar kota impian 1.001 malam yang tidak ada tandingannya di dunia pada abad pertengahan. Daulah Abbasiyah pada masa itu, mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, membentang dari Afrika Utara sampai ke Hindukush, India. Kekuatan militer yang dimilikinya juga sangat luar biasa.

Khalifah Harun Ar-Rasyid mempunyai perhatian yang sangat baik terhadap ilmuwan dan budayawan. Ia mengumpulkan mereka semua dan melibatkannya dalam setiap kebijakan yang akan diambil pemerintah. Perdana menterinya adalah seorang ulama besar di zamannya, Yahya Al-Barmaki juga merupakan guru Khalifah Harun Ar-Rasyid, sehingga banyak nasihat dan anjuran kebaikan mengalir dari Yahya. Hal ini semua membentengi Khalifah Harun Ar-Rasyid dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam.

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, hidup juga seorang cerdik pandai yang sering memberikan nasihat-nasihat kebaikan pada Khalifah, yaitu Abu Nawas. Nasihat-nasihat kebaikan dari Abu Nawas disertai dengan gayanya yang lucu, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Suasana negara yang aman dan damai membuat rakyat menjadi tenteram. Bahkan pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid sangat sulit mencari orang yang akan diberikan zakat, infak dan sedekah, karena tingkat kemakmuran penduduknya merata. Di samping itu, banyak pedagang dan saudagar yang menanamkan investasinya pada berbagai bidang usaha di wilayah Bani Abbasiyah pada masa itu.

Setiap orang merasa aman untuk keluar pada malam hari, karena tingkat kejahatan yang minim. Kaum terpelajar dan masyarakat umum dapat melakukan perjalanan dan penjelajahan di negeri yang luas itu dengan aman. Masjid-masjid, perguruan tinggi, madrasah-madrasah, rumah sakit, dan sarana kepentingan umum lainnya banyak dibangun pada masa itu.

Khalifah Harun Ar-Rasyid juga sangat giat dalam penerjemahan berbagai buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab. Dewan penerjemah juga dibentuk untuk keperluan penerjemahan dan penggalian informasi yang termuat dalam buku asing. Dewan penerjemah itu diketuai oleh seorang pakar bernama Yuhana bin Musawih.

Bahasa Arab ketika itu merupakan bahasa resmi negara dan bahasa pengantar di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan bahkan menjadi alat komunikasi umum. Karena itu, dianggap tepat bila semua pengetahuan yang termuat dalam bahasa asing itu segera diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Khalifah Harun Ar-Rasyid meninggal dunia di Khurasan pada 3 atau 4 Jumadil Tsani 193 H/809 M setelah menjadi khalifah selama lebih kurang 23 tahun 6 bulan. Seperti ditulis Imam As-Suyuthi, ia meninggal saat memimpin Perang Thus, sebuah wilayah di Khurasan. Saat meninggal usianya 45 tahun, bertindak sebagai imam shalat jenazahnya adalah anaknya sendiri yang bernama Shalih.

Daulah Abbasiyah dan dunia Islam saat itu benar-benar kehilangan sosok pemimpin yang shalih dan adil, sehingga tak seorang pun yang teraniaya tanpa diketahui oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid dan mendapatkan perlindungan hukum yang sesuai.

 

6. MUHAMMAD AL AMIN BIN HARUN AR RASYID (809 – 813 M)

etika berhasil mematahkan perlawanan Kaisar Nicephorus dari Imperium Byzantium di wilayah Asia Kecil, Khalifah Harun Ar-Rasyid kembali ke wilayah Bagian Timur.

Di sana terjadi pergolakan yang dipimpin Rafi' bin Al-Laits bin Nashar. Mereka sudah berhasil menduduki Samarkand dan kota-kota sekitarnya. Ketika memasuki kota Thus yang terletak antara kota Nishapur dan Merv, Khalifah Harun Ar-Rasyid jatuh sakit. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia.

Putra termuda sang Khalifah, Shalih bin Harun, segera mengambil baiat dari seluruh pasukan di tempat itu untuk saudara tertuanya, Muhammad bin Harun di Baghdad. Selanjutnya, ia mengirimkan utusan ke Baghdad untuk menyampaikan berita kemangkatan sang Khalifah dan mengirimkan Al-Khatim (stempel kebesaran) dan Al-Qadhib (tongkat kebesaran), serta Al-Burdah (jubah kebesaran) pada Muhammad bin Harun.

Begitu mendengar berita wafatnya sang ayah, Muhammad bin Harun yang menjabat gubernur Baghdad segera menuju Masjid Agung Baghdad. Berlangsunglah baiat secara umum. Muhammad bin Harun Ar-Rasyid menjabat khalifah keenam Daulah Abbasiyah pada usia 24 tahun. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai Khalifah Al-Amin (809-813 M).

Meninggalnya Harun Ar-Rasyid, dianggap sebagai peluang emas bagi Kaisar Nicephorus untuk membatalkan kembali perjanjian damai dengan Daulah Abbasiyah. Ia segera menggerakkan pasukannya untuk menyerang perbatasan bagian utara Syria dan bagian utara Irak. Khalifah Al-Amin segera mengirimkan pasukan untuk menghalau serangan itu. Berlangsung pertempuran cukup lama yang berujung pada tewasnya sang kaisar.

