KONTRIBUSI ALQUR’AN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
  • Posted: 24/08/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

KONTRIBUSI ALQUR’AN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Oleh : Ustadz Lukman al Hakim, Lc.

Al-Qur’an dan bahasa Arab ibarat dua sisi mata uang. Keterikatan antara keduanya seperti ruh dan jasad. Allah SWT menurunkannya dalam bahasa Arab kepada nabi Muhammad SAW yang berasal dari bangsa Arab sebagai petunjuk buat seluruh umat manusia. Di dalamnya terdapat nilai-nilai, aqidah, aturan-aturan muamalah, kisah-kisah umat terdahulu, informasi akhir zaman, dan lainnya yang dijelaskan dengan menggunakan bahasa Arab.

Memahami isi al-Qur’an mustahil dicapai tanpa mengetahui bahasa Arab. Sebagaimana untuk menikmati keindahan sastranya tidak mungkin dirasakan melainkan dengan memahami seluk beluk sastra Arab itu sendiri. Kaidah fiqih mengatakan Maa laa yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib (sesuatu yang kewajiban tidak terpenuhi melainkan dengannya maka sesuatu itu menjadi wajib). Hal-hal terkait keyakinan, arahan-arahan hukum, norma-norma sosial, nilai-nilai dan sebagainya adalah muatan al-Qur’an yang wajib diketahui dan diimplementasikan kaum muslimin dalam kehidupan. Maka anjuran untuk mempelajari bahasa arab menjadi keniscayaan bagi mereka saat hendak menyelami kandungan kitab suci ini. Umar bin Khattab berpesan; Ta’allamul arobiyyata fa-innahaa juz’un min diinikum (pelajarilah bahasa Arab karena ia adalah bagian dari agama kalian).

Al-Qur’an penggerak hakiki peradaban keilmuan Islam. Secara khusus, ilmu-ilmu dan studi kebahasaan yang terus berkembang sampai saat ini, seluruh kajiannya berpusar pada bagaimana memahami al-Qur’an dengan benar, implementatif, akurat, dan kontekstual. Termasuk dalam hal ini konsep-konsep teoritis maupun terapan yang dilahirkan dalam bidang pendidikan bahasa arab. Sastrawan arab Mesir, Mustafa Shadiq ar-Rafi’i berkata; “..kalau bukan karena al-Qur’an, tidak ada satu pun dari ilmu-ilmu alat kebahasaan ini yang dicetuskan.[1]

Nampak jelas kontribusi al-Qur’an sebagai landasan spirit lahirnya peradaban keilmuan termasuk di dalamnya disiplin pendidikan bahasa Arab. Seluk beluk kebahasaan yang datang bersama kitab agung ini memicu munculnya ragam kajian kebahasaan, baik di era klasik maupun hari ini.

Secara umum, kontribusi al-Qur’an terhadap bahasa arab terlihat jelas pada topik-topik berikut. Pertama; penyatuan dan penyaringan ragam dialek suku-arab. Kedua; pelestarian bahasa arab dari kepunahan. Ketiga; sterilisasi kosa-kata bahasa Arab dari kata-kata yang asing di pendengaran. Keempat; penanaman nilai-nilai ke-Islaman pada syair-syair Arab. Empat hal ini merupakan cikal-bakal munculnya ragam kajian kebahasaan dalam disiplin ilmu kebahasaan selanjutnya. 

Al-Qur’an dan Unsur Suara

Ibnu Jinni mendefinisikan bahasa yaitu suara yang digunakan sebuah kaum untuk menyelesaikan kebutuhan mereka. Al-Qur’an sendiri adalah wahyu yang didengarkan para sahabat nabi dari nabi Muhammad SAW. Kaum muslimin generasi awal membaca kalam ilahi itu dengan menirukan cara baca Nabi. Mereka sangat mencermati makhroj, sifat dan panjang pendek huruf yang terangkai dalam kalimat-kalimat ayat suci. Demikian seterusnya, bacaan secara tajwid ini terpelihara dari generasi ke generasi sampai hari ini.

Sejumlah buku-buku tajwid, ilmu qiro’ah dan ilmu fonologi arab telah ditulis di era klasik maupun kontemporer untuk menjaga bacaan al-Qur’an. Pada abad ketiga hijriah tahun 377 terbit buku tajwid Al-Fahrast karangan Ibnu Nadim. Berikutnya, di abad kelima menyusul beberapa buku tajwid lainnya seperti At-Tanbiih alal Lahnil Jaliy wal Khofiy karangan as-Saidy. Sebagaimana di abad yang sama terbit di Andalusia dua buku tajwid yaitu Ar-Riayah karangan Makki bin Abi Tolib al-Qoisi (437 H), dan At-Tahdiid  karangan Abu Amr Utsman bin Said ad-Daani (wafat 444 H), dan Al-Muwaddhih karangan Abdul Wahhab al-Qurtubi (wafat 461 H).

