Otogadget Generation
  • Posted: 25/01/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Otogadget Generation

OTOGADGET GENERATION

Salah satu berita yang tengah menjadi trending topic ketika tulisan ini dibuat adalah kabar tentang Lamborghini Gallardo yang kehilangan kendali dan menabrak gerobak penjual susu di Surabaya. Seorang tewas di tempat, sedangkan dua lainnya terluka parah akibat tabrakan tersebut. Menurut saksi mata, pemuda berusia 24 tahun yang mengemudikan supercar tersebut kehilangan kendali setelah mobilnya bersenggolan dengan sebuah Ferrari, yang menjadi lawannya dalam balapan liar pagi-pagi. Supercar yang sedikitnya berharga 5 miliar rupiah itu pun ringsek, dan meninggalkan kesedihan bagi keluarga korban.

Kita kadang mendapati sekelompok pemuda yang mengikuti gaya hidup ala ‘Fast and Furious’. Tiap malam Ahad, mereka menghabiskan waktunya berkeliling kota mengendarai mobil-mobil mewahnya. Balap mobil jalananan menjadi salah satu aksi nekat yang mereka lakukan sekadar untuk dapat disebut “keren”.

Ada pula para pemuda yang mengidentifikasian modernitas dengan kecanggihan gadget terbaru. Perbincangan yang paling menarik bagi mereka adalah seputar spesifikasi dan fitur smartphone terbaru, meski tak semua spesifikasi dan fitur yang tersedia bisa mereka manfaatkan.

Begitulah, supercar dan smartphone menjadi simbol kesuksesan di masyarakat kita. Jenis mobil yang dikendarai dan smartphone yang digenggam seseorang dianggap sebagai ukuran status sosialnya. Ketiadaan barang-barang tersebut pada diri seorang pemuda selalu diasosiasikan dengan kegagalannya dalam hidup ini, sehingga ia harus bersiap untuk menjadi bahan tertawaan dan ejekan teman-temannya. Mobil mewah dan smartphone dianggap sebagai sarana untuk mendatangkan rasa hormat dan memamerkan kekayaan.

Konsep arogansi dan kebanggaan ini berakar dari paham individualisme dan merupakan salah satu dampak buruk dari peradaban kapitalistik. Suatu hal yang lumrah bagi seseorang yang hidup di tengah masyarakat kapitalis untuk menghabiskan hidupnya semata-mata untuk mempertahankan penampilannya. Mereka akan merasa iri terhadap orang lain yang memiliki mobil sport terbaru di garasinya atau gadget paling canggih dalam genggamannya.

Islam tidak melarang manusia untuk memperbanyak harta kekayaan dan mencari uang. Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah pernah melihat salah seorang sahabatnya mengenakan pakaian yang compang-camping. Beliau kemudian meminta orang tersebut untuk menunggunya sampai seluruh jamaah pergi meninggalkan masjid. Lalu beliau menyuruh orang tersebut, “Singkaplah sajadahku dan ambillah yang ada di bawahnya.” Orang tersebut menyingkap sajadah dan mendapati uang 1000 dirham di bawah sajadah tersebut. Abu Hanifah menyuruhnya, “Ambillah uang dirham tersebut dan ubahlah keadaanmu dengan uang tersebut.” Orang tersebut menjawab bahwa dirinya termasuk orang-orang yang berkecukupan dan tidak membutuhkan uang. Maka Abu Hanifah berkata, “Apakah kamu belum mendengar hadits Nabi,

Sesungguhnya Allah SWT mencintai hamba-Nya yang bertaqwa lagi kaya, yang menyembunyikan simbol-simbol kekayaannya.”

Dengan demikian, maka engkau harus mengubah keadaanmu agar teman-temanmu tidak merasa sedih dengan keadaanmu.”

Perlu juga dijelaskan di sini bahwa Islam tidak melarang kepemilikan kendaraan untuk kepentingan transportasi, baik kendaraan yang “gemerlap” nan mewah maupun yang tidak. Karena, mobil adalah suatu benda dan tidak bersifat khusus milik peradaban tertentu, sehingga bukan merupakan benda yang diharamkan. Hanya saja, mobil dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik untuk mengantar anak-anak mengaji ke masjid, atau untuk berkeliling kota dengan niat menarik perhatian dan menimbulkan rasa iri. Begitu pun, smartphone mubah saja dimiliki. Meski demikian, smartphone bisa digunakan untuk mengakses konten-konten dakwah atau mengakses situs-situs porno.

Dalam Islam, sifat sombong merupakan sesuatu yang harus dihindari serta termasuk hal yang diharamkan karena bertolak belakang dengan kepribadian Islam. Kesombongan tidak selalu timbul dari harta kekayaan, tetapi muncul dari niat yang dibawa oleh seseorang. Bisa jadi seorang Muslim rajin mencari uang sehingga ia menjadi orang yang kaya, namun ia tetap menjadi seorang yang sederhana dan memiliki kepribadian Islam. Namun demikian, bila niat yang menjadi alasan seseorang dalam mencari harta kekayaan dan mengendarai mobil mewah adalah untuk meninggikan kedudukannya di antara orang banyak, maka tak pelak lagi hal ini adalah kesombongan.

Para sahabat dahulu merasa takut menerima pujian yang berlebihan. Abu Bakar ra pernah berkata, “Ya Allah, engkau lebih tahu tentang diriku daripada diriku sendiri. Dan aku lebih tahu tentang diriku daripada mereka. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan janganlah engkau hisab diriku atas pujian-pujian yang tak semestinya mereka berikan kepadaku.”

Kaum muda harus didorong untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dan meraih ridha Allah swt. Yang menjadi tokoh panutan para pemuda Muslim seharusnya adalah para sahabat, bukannya artis-artis.

Harus sungguh-sungguh kita pahami, bahwa para sahabat dan orang-orang shalih yang terdahulu tidak akan pernah menjadi tokoh panutan di masyarakat ini, sampai kita berhasil mengungkapkan hakikat landasan masyarakat kapitalis ini serta menjelaskan kekeliruan dan kebobrokannya. Hidup di tengah-tengah masyarakat sekular kapitalis seperti ini membuat kaum Muslim menghadapi berbagai macam ujian.

Oleh karena itu, kehormatan dan kemulian dalam Islam diperoleh karena adanya ketaqwaan dan kepribadian Islam. Hal-hal inilah yang diperlombakan oleh para sahabat, bukannya kepemilikan harta kekayaan.

Ahmad S


Bagikan Halaman ini