Hadir dengan Mantra “In tanshurullaha yanshurkum”
  • Posted: 10/02/2016
  • By: Administrator
  • Comments: 2

Hadir dengan Mantra “In tanshurullaha yanshurkum”

Pada medio 1991, Hidayatullah Surabaya --yang saat itu merupakan pusat Hidayatullah di Jawa-- menugaskan beberapa santrinya untuk mengembangkan dakwah di sejumlah kota di Jawa. Pada tahun itu, Hidayatullah memang baru berkembang di daerah Jawa Timur. Maka tak lain, yang menjadi tujuan dakwah para santri itu adalah daerah-daerah di Jawa lainnya. Seperti Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat. Sebut saja kota Semarang, Kudus, Gunung Kidul, Kebumen, Purwokerto, Bandung, dan kota dimana saat ini kita menuntut ilmu, Yogyakarta. Dan pada tahun 1991 inilah awal dakwah Ustadz Budi Gunawan di kota pelajar dimulai. Sebagai salah satu penerima mandat penugasan itu, ustadz Budi bertugas melanjutkan tampuk perjuangan dakwah yang telah lebih dulu dirintis oleh para pendahulunya. Yaitu ustadz Murdikan sebagai perintis awal, lalu di lanjutkan oleh ustadz Umarkhan, ustadz Hammam, dan terakhir ustadz Abdullah Azzam.

Pada tahun itu, tahun 1991, Hidayatullah Yogyakarta belum berdiri sebagai pondok pesantren seperti saat ini. Saat itu, dengan sebuah kantor yayasan di bilangan Sagan Timur dan sebuah rumah kontrakan di sekitar Jakal (Jalan Kaliurang) km. 6,5 yang menampung sejumlah anak asuh dan menyekolahkan mereka di sekolah umum, Hidayatullah Yogyakarta baru berdiri sebagai lembaga sosial kemasyarakatan. Kedua bangunan itu pun bukan milik sendiri, melainkan sekadar kontrakan. 

Kedatangan ustadz yang kini berumur kepala lima itu tidak lantas mengubah kondisi ini secara singkat. Perlu diketahui bahwa, sebagaimana para perintis Hidayatullah lainnya, ustadz Budi yang saat itu telah berkeluarga dengan dua anak, ditugaskan oleh ustadz Abdurrahman selaku pimpinan Hidayatullah Surabaya tanpa dibekali uang seperser pun sebagai modal perintisannya. Tapi hal itu tidak lantas melunturkan tekad pejuang dakwah ini. Karena tak ada kata patah arang dalam kamus seorang pejuang dakwah. Justru dengan kondisi seperti itu, membuat kedekatan dengan Sang Pencipta bertambah mesra. Selain itu, sebelum keberangkatan ke medan dakwah, terlebih dahulu para dai dibekali berbagai motivasi oleh almarhum ust. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah. Ada satu ayat yang selalu menjadi motivasi mereka: “in tanshurullaha yanshurkum”, jika kalian menolong (agama) Allah, Dia (Allah) akan menolong segala urusanmu.

Waktu terus bergulir. 4 tahun berlalu. Ustadz berperawakan tinggi itu tetap istqomah dalam jalan dakwah. Tak kenal lelah beliau menyebarkan syiar islam. Juga membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat Yogyakarta. Hingga, di tahun 1995, buah dari kepercayaan masyarakat Yogyakarta adalah terkumpulnya dana untuk membebaskan lahan seluas 250 m² dan ditambah lagi 250 m² wakaf dari (alm)Ust. Asad Humam, bapak penemu metode bacaan Iqra’. Dan segera, di atas tanah seluas 500 m² itu dibangunlah sebuah masjid yang dinamai ‘Markazul Islam’. Pembangunan ini diinspirasi oleh peristiwa hijrah Nabi ke Madinah, bahwa bangunan yang pertama kali dibangun sesampainya di sana adalah masjid. Selain masjid, dibangun juga dua buah asrama. 

Menggambarkan kondisi sekitar pondok yang kini telah memiliki tanah seluas ± 2 h.a. itu, ustadz Budi mengibaratkannya seperti di tengah hutan belantara. Listrik pada saat itu belum masuk di lingkungan pondok; jalan setapak seperti sungai kering, sehingga mobil tidak bisa masuk; di sekitar pondok pun hanya terdapat rerimbunan pohon dan ilalang. Tidak ada bangunan apapun di sekitar. Kecuali sebuah perusahaan garment, yang sampai kini masih berdiri kokoh.

Seiring berlalunya waktu, listrik akhirnya masuk ke kompleks pesantren ini. Lalu pembangunan demi pembangunan pun mulai dijalankan. Mulai dari gedung Taman Kanak-kanak (TK), yang kini digunakan sebagai gedung SD sebelah selatan, kantor SD—kini sudah dalam bentuk baru setelah di renovasi total—dan 2 gedung SD yaitu bagian barat—dulu belum bertingkat-- dan utara—kini kelas khusus. Untuk para santri, saat itu masih bersekolah di SMP-SMA di luar pondok.  Sekitar tahun 2000, pembangunan gedung baru TK dilaksanakan, yang bertempat di sebelah selatan dari gedung sebelumnya. Dan sebuah gedung lagi di sebelah timur masjid—gedung sekolah lantai satu sekarang. SD juga membangun lantai keduanya pada tahun ini. Sedang SMP-SMA belum membangun gedung. Hingga tahun 2005, baru gedung TK di sebelah timur masjid dialihfungsikan sebagai gedung SMP dan ditambah menjadi dua lantai, dengan siswa yang diambil dari santri-santri kelas 3 SMP yang terpaksa kembali duduk di bangku kelas 1 SMP.

Tapi bukan berarti perkembangan pondok pesantren HIdayatullah Yogyakarta ini, yang sebelumnya hanyalah sebuah lembaga sosial kemasyarakatan, lalu berubah menjadi sebuah lembaga pendidikan, berjalan mulus. Diakui memang oleh ustadz Budi, dahulu saat Hidayatullah baru berbentuk yayasan, masyarakat pada umumnya menerima dan mendukung penuh kegiatan Hidayatullah. Tapi seiring berubahnya menjadi lembaga pembelajaran, respon masyarakat mulai berubah. Tak sedikit dari mereka yang menentang, bahkan tak sudi untuk memberikan tanda tangan surat tidak keberatan. Hal ini didapati pada sekolah-sekolah lain karena mereka takut akan tersaingi. Tapi alhamdulillah, hal itu tidak lantas menghalangi berdirinya infrastuktur-infrastuktur pendidikan di Hidayatullah Yogyakarta ini.

Kini, dari titik nol itu telah berubah menjadi sebuah komplek pembelajaran yang lengkap dan berkompeten di dunia pendidikan. Mulai dari pendidikan anak usia dini, hingga madrasah aliyah. Bahkan dalam nilai UN pertama kalinya, generasi awal MTs-MA Hidayatullah  mampu menduduki peringkat kedua se-kabupaten Sleman. Bahkan siswa lulusan pertama MA Hidayatullah berhasil diterima di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan berbagai perguruan tinggi lainnya di Yogyakarta. (Faza Auliya Robby)

 


Bagikan Halaman ini