Di kota Hims juga terjadi pergolakan. Karena tak mampu memadamkan pemberontakan, Khalifah Al-Amin memecat Gubernur Ishak bin Sulaiman dan menggantinya dengan Abdullah bin Said Al-Harsy. Keamanan pun pulih kembali di bawah kendali gubernur baru itu.

Pada 195 H muncul seorang tokoh berpengaruh di Damaskus. Ia adalah Ali bin Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan. Karenanya, ia dikenal sebutan As-Sufyani. Tokoh ini menjadi lebih berpengaruh karena tak hanya merupakan keturunan Bani Umayyah, tetapi juga Bani Hasyim. Ibunya adalah putri Abdullah bin Abbas bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan silsilah keturunannya ini, ia sering berkata, "Saya adalah putra dua tokoh yang pernah bertentangan di Shiffin—maksudnya Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Ia menyatakan berdirinya khilafah baru di Damaskus. Namun masa pemerintahannya tidak berlangsung lama. Panglima Ibnu Baihas segera mengepung Damaskus dan menaklukkan penduduk kota itu. Sedangkan tokoh As-Sufyani melenyapkan diri entah kemana.

Di antara seluruh Khalifah Abasiyah, hanya Khalifah Al-Amin yang ayah dan ibunya keturunan Bani Hasyim (Arab). Ayahnya Harun Ar-Rasyid dan ibunya Zubaidah binti Ja'far bin Manshur masih keturunan Bani hasyim. Sedangkan Al-Makmun sendiri yang direncanakan kelak akan menjadi khalifah setelah Al-Amin, masih keturunan Iran.

Oleh sebab itu, beberapa pihak membujuk Khalifah Al-Amin untuk membatalkan hak khilafah Al-Makmun, dan menggantinya dengan putranya sendiri, Musa bin Muhammad Al-Amin. Semula Khalifah Al-Amin menolak. Tetapi karena terus didesak dan dibujuk, ia pun melakukan pembatalan itu dan mengangkat putranya sebagai calon khalifah dengan gelar An-Nathiq bil Haq.

Tentu saja tindakan ini memancing amarah Al-Makmun. Saat itu ia berada di Khurasan di tengah keluarga besarnya. Permintaan sang Khalifah yang mengundangnya kembali ke Baghdad tak ia penuhi. Bahkan ia pun dibaiat dan dinyatakan sebagai khalifah.

Mendengar kejadian tersebut, Khalifah Al-Amin segera mengirimkan pasukan ke Khurasan di bawah pimpinan Panglima Ali bin Isa bin Mahan. Al-Makmun pun segera menyiapkan pasukannya di bawah komando Thahir bin Hasan.

Kedua pasukan bertemu di kota Ray, yang saat ini dikenal dengan nama Teheran, ibukota Iran. Pertempuran pun tidak berlangsung lama. Panglima Ali bin Isa Tewas. Berita kekalahan itu sangat mengejutkan Khalifah Al-Amin. Ia pun segera mengirimkan pasukan bantuan di bawah komando Panglima Ahmad bin Mursyid dan Panglima Abdullah bin Humaid. Dalam perjalanan menuju Khurasan, terjadi perselisihan sengit antara dua panglima. Pasukan itu pun kembali ke Baghdad sebelum berhadapan dengan musuh.

Al-Makmun segera memerintahkan pasukan Thahir bin Hasan untuk terus maju ke Baghdad. Ia menambah pasukannya di bawah pimpinan Hartsamad bin Ain. Hampir satu tahun Baghdad dikepung. Karena kekurangan persediaan makanan, akhirnya pertahanan Baghdad pun runtuh.

Khalifah Al-Amin bertahan di Qashrul Manshur yang terletak di pusat kota. Setelah berlangsung penyerbuan cukup lama, istana yang dibangun oleh Al-Manshur itu pun bisa ditaklukkan. Khalifah Al-Amin tewas di tangan pasukan saudaranya sendiri. Ia meninggal pada usia 28 tahun. Masa pemerintahannya berlangsung selama empat tahun delapan bulan.

 

7. ABDULLAH AL MA’MUN BIN HARUN AR RASYID (813 – 833 M)

Abdullah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (813-833 M) mulai memerintah Bani Abbasiyah pada 198-218 H/813-833 M. Ia adalah khalifah ketujuh Bani Abbasiyah yang melanjutkan kepemimpinan saudaranya, Al-Amin.

Untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah (Darul Hikmah) yang didirikan ayahnya, Harun Ar-Rasyid, sebagai Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan, dan tempat penelitian. Lembaga ini memiliki ribuan buku ilmu pengetahuan.

Lembaga lain yang didirikan pada masa Al-Makmun adalah Majalis Al-Munazharah sebagai lembaga pengkajian keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana khalifah. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan Timur, di mana Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan Islam.

Sayangnya, pemerintahan Al-Makmun sedikit tercemar lantaran ia melibatkan diri sepenuhnya dalam pemikiran-pemikiran teologi liberal, yaitu Muktazilah. Akibatnya, paham ini mendapat tempat dan berkembang cukup pesat di kalangan masyarakat.

Kemauan Al-Makmun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tidak mengenal lelah. Ia ingin menunjukkan kemauan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat tradisi Yunani. Ia menyediakan biaya dan dorongan yang kuat untuk mencapai kemajuan besar di bidang ilmu. Salah satunya adalah gerakan penerjemahan karya-karya kuno dari Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab, seperti ilmu kedokteran, astronomi, matematika, dan filsafat alam secara umum.

Ahli-ahli penerjemah yang diberi tugas Khalifah Al-Makmun diberi imbalan yang layak. Para penerjemah tersebut antara lain Yahya bin Abi Manshur, Qusta bin Luqa, Sabian bin Tsabit bin Qura, dan Hunain bin Ishaq yang digelari Abu Zaid Al-Ibadi.

Hunain bin Ishaq adalah ilmuwan Nasrani yang mendapat kehormatan dari Al-Makmun untuk menerjemahkan buku-buku Plato dan Aristoteles. Al-Makmun juga pernah mengirim utusan kepada Raja Roma, Leo Armenia, untuk mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani Kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Selain para pakar ilmu pengetahuan dan politik, pada Khalifah Al-Makmun muncul pula sarjana Muslim di bidang musik, yaitu Al-Kindi. Khalifah Al-Makmun menjadikan Baghdad sebagai kota metropolis dunia Islam sekaligus pusat ilmu pengetahuan, pusat kebudayaan, peradaban Islam, dan pusat perdagangan terbesar di dunia selama berabad-abad lamanya.

Namun demikian, selain pemikiran Muktazilah, Khalifah Al-Makmun juga tercemari oleh paham yang menganggap Al-Qur'an itu makhluk. Paham ini melekat dan menjadi prinsip pemerintah. Orang yang tidak setuju dengan pendapat ini akan dihukum. Inilah yang menimpa beberapa ulama yang istiqamah seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Sajjadat, Al-Qawariri, dan Muhammad Nuh.

Namun belakangan Imam Sajjadat dan Al-Qawariri mengakui juga Al-Qur'an sebagai makhluk. Ketika ditelusuri, keduanya mengaku karena terpaksa. Mereka berpendapat, dalam agama, kondisi terpaksa membolehkan seseorang untuk mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan keimanannya.

Kendati demikian, Imam Ahmad dan Muhammad Nuh tetap tidak mau mengakui bahwa Al-Qur'an itu makhluk. Sejarah mencatat ungkapan Imam Ahmad kala itu, "Saya tidak mau pengakuan saya menjadi dalil orang-orang setelahku." Ia juga pernah diminta oleh pamannya, Ishaq bin Hanbal untuk melakukan taqiyyah (pura-pura), namun Imam Ahmad tidak mau.

Kedua tokoh itu segera dikirim kepada Khalifah Al-Makmun yang sedang berada di medan pertempuran di Asia Kecil. Dalam perjalanan dan ketika tiba di benteng Rakka, mereka mendapat kabar bahwa sang Khalifah wafat. Jenazahnya dibawa ke Tarsus dan dimakamkan di tempat itu.

Gubernur benteng Rakka segera mengembalikan Imam Ahmad dan Muhammad Nuh ke Baghdad. Dalam perjalanan, Muhammad Nuh sakit lalu meninggal dunia. Sedangkan Imam Ahmad dibawa ke Baghdad.

 

8. MUHAMMAD AL MU’TASHIM BILLAH BIN HARUN AR RASYID (833 – 842 M)

Ia adalah Muhammad bin Harun Ar-Rasyid. Ia menjabat sebagai khalifah menggantikan saudaranya, Al-Makmun. Dalam literatur sejarah, ia dikenal dengan julukan Al-Mu'tashim Billah (Yang Berlindung kepada Allah). Ia adalah Khalifah Abbasiyah yang pertama kali menghubungkan nama Allah dengan namanya.

Sejak muda Al-Mu'tashim (833-842 M) tergolong seorang  militer yang memegang kedisiplinan tinggi. Ia mempunyai tubuh yang kekar dan kuat. Itu juga alasan pendahulunya, Al-Makmun, memindahkan hak khilafah dari putranya kepada saudaranya ini. Apalagi lawan mereka, pihak Byzantium dipimpin oleh seorang ahli militer dan strategi perang.

Sayangnya, pihak tentara sendiri justru kurang setuju dengan pengangkatan Al-Mu'tashim. Bahkan mereka ramai-ramai mengangkat Abbas bin Makmun untuk didaulat sebagai khalifah. Al-Mu'tashim segera memanggil keponakannya itu ke markas induk pasukan. Seelah dinasihati, akhirnya Abbas sadar dan kembali mengangkat baiat atas pamannya itu.

Kendati sudah bersikap lunak, Khalifah Al-Mu'tashim tetap harus menghadapi perlawanan dari pihak Alawiyah. Kali ini dipimpin oleh Muhammad bin Qasim bin Umar bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Perlawanan itu segera dipadamkan. Pimpinannya ditawan.

Lagi-lagi dengan sikap lunaknya, Khalifah Al-Mu'tashim mengubah hukuman mati dengan hukuman penjara. Namun pada suatu perayaan Hari Raya Idul Fitri, Muhammad bin Qasim melarikan diri dan sejak saat itu tak diketahui rimbanya.

Di tengah segala kerusuhan itu, Al-Mu'tashim masih sempat membangun sebuah kota indah yang dikenal dengan nama Sarra Man Ra'a (menggembirakan orang yang melihatnya). Lambat laun kota itu dikenal dengan nama Samarra. Sejak itu, pusat pemerintahan dipindahkan ke kota Samarra yang semula berada di Baghdad.