Buku-buku ilmu qira’ah telah lebih dulu ditulis oleh pakar-pakarnya saat itu seperti Al-Qosim bin Sallam, Abu Ubaid al-Qadhi Ismail bin Ishaq al-Baghdadi, dan Ibnu Jarir at-Tabari. Tak ketinggalan para pakar di bidang bahasa juga mengambil bagian, mereka adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Sibaweih, dan Ibnu Jinni.

Dengan adanya konseptualisasi ilmu-ilmu ini, maka bacaan al-Qur’an semakin terjaga. Dan pada gilirannya akan sangat membantu siapapun untuk mempelajari pengucapan huruf-huruf dan kosa-kata bahasa Arab.

Al-Qur’an dan Unsur Kata

Kata dalam al-Qur’an sebanyak 77.439 (tujuh puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh sembilan) kata. Ketika siswa berhasil menghafal al-Qur’an atau memiliki hapalan beberapa surah, itu berarti dia telah memiliki modal berupa kosa kata hidup yang dapat digunakan untuk berkomunikasi atau mengungkapkan pikirannya dalam beragam konteks, baik secara lisan maupun tulisan. Sebab umumnya kata-kata dalam al-Qur’an sangat familiar dan fungsional. Dalam al-Qur’an tidak terdapat kata-kata  atau dialek sangat asing yang berasal dari kabilah arab tertentu. Hal ini lantaran penyatuan lahjah-lahjah suku-suku Arab dan pemilihan lahjah Quraisy sebagai gantinya sudah diterapkan sejak zaman khalifah Utsman bin Affan dalam mushaf utsmani-nya.

Menguasai bacaan al-Qur’an dan mengatahui arti kata per-katanya, memahami aspek shorf dan fungsi-fungsi perubahan-nya sungguh merupakan modal besar untuk berpindah kepada level berikutnya, yaitu menguasai cara merangkai dan membuat kalimat dari kata-kata itu dan menggunakannya dalam penggunaan aktif maupun pasif.

 

Al-Qur’an dan Unsur Kalimat (tarkiib)

Sekedar memiliki kosa kota tanpa disertai kemampuan merangkai kata-kata itu sama halnya dengan memiliki bahan-bahan dan peralatan masak, namun tidak tahu bagaimana cara meracik bumbu dan mengolah masakan tersebut. Maka diperlukan skill merangkai dan mengerti kata-kata itu. Puncak dari pembelajaran bahasa Arab adalah memberikan kepada peserta didik kemampuan untuk mengungkapkan pikiran lewat ucapan atau tulisan.

Para ulama dan pakar bahasa arab klasik maupun kontemporer seringkali ber-istidlal (berargumen) dangan kalimat-kalimat al-Qur’an untuk menetapkan keabsahan sebuah kalimat tertentu. Sebuah kalimat bisa dihukumi benar cukup dengan bersandar kepada al-Qur’an, dan begitupun sebaliknya.

Kalimat dalam al-Qur’an tidaklah monoton. Sebagian satuan-satuan gramatikal-nya berfungsi sebagai varian-varian ungkapan sastra yang beraneka ragam. Di dalamnya terdapat macam-macam jenis majaz. Sebagian uslub atau gaya bahasanya dapat mendatangkan arti kontekstual. Maka bagi siapa yang sudah terbiasa dengan corak-corak kebahasaan tadi, pasti baginya akan lebih mudah untuk mempelajari ilmu-ilmu alat seperti ilmu Mantiq, Semantik, Balaghoh, ilmu Arudh wal Qofiyah, ilmu Ushul fiqh, ilmu Tafsir, dan yang lainnya. Karena pada dasarnya ilmu-ilmu tadi tidaklah dikaji, ditulis dan didalami, melainkan dengan bersandar kepada al-Qur’an.

 

Pintar Al-Qur’an  Pintar Bahasa Arab

Belajar al-Qur’an pada hakikatnya adalah belajar bahasa arab. Tujuan utama belajar bahasa Arab adalah untuk memahami al-Qur’an dan Hadits. Dengan memahami keterikatan antara al-Qur’an dan bahasa arab melalui pengkajian terhadap unsur-unsur bahasa diatas, seyogyanya usaha yang harus dilakukan berikutnya adalah mengolah unsur-unsur itu ke dalam program-program pengembangan skill.

Skill atau kemahiran berbahasa seperti; mendengar, bicara, baca dan tulis sangat mudah dimiliki oleh siapa saja yang sudah mahir dalam baca al-Qur’an. Kita hanya butuh sedikit ketekunan dan kesabaran meramu unsur-unsur tadi dengan metode pembelajaran bahasa arab yang konfrehensif dan integral. Dengan demikian semoga kita menjadi orang-orang yang dimaksud oleh Nabi SAW dalam sabdanya; “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkan-ya”. Wallohu a’lam bis showab.

 

[1] Pernyataan ini dipopulerkan kembali oleh DR. Hibr Yusuf ad-Daim, dalam Jurnal Majma’ al-lughoh al-Arobiyyah, edisi VI, 2005.


Bagikan Halaman ini