Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu.

Saat ini kita sedang berada di akhir zaman, di mana realitas kehidupan umat Islam sarat dengan beban problem yang sangat kompleks. Pangkal penyebabnya adalah dua virus yang diistilahkan oleh para ulama dengan ‘syubhat’ dan ‘syahwat’.

Syubhat adalah virus penyakit yang domainnya adalah pemahaman atau pemikiran. Ini terjadi ketika landasan pemahaman atau pemikiran umat dalam kehidupan keagamaannya sudah tidak mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunnah secara benar. Ia diklaim sebagai ajaran Islam, atau sesuatu yang islami, padahal sejatinya ia merupakan virus berbahaya yang telah berhasil disuntikkan ke dalam tubuh umat Islam oleh musuh-musuhnya. Apa yang diistilahkan dengan ‘sipilis’ yang merupakan akronim dari sekularisme, pluralisme dan liberalisme, adalah bentuk nyata dari virus syubhat di atas.

Sedangkan syahwat adalah virus penyakit yang domainnya kesenangan dan perilaku. Hal ini terjadi ketika umat Islam telah menghamba kepada dunia dan suka menuruti dorongan hawa nafsunya. Segala potensi dan sumber daya yang dimilikinya dikerahkan untuk memenuhi hasrat dan dorongan hawa nafsunya tersebut. Apa yang diistilahkan dengan hedonisme misalnya, ia adalah perwujudan dari penghambaan kepada hawa nafsu yang telah menjadi jalan dan gaya hidupnya.

Kedua penyakit di atas telah sedemikian rupa menyerang tubuh umat Islam hingga masuk ke semua sektor kehidupan. Sehingga, usaha-usaha untuk mengatasi penyakit tersebut harus dilakukan secara sistematis dan terpadu, dan ditangani oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Salah satu media yang sering dijadikan tumpuan harapan untuk mengatasinya adalah pendidikan. Tetapi, dalam kenyataannya, sektor pendidikan juga tidak steril dari virus penyakit tersebut. Bahkan tak sedikit jumlahnya, lembaga pendidikan tertentu justru ikut menjadi agen penyebaran virus yang sangat berbahaya itu.

Berangkat dari keprihatinan di atas, Yayasan As-Sakinah Pesantren Hidayatullah Yogyakarta berikhtiar untuk menyelenggarakan pendidikan berupa Madrasah Tsanawiyah & Madrasah Aliyah Hidayatullah. Kehadiran lembaga pendidikan ini membawa visi dan misi yang dilandasi oleh semangat untuk mengambil peran utama dalam mengatasi problematika di atas secara sistematis dan terpadu. Dengan sistem pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai tauhid, peserta didik diantarkan tidak hanya untuk memiliki keunggulan akademik (tsaqafah), tetapi, lebih jauh dan berharga, mereka dididik dan ditempa sedemikian rupa agar memiliki karakter (syakhshiyyah) yang unggul dan kokoh sesuai dengan nilai-nilai rabbaniyah yang telah diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Sehingga, nantinya mereka tidak hanya menjadi shalih (baik) bagi dirinya, tetapi menjadi mushlih (agen perbaikan) bagi kehidupan keluarga dan masyarakat secara umum. Inilah generasi penyambung mata rantai yang terputus dari risalah (misi) kenabian, sebagai warisan paling berharga yang akan menyelamatkan bumi ini dari kehancuran dan kebinasaan.

Nama ‘Hidayatullah’ bagi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah ini ‘diilhami’ oleh Kalamullah dalam Q.S. al-Baqarah ayat 120, yang menegaskan bahwa, “sesungguhnya petunjuk Allah itulah satu-satunya petunjuk yang benar”. Sedangkan ajaran dan nilai-nilai lainnya yang tidak sejalan, sejatinya hanyalah sekumpulan ‘hawa nafsu’ yang dijajakan kepada manusia untuk membawa mereka kepada kehancuran manusia kerena adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan nama ‘Hidayatullah’ dikehendaki agar institusi pendidikan ini istiqamah berada di atas ‘Petunjuk Allah’ dan secara konsisten berjuang untuk menanamkan kepada anak didiknya nilai-nilai yang terkandung dalam ‘Petunjuk Allah’ yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah yang shahih. Wallahu A’lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu.
Al Ustadz Muhammad Syakir Syafi’i


Bagikan Halaman ini