Sementara itu, pihak Byzantium yang sejak beberapa waktu lalu mengalami kekalahan, kini bangkit kembali. Daerah yang pertama diincar adalah Asia Kecil. Ia berhasil menghalau pasukan Islam dari daerah itu sampai ke bagian utara Irak dan menguasai kota Zabetra, kelahiran Al-Mu'tashim.

Dalam penyerbuan ke kota itu, pasukan Byzantium bertindak buas, membunuh para lelaki dan menawan anak-anak serta wanita. Mereka mencungkili mata dan memotong hidung serta telinga mereka.

Disikahkan, seorang wanita keturunan Bani Hasyim berteriak memanggil-manggil nama Khalifah Al-Mu'tashim. Ketika berita itu sampai ke telinga sang Khalifah, ia segera mengerahkan pasukannya. Pasukan Byzantium tak bisa bertahan. Mereka melarikan diri ke daerah Dasymon. Di sana berlangung pertempuran sengit yang dalam sejarah dikenal dengan Perang Dasymon.

Sisa-sisa pasukan Byzantium bersembunyi di benteng Amorium, di Galatia, kota kelahiran Kaisar Theopilus. Setelah mengalami pengepungan cukup lama, akhirnya benteng itu bisa ditaklukkan. Kota Galatia dihancur-leburkan hingga rata dengan tanah.

Kendati Khalifah Al-Mu'tashim adalah seorang militer sejati, namun perlakuannya terhadap Imam Ahmad bin Hanbal tidak berubah. Imam Ahmad tetap dipenjara. Namun lambat-laun perlakuan Al-Mu'tashim terhadap Imam Ahmad mulai berubah. Bahkan ia mengagumi keberanian sang Imam.

Para ahli sejarah ada yang menyebutnya dengan Al-Mutsammim atau sang Delapan. Mengapa demikian? Karena ia sangat akrab dengan angka delapan. Al-Mu'tashim menjabat khalifah ke-8 Bani Abbasiyah. Ia wafat dalam usia 38 tahun. Masa pemerintahannya menurut kalender Hijriyah berusia 8 tahun 8 bulan dan 8 hari. Ketika wafat, ia meninggalkan 8 putra dan 8 putri. Apakah fakta ini benar atau tidak, Wallahua'lam. Seandainya pun benar, itu hanyalah suatu kebetulan belaka. Tak ada hubungannya dengan segala keberhasilan sang khalifah.

 

9. HARUN ABU JA’FAR AL WATSIQ BILLAH (842 – 847 M)

Al-Watsiq Billah (842-847 M), Harun bin Muhammad Abu Ja'far, disebut juga Abu Al-Qasim Al-Mu'tashim bin Ar-Rasyid. Ibunya mantan budak bernama Qarathis. Al-Watsiq dilahirkan pada 20 Sya'ban 190 H. Ia menjadi khalifah berdasarkan wasiat ayahnya, dan dilantik pada 19 Rabiul Awwal  227 H.

Pada 231 H, Al-Watsiq mengirimkan surat kepada Gubernur Basrah, memerintahkannya untuk kembali menguji para imam dan para muadzin tentang masalah Al-Qur'an yang dianggap makhluk. Dalam hal ini dia melanjutkan pendapat pendahulunya yang menganggap Al-Qur'an itu makhluk. Namun dia bertobat di akhir masa jabatannya.

Pada tahun ini, Ahmad bin Nashr Al-Khazai, seorang ahli hadits dibunuh. Ia dibawa dari Baghdad menuju Samarra dengan tangan diborgol. Al-Watsiq bertanya tentang Al-Qur'an bukan makhluk. Ahmad bin Nashr juga ditanya tentang apakah Allah dilihat dengan mata kepala sendiri di Hari Kiamat atau tidak. Ahmad menjawab dengan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Allah bisa dilihat.

Mendengar semua jawaban itu, Al-Watsiq berkata, "Engkau berbohong!"

"Sebenarnya engkau sendiri yang berbohong," balas Ahmad.

Al-Watsiq berkata, "Celaka kamu! Apakah Allah akan dilihat sebagaimana dilihatnya makhluk yang serba terbatas dan Allah juga menempati satu tempat, serta bisa dipandang oleh orang-orang yang melihat. Sesungguhnya aku tidak percaya kepada Tuhan yang memiliki sifat-sifat demikian sebagaimana yang engkau sebutkan."

Orang-orang Muktazilah yang hadir di tempat itu mengatakan bahwa Ahmad bin Nashr halal untuk dibunuh. Karena itulah Al-Watsiq memerintahkan kepada pengawalnya untuk segera membunuh Ahmad.

Pada tahun ini pula Al-Watsiq melepaskan tawanan Muslim dari negeri Romawi sebanyak 1.600 orang. Ibnu Abi Duad, tangan kanan Al-Watsiq, yang menjaga tahanan berkata, "Barangsiapa di antara para tawanan yang mengatakan Al-Qur'an itu makhluk, lepaskanlah. Barangsiapa yang menolak, biarkanlah dia tetap sebagai tawanan."

Al-Khatib berkata, "Ahmad bin Duad banyak mengendalikan tindakan-tindakan Al-Watsiq. Inilah yang membuat Al-Watsiq sering bertindak sangat keras terhadap orang-orang yang menolak mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk." Namun diriwayatkan bahwa pada akhir hayatnya dia bertobat.

Mengenai tobatnya ini riwayat lain menyebutkan bahwa ada seseorang laki-laki yang dibawa kepada Al-Watsiq. Orang tersebut diborgol dengan besi sejak dibawa dari negerinya. Saat dihadapkan pada Al-Watsiq, saat itu pula Ibnu Duad hadir.

Sang tawanan berkata, "Beritahukan kepadaku tentang seruan kalian kepada manusia itu, apakah Rasulullah mengetahuinya, namun beliau tidak menyerukannya kepada manusia, atau beliau sama sekali tidak mengetahuinya?

Ibnu Abi Duad berkata, "Rasulullah pasti tahu tentang itu."

Sang tawanan membalas, "Rasulullah mampu untuk tidak menyeru manusia kepada apa yang diketahuinya, sedangkan kalian tidak mampu!"

Orang-orang yang berada di tempat itu bungkam. Sedangkan Al-Watsiq tertawa lalu berdiri dan menutup mulutnya. Dia masuk kamar dan menyelonjorkan kakinya sambil berkata, "Rasulullah mampu untuk tidak menyeru kepada manusia kepada apa yang beliau ketahui, sedangkan kita tidak mampu."

Al-Watsiq memerintahkan pembantunya agar menghadiahkan uang sebanyak 300 dinar kepada orang tersebut. Dia memerintahkan pembantunya untuk mengantarkan kembali orang itu ke negerinya. Sejak itulah Al-Watsiq tidak pernah menguji siapa pun tentang kemakhlukan Al-Qur'an. Ibnu Abi Duad merasa terpukul. Sejak itu dia tidak mendapatkan posisi lagi.

Laki-laki yang diborgol itu adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Muhammad Adzrahmi, yang tak lain adalah guru Imam Abu Dawud dan Imam Nasa'i (dua periwayat hadits yang terkenal).

Al-Watsiq memiliki wawasan yang luas dan memiliki syair-syair yang indah. Ia juga banyak mengetahui tentang berbagai persoalan. Dia memiliki suara yang bisa diubah menjadi seratus macam, ahli memainkan musik, serta ahli meriwayatkan syair dan kisah kasih. Al-Watsiq meninggal dunia pada Rabu 24 Dzulhijjah 232 H, di Samarra.

 

10. AL MUTAWAKKIL ‘ALALLAH (847 – 861 M)

Nama lengkap Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) adalah Al-Mutawakkil Alallah, Ja'far, Abu Al-Fadhl bin Mu'tashim bin Ar-Rasyid. Ibunya seorang mantan budak bernama Syuja'. Al-Mutawakkil lahir pada 205 H. Riwayat lain menyatakan pada 207 H. Ia dilantik sebagai khalifah pada 24 Dzulhijjah 232 H setelah wafatnya Al-Watsiq.

Berbeda dengn para pendahulunya yang cenderung kepada paham Muktazilah, Khalifah Al-Mutawakkil lebih cenderung kepada Ahlus Sunnah. Hal ini dilakukannya dengan cara banyak membantu mereka yang memiliki akidah dan pandangan Ahlus Sunnah. Mencabut aturan yang mengharuskan setiap orang untuk mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk. Perintah ini disebarkan ke seluruh wilayah kekuasaannya pada 234 H.

Khalifah Al-Mutawakkil hidup sezaman dengan Abu Tsaur, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibrahim bin Al-Munzhir Al-Hizami, Ishaq Al-Muhsil An-Nadim, Abdul Malik bin Habib (salah seorang imam dari kalangan mazhab Maliki), Abdul Azis bin Yahya Al-Ghul (salah seorang murid terbesar Imam Syafi'i), Abu Utsman bin Manzini (pakar ilmu nahwu), dan Ibnu Kullab, seorang tokoh ilmu kalam.

Khalifah Al-Mutawakkil sangat menghormati para ulama Ahlus Sunnah. Ia pernah mengundang mereka menghadiri pengajian yang dihadiri sekitar 30.000 orang. Dalam acara tersebut, ada yang memberikan pujian kepada Khalifah Al-Mutawakkil sampai melewati batas dengan berujar, "Khalifah yang benar-benar khalifah itu ada tiga; Abu Bakar pada saat memerangi orang-orang yang murtad dari ajaran Islam, Umar bin Abdul Azis saat membebaskan manusia dari kezaliman, dan Al-Mutawakkil yang kembali menghidupkan sunnah Rasulullah serta mengubur orang-orang Jahmiyah."

Pada 235 H, Al-Mutawakkil mewajibkan kepada setiap orang Kristen untuk memakai gelang sebagai pengenal bahwa mereka orang Kristen. Pada 237 H, dia memerintahkan bawahannya di Mesir untuk mengganti Abu Bakar bin Al-Laits, seorang Hakim Agung Mesir karena keaktifannya sebagai salah seorang pemimpin gerakan Jahmiyah yang sesat, kemudian diganti dengan Al-Harits bin Miskin, salah seorang murid kenamaan Imam Malik.

Pada 243 H, Khalifah Al-Mutawakkil datang ke Damaskus. Ia sangat tertarik dengan pemandangan kota itu sehingga memerintahkan orang-orangnya untuk membangun sebuah istana di Dariya. Sang Khalifah menetap di Damaskus selama dua sampai tiga bulan, untuk seterusnya kembali ke Irak.

Al-Mutawakkil juga dikenal sebagai seorang yang sangat pemurah dan banyak dipuji karena kemurahan hatinya dalam memberikan bantuan berupa uang dan harta benda. Tentang hal ini, Marwan bin Abu Al-Janub pernah berkata dalam syairnya, "Tahanlah uluran tanganmu dariku dan jangan tambah lagi, karena aku khawatir engkau bersikap sombong dan melakukan kezaliman."

Al-Mutawakkil berkata, "Aku tidak akan menahan tanganku untuk memberi hingga kamu tenggelam dalam kedermawananku."

Khalifah Al-Mutawakkil sangat mencintai istrinya yang bernama Qabihah yang tak lain adalah ibu dari anaknya, Al-Mu'taz. Sebagaimana biasa, sudah menjadi tradisi dalam Bani Abbasiyah untuk mempersiapkan pengganti mereka sebagai khalifah, Al-Mutawakkil melantik anaknya, Al-Muntashir kemudian Al-Mu'taz lalu Al-Muayyad menjadi khalifah setelah ia wafat kelak. Namun kemudian Al-Mutawakkil berubah pikiran dan lebih mengutamakan Al-Mu'taz karena kecintaannya kepada ibunya.

Ia meminta Al-Muntashir untuk menarik dirinya dan menunggu giliran setelah Al-Mu'taz. Namun Al-Muntashir tidak bisa menerima keinginan ayahnya. Keputusan itu pun ditentang majelis yang dibentuk Al-Mutawakkil sendiri. Al-Mutawakkil langsung menurunkan posisi Al-Muntashir dengan paksa.

Peristiwa ini bersamaan dengan ketidaksenangan orang-orang Turki terhadap Al-Mutawakkil karena beberapa masalah antara mereka. Inilah yang memicu kesepakatan orang-orang Turki dan Al-Munthasir untuk membunuh sang khalifah, ayahnya sendiri.

Suatu malam masuklah lima orang Turki ke tengah-tengah tempat Al-Mutawakkil bersenang-senang, lalu mereka membunuhnya. Turut menjadi korban juga seorang menterinya yang bernama Al-Fath bin Khaqan. Peristiwa tragis ini terjadi pada 5 Syawwal 247 H dan merupakan episode terakhir dari hidup salah seorang khalifah Bani Abbasiyah yang membebaskan negerinya dari pengaruh kaum Muktazilah, Jahmiyah, dan beberapa aliran sesat lainnya, serta menghidupkan kemurnian Al-Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad Saw.

 

11. AL MUNTASHIR BILLAH (861 – 862)

Al-Muntashir memiliki wajah manis, mata indah, hidung mancung, dan tinggi semampai. Dia sangat kharismatik, cerdas, dan gemar melakukan kebaikan-kebaikan serta tidak suka berbuat zalim. Ia memperlakukan keturunan Ali bin Abi Thalib dengan baik, membolehkan kembali ke Makam Husain bin Ali bin Abi Thalib yang pernah dilarang oleh pendahulunya, Khalifah Al-Mutawakkil.

Al-Muntashir Billah (861-862 M) bernama asli Muhammad dan sering dipanggil Abu Ja'far atau Abu Abdillah. Ia adalah anak Al-Mutawakkil bin Ar-Rasyid, ibunya seorang wanita mantan budak berasal dari Romawi bernama Habasyiyah.

Ia dilantik menjadi khalifah kesebelas Bani Abbasiyah pada Syawwal 247 H. Dia memberhentikan dua saudaranya; Al-Mu'taz dan Al-Mu'ayyad dari posisi sebagai putra mahkota setelah ditetapkan sebelumnya oleh Al-Mutawakkil. Pemecatan ini dilakukan atas desakan Wazir Washif dan Panglima Begha yang berasal dari Turki.

Ketika akan memecat keduanya dari bursa calon khalifah, dengan terang-terangan Al-Muntashir mengatakan kepada kedua saudaranya itu bahwa dia dipaksa oleh Wazir Washif dan Panglima Begha.

Di hadapan rakyatnya, Al-Muntashir menunjukkan sikap baik, dermawan, adil, jujur dan penyabar, sehingga ia disenangi rakyat. Kata-kata hikmah yang pernah ia lontarkan antara lain, "Kelezatan pengampunan itu jauh di atas kelezatan membuat kesulitan-kesulitan. Dan sejelek-jelek perbuatan orang yang mampu dan kuasa adalah membalas dendam."

Khalifah Al-Muntashir bekerjasama dengan orang-orang Turki untuk merebut kekuasaan dengan cara membunuh ayahnya, Al-Mutawakkil, karena pencopotan dirinya dari putra mahkota. Namun saat kekuasaan telah diraih, Al-Muntashir justru mulai menjelek-jelekkan orang Turki sehingga mereka berencana membunuh Al-Muntashir.

Upaya pembunuhan yang dilakukan orang-orang Turki terhadap Al-Muntashir adalah dengan cara memperalat seorang dokter istana yang bernama Ibnu Thayfur dengan imbalan uang sebanyak 30.000 dinar. Dokter tersebut melakukan aksinya saat mengoperasi Khalifah Al-Muntashir dengan menggunakan pisau beracun. Ada juga yang menyebutkan bahwa kematian Al-Muntashir karena dicekik. Riwayat lain menyatakan bahwa Al-Muntashir meninggal karena memakan buah beracun.

Tak banyak yang bisa dilakukan Khalifah Al-Muntashir. Dia hanya memerintah selama kurang lebih enam bulan, sampai akhirnya dibunuh oleh orang-orang Turki yang dulu membantunya membunuh ayah sendiri.

Al-Muntashir meninggal pada 5 Rabiul Awwal 248 H, saat berumur kurang lebih 26 tahun. Saat kematian menjelang, ia berkata, "Wahai ibuku, telah lenyaplah dunia dan akhirat dari diriku. Kubunuh ayahku, maka aku pun kini dibunuh."

Kematian Al-Muntashir tak jauh beda dengan kematian Kaisar Persia yang bernama Syairawaih. Dia membunuh ayahnya lalu berkuasa hanya sekitar enam bulan. Al-Muntashir membunuh ayahnya dan memerintah hanya sekitar enam bulan pula, kemudian dibunuh.

Ada kisah menarik terkait hal ini. Suatu ketika, Khalifah Al-Muntashir meminta pembantunya mengeluarkan permadani dari dalam gudang ayahnya untuk dibentangkan. Ketika salah satu permadani itu dibentangkan, ternyata ada bungkusan di dalamnya dengan gambar seorang laki-laki Persia dengan kepala bermahkota. Di sekitarnya terdapat tulisan bahasa Persia.

Khalifah Al-Muntashir meminta tulisan itu dibaca dan diterjemahkan. Ketika melihat tulisan itu, seorang penerjemah mengernyitkan dahinya. Semula ia tak mau membacakan, tetapi karena dipaksa khalifah, akhirnya ia membacanya. Tulisan itu berbunyi, "Saya adalah Syairawaih anak Kisra Hurmuz. Saya telah membunuh ayah saya dan saya tidak menikmati kekuasaan kecuali enam bulan saja."

Mendengar hal itu, wajah Khalifah Al-Muntashir langsung berubah merah. Ia pun langsung memerintahkan untuk membakar permadani itu. Dan sejarah pun mencatat, Khalifah Al-Muntashir yang pernah membunuh ayahnya pun tewas. Usia pemerintahannya hanya enam bulan!

 

12. AL MUSTA’IN BILLAH (862 - 866 M)

Khalifah Al-Musta'in (862-866 M) dilahirkan pada 221 H. Ibunya seorang mantan budak bernama Mukhariq. Al-Musta'in memiliki wajah putih, namun mukanya banyak terdapat bekas cacar. Demikian dituturkan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa'.

Nama lengkapnya adalah Al-Musta'in Billah, Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Mu'tashim bin Ar-Rasyid yang merupakan saudara Al-Mutawakkil. Al-Musta'in dibaiat menjadi khalifah keduabelas Bani Abbasiyah oleh para komandan pasukan perang setelah meninggalnya Al-Muntashir. Mereka berkata, "Jika kalian hendak menobatkan salah seorang anak Al-Mutawakkil, maka tidak ada lagi yang tersisi dari mereka. Tidak ada lagi keturunan Al-Mutawakkil kecuali Ahmad bin Al-Mu'tashim, salah seorang guru kita."

Al-Musta'in dikenal sebagai orang yang berperangai baik, memiliki sifat-sifat yang utama, sangat fasih berbicara, memiliki wawasan dan pandangan yang cukup luas, baik budi pekertinya, dan dekat dengan rakyat. Al-Musta'in merupakan penggagas pakaian lengan lebar yang luasnya sampai tiga jengkal. Ia adalah khalifah yang pertama kali mengecilkan topi yang sebelumnya berukuran panjang.

Ketika dibaiat menjadi khalifah, usianya baru 28 tahun. Masa-masa emas kekuasaannya hanya berlangsung awal-awal 251 H. Al-Musta'in kemudian membunuh Wazir Washif dan Panglima Begha. Keduanya merupakan pemuka Turki yang sangat berpengaruh saat itu. Begitu juga dengan Baghir yang merupakan pembunuhan Al-Mutawakkil, berhasil diasingkan.

Begitu Washif dan Begha terbunuh, orang-orang Turki sangat marah, sehingga Al-Musta'in memindahkan pusat pemerintahannya dari Samarra ke Baghdad. Orang-orang Turki menyatakan ketundukannya asalkan Al-Musta'in mau kembali ke Samarra. Khalifah Al-Musta'in menolak tawaran tersebut, sehingga orang-orang Turki berniat untuk memenjarakan dan membunuhnya.

Orang-orang Turki mengatur skenario dengan cara mengangkat Al-Mu'taz sebagai khalifah dengan maksud mengadu domba antara dia dan Al-Musta'in. Al-Mu'taz menyiapkan pasukan melawan Al-Musta'in dan rencana ini mendapat dukungan dari penduduk Baghdad.

Pertempuran pun terjadi antara pasukan Al-Musta'in dengan Al-Mu'taz. Pertempuran yang berlangsung selama beberapa bulan itu menghabiskan banyak korban nyawa dan harta di kedua belah pihak. Harga-harga barang melonjak naik, perekonomian pun terpuruk. Sehingga di mana-mana timbul gerakan protes rakyat menuntut pengunduran diri Al-Musta'in.

Mayat-mayat yang bergelimpangan dan tidak segera dikuburkan, menimbulkan wabah penyakit yang menulari para penduduk sekitarnya. Akibatnya,  karena lemahnya dukungan dari rakyat dan disertai dengan peperangan yang terus-menerus melawan Al-Mu'taz, kekuasaan Al-Musta'in sedikit demi sedikit melemah.

Mengetahui kekuasaan Al-Musta'in kian lemah, orang-orang Turki menggunakan strategi baru dengan cara berdamai. Mereka mengutus Ismail, salah seorang hakim yang saat itu ditemani beberapa tokoh masyarakat. Ismail dan kawan-kawannya menetapkan syarat-syarat pengunduran diri Al-Musta'in. Akhirnya, berkat desakan mereka, Al-Musta'in mengundurkan diri pada 252 H. Al-Musta'in dipenjarakan di Wasith, kemudian dikembalikan ke Samarra.

Khalifah Al-Mu'taz yang kurang puas dengan pengunduran diri Al-Musta'in, bermaksud membunuhnya dengan mengutus Ahmad bin Thulun. Namun Ahmad bin Thulun menolak. "Demi Allah, saya sama sekali takkan pernah membunuh salah seorang anak khalifah," ujarnya.

Akhirnya diutuslah Sa'id bin Al-Hajib sehingga Al-Musta'in terbunuh pada bulan Syawwal tahun itu juga.

 

13. AL MU’TAZ BILLAH (866 – 869 M)

Al-Mu'taz Billah (866-869 M) dilahirkan pada 231 H. Ibunya seorang mantan budak yang berasal dari Romawi bernama Qabihah. Dia dilantik menjadi khalifah ketika Al-Musta'in Billah menyatakan mundur dari kursi khalifah pada 4 Muharram 252 H. Saat itu umurnya baru menginjak 19 atau 20 tahun.

Al-Mu'taz Billah bernama Muhammad. Namun ada pula yang menyebutnya Zubair. Dia biasa dipanggil dengan Abu Ubaidillah bin Al-Mutawakkil bin Al-Musta'in bin Ar-Rasyid dan merupakan khalifah Bani Abbasiyah ke-13.

Dia berwajah tampan. Ali bin Harb, salah seorang guru Al-Mu'taz dalam bidang hadits berujar, "Saya belum pernah melihat seorang khalifah yang lebih tampan darinya."

Ia adalah khalifah pertama yang menghiasi kendaraan-kendaraannya dengan emas setelah khalifah sebelumnya hanya menghiasinya dengan perak yang sangat tipis.

Pada tahun pemerintahannya, Asynas, orang yang diangkat Al-Watsiq sebagai penguasai Sulthanah, meninggal dunia. Dia meninggalkan harta 500.000 dinar. Al-Mu'taz mengambil harta itu dan mencopot Muhammad bin Ath-Thahir dari kedudukannya. Begitu juga Bugha Asy-Syarabi yang kemudian melakukan pemberontakan dan berhasil dikalahkan oleh Al-Mu'taz.

Pada bulan Rajab tahun itu pula, Al-Mu'taz mencopot adiknya, Al-Muayyad, dari kedudukannya serta memenjarakannya. Al-Muayyad yang waktu itu menjadi Panglima Besar di Baghdad dianggap berbahaya. Ketika diundang ke Samarra, ia ditangkap lalu dijebloskan ke dalam penjara. Di tempat itu ia meninggal lantaran disiksa.

Al-Mu'taz sangat lemah dalam menghadapi orang-orang Turki. Apalagi ketika para pemimpin mereka menemuinya dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kami minta dana untuk memindahkan Shalih bin Washif."

Al-Mu'taz yang sangat takut dengan Shalih bin Washif segera meminta dana kepada ibunya, namun ibunya menolak sedangkan harta di Baitul Mal saat itu telah habis terkuras.

Karena permintaan mereka tak dikabulkan, orang-orang Turki segera membuat kesepakatan untuk mencopot khalifah dari kekuasaannya. Hal ini disetujui oleh pemimpin mereka, Shalih bin Washif dan Muhammad bin Bugha.

Para pemberontak akhirnya menyerang istana khalifah yang saat itu memang tak mempunyai tentara yang kuat lagi, sehingga dengan mudah mereka dapat menangkap Khalifah Al-Mu'taz dan memperlakukannya dengan tidak layak. Mereka memaksa khalifah untuk mengundurkan diri seraya berkata, "Nyatakan olehmu bahwa engkau mengundurkan diri!"

Lalu mereka menghadirkan hakim Ibnu Abi Syawarib dan beberapa orang saksi untuk menyaksikan pencopotan Al-Mu'taz dari kekuasaannya. Kemudian mereka mendatangkan Muhammad bin Al-Watsiq dari Baghdad ke pusat khilafah di Samarra. Akhirnya, Al-Mu'taz menyerahkan kursi khilafah kepada Muhammad bin Al-Watsiq dan menyatakan baiatnya.

Mereka tidak puas hanya dengan pengunduran diri Al-Mu'taz dan pembaiatan Muhammad bin Al-Watsiq. Para pemberontak menyiksa Al-Mu'taz setelah lima hari disingkirkan dari kekuasaannya. Mereka memasukkan Al-Mu'taz ke kamar mandi dan memaksanya mandi hingga waktu yang sangat lama.

Setelah dipaksa mandi, Al-Mu'taz merasa sangat kehausan, namun mereka tidak memberinya minum. Akhirnya, Al-Mu'taz meninggal karena kehausan. Peristiwa tragis ini terjadi pada bulan Sya'ban tahun 255 H.


Bagikan Halaman